Kamis, 23 April 2026

Konflik Palestina Vs Israel

2 Tahun Perang di Gaza, Ini Data Jumlah Korban dan Kerusakan yang Ditimbulkan oleh Israel

2 tahun sejak Israel melancarkan perang besar-besaran di Gaza, lebih dari 69.000 orang tewas, ratusan ribu lainnya luka-luka, dan rumah-rumah hancur.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS
Generated by AI
PERANG DI GAZA - Infografis data jumlah korban dan kerusakan akibat serangan Israel di Gaza selama 2 tahun terakhir, dibuat dengan AI pada 7 Oktober 2025. Dua tahun perang di Gaza, lebih dari 67 ribu warga Palestina tewas dan 169 ribu lainnya luka-luka. 

Analisis satelit oleh UNOSAT PBB menunjukkan bahwa hingga 8 Juli 2025, hampir 78 persen bangunan di Gaza telah hancur.

62 persen penduduk tidak memiliki dokumen kepemilikan properti, proses rekonstruksi diperkirakan akan sangat sulit.

Banyak keluarga menghadapi kemungkinan pengungsian permanen, bahkan jika rekonstruksi suatu hari dimulai.

Menurut penilaian Bank Dunia yang dirilis Februari 2025, kerusakan fisik akibat pemboman Israel mencapai US$55 miliar, mencakup rumah, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur publik di seluruh Jalur Gaza.

Pendidikan Lumpuh Total

Sistem pendidikan Gaza runtuh akibat perang.

Sekitar 658.000 anak usia sekolah dan 87.000 mahasiswa kehilangan akses belajar karena sekolah dan kampus hancur.

Sedikitnya 780 staf pendidikan tewas, dan 92 persen sekolah kini memerlukan rekonstruksi total.

Lebih dari 2.300 fasilitas pendidikan, termasuk 63 gedung universitas, telah hancur.

Bangunan yang tersisa kini digunakan sebagai tempat berlindung bagi pengungsi.

Ribuan Orang Ditahan di Penjara Israel

Lebih dari 10.800 warga Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel dalam kondisi yang digambarkan kelompok HAM sebagai tidak manusiawi, termasuk 450 anak dan 87 perempuan.

Sebagian besar ditangkap dalam penggerebekan di Gaza atau di Tepi Barat yang diduduki.

Banyak dari mereka ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan.

Sedikitnya 3.629 warga Palestina dipenjara di bawah penahanan administratif—kebijakan yang memungkinkan Israel menahan seseorang tanpa batas waktu berdasarkan “bukti rahasia”.

Tempat Paling Mematikan bagi Jurnalis

Hampir 300 jurnalis dan pekerja media tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Media asing dilarang memasuki wilayah kantong tersebut, kecuali beberapa reporter yang menyertai tentara Israel di bawah pengawasan dan sensor militer ketat.

Menurut Proyek Biaya Perang Universitas Brown, jumlah jurnalis yang tewas di Gaza melebihi total gabungan korban jurnalis dalam Perang Saudara AS, Perang Dunia I & II, Perang Korea, Perang Vietnam, konflik Yugoslavia, serta perang pasca-9/11 di Afghanistan.

Bagaimana Kondisi Gaza Sekarang?

Hingga kini, Israel masih terus melancarkan serangan terhadap Gaza.

Mengutip The New Arab, sedikitnya 104 warga Palestina telah tewas sejak Jumat (3/10/2025).

Selain itu, tujuh warga Palestina dilaporkan terluka akibat penembakan Israel di dekat pusat distribusi bantuan di bagian selatan Jalur Gaza.

Perundingan Gencatan Senjata di Mesir Berjalan Positif

Perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Mesir sejauh ini disebut berlangsung “positif”, menurut dua sumber yang dekat dengan tim perunding kelompok Palestina tersebut kepada AFP, Selasa (7/10/2025).

“Perundingan berjalan positif tadi malam, dengan putaran pertama berlangsung selama empat jam,” kata salah satu sumber.

“Perundingan tidak langsung dijadwalkan dilanjutkan pada tengah hari,” tambahnya.

Sumber Palestina lainnya mengonfirmasi bahwa pembicaraan akan dilanjutkan di kota resor Sharm El-Sheikh, Mesir, pada hari yang sama.

“Putaran negosiasi gencatan senjata kali ini mungkin akan berlangsung selama beberapa hari,” ujar sumber lain yang dekat dengan pimpinan Hamas kepada AFP.

“Kami memperkirakan negosiasi ini akan sulit dan kompleks, mengingat niat pendudukan untuk melanjutkan perang pemusnahan,” tambahnya.

Trump Desak Perundingan Dipercepat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak para negosiator untuk “bergerak cepat” dalam upaya mengakhiri perang di Gaza.

Israel dan Hamas diperkirakan akan melanjutkan perundingan tidak langsung guna membahas secara rinci proposal Trump mengenai pertukaran sandera dan gencatan senjata jangka panjang.

Baik Hamas maupun Israel telah menanggapi proposal tersebut secara positif, namun mencapai kesepakatan atas detailnya dinilai akan menjadi proses yang sulit dan kompleks.

Rencana itu mencakup pelucutan senjata Hamas, yang kemungkinan besar akan ditolak oleh kelompok tersebut.

Proposal juga mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza, namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berjanji akan mengirim kembali pasukan “jauh ke dalam” wilayah Gaza sambil memastikan pembebasan para sandera.

Pertukaran Sandera dan Rencana Gencatan Senjata

Baca juga: Trump Optimistis Soal Gaza, Hari Pertama Perundingan Israel-Hamas di Mesir Berakhir Positif

Menurut AFP, mengutip sumber Palestina, tahap awal pertukaran sandera dan tahanan akan memakan waktu beberapa hari, tergantung pada kondisi di lapangan, termasuk penarikan pasukan Israel, penghentian pemboman, dan penangguhan seluruh operasi udara.

Negosiasi bertujuan untuk menentukan tanggal dimulainya gencatan senjata sementara, kata seorang pejabat Hamas.

Tahap pertama rencana tersebut mencakup pembebasan 47 sandera yang ditawan di Gaza, dengan imbalan ratusan tahanan Palestina.

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyatakan siap membantu pemulangan sandera dan tahanan, serta memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan di seluruh Gaza, di mana PBB telah menyatakan situasi kelaparan.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved