Minggu, 10 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1.301: Pussy Riot Dihukum Penjara In Absentia

Terkini, lima anggota Pussy Riot dijatuhi hukuman penjara 8–13 tahun in absentia oleh pengadilan Moskow.

Tayang:
Instagram @pussyriot
PUSSY RIOT. Lima anggota Pussy Riot dijatuhi hukuman penjara in absentia 8–13 tahun di Moskow atas aksi anti-perang yang mengkritik militer Rusia. Mereka menolak tuduhan dan menyebut persidangan bermotif politik. 

Dunia menyaksikan bahwa akar konflik masih dalam, dan jalan menuju perdamaian belum terlihat jelas.

Berikut adalah rincian lengkap peristiwa yang terjadi dalam perang Rusia-Ukraina hari ke-1.301:

1. Pussy Riot Dihukum Penjara In Absentia

Lima anggota kolektif protes feminis Pussy Riot dijatuhi hukuman penjara in absentia atas tuduhan terkait pertunjukan anti-perang yang mengkritik militer Rusia.

Pengadilan Moskow menjatuhkan hukuman antara delapan hingga 13 tahun, menurut Rolling Stone dan Mediazona.

Kasus ini bermula dari video musik “Mama, Don’t Watch TV” pada Desember 2022 yang dituding menyebarkan informasi palsu, serta pertunjukan di Munich pada April 2024 di mana potret Presiden Vladimir Putin dihina.

Kelima anggota—Maria Alyokhina, Taso Pletner, Olga Borisova, Diana Burkot, dan Alina Petrova—menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya bermotif politik.

Burkot menegaskan dukungan penuh pada karyanya, menyatakan bahwa Ukraina harus menang dan Putin harus diadili di Den Haag.

Pussy Riot adalah sebuah band punk-aktivis feminis asal Rusia yang dikenal karena menggabungkan musik, seni pertunjukan, dan aksi politik dalam bentuk protes publik yang provokatif.

Mereka bukan band konvensional dengan album dan tur rutin, melainkan sebuah kolektif seni gerilya yang menggunakan musik sebagai alat perlawanan terhadap otoritarianisme, patriarki, dan represi kebebasan berekspresi di Rusia.

Pussy Riot mengusung gaya musik yang memadukan unsur punk rock, suara eksperimental, gerakan riot grrrl, dan seni pertunjukan sebagai bentuk ekspresi politik.

Kelompok ini berbentuk kolektif terbuka, dengan figur sentral seperti Nadya Tolokonnikova, Maria Alyokhina, dan Olga Borisova yang dikenal luas dalam dunia aktivisme.

Pussy Riot menggunakan musik sebagai media protes, bukan sekadar hiburan.

Beberapa karya mereka yang paling dikenal antara lain “Punk Prayer”, “I Can’t Breathe”, dan “Mama, Don’t Watch TV”, yang menyuarakan kritik sosial dan politik secara tajam.

Baca juga: Ukraina Klaim Hancurkan Sistem Pertahanan Udara Rusia Buk-M3 Senilai Rp655 Miliar

Penampilan mereka sering dilakukan secara spontan di ruang publik—mulai dari gereja, museum, hingga jalanan—dengan mengenakan balaclava berwarna cerah sebagai simbol perlawanan dan anonimitas.

2. Serangan Rusia di Ukraina Tewaskan 2 Orang

Serangan Rusia di Ukraina menewaskan dua orang dan melukai sedikitnya sembilan lainnya, kata pejabat setempat.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved