Senin, 11 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Zelensky Desak Trump Bantu Redakan Perang Ukraina Usai Berhasil Damaikan Gaza

Zelensky desak Presiden Trump untuk turun tangan, jadi penengah dalam upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina usai Trump mampu hentikan konflik Gaza

Tayang:
Tangkapan Layar YouTube The White House
ZELENSKY DAN TRUMP - Tangkapan layar YouTube The White House menunjukkan momen di mana Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden AS Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih, Jumat (28/2/2025). Zelensky desak Presiden Trump untuk turun tangan, jadi penengah dalam upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina usai Trump mampu hentikan konflik Gaza 

Terpisah, setelah sukses memfasilitasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza, perhatian dunia kini beralih pada satu pertanyaan besar, apakah Donald Trump juga mampu menghentikan perang di Ukraina.

Perlu diketahui perang antara Rusia dan Ukraina bukan hanya konflik dua negara, tetapi juga mencakup kepentingan geopolitik besar yang melibatkan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan NATO.

Invasi Rusia sejak 2022 telah memicu ketegangan global, sanksi ekonomi besar-besaran, dan perlombaan senjata di kawasan Eropa Timur.

Menurut pengamat hubungan internasional, konflik ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan kesepakatan politik jangka pendek.

Ukraina menuntut pengembalian wilayah yang diduduki Rusia, sementara Moskow menolak menyerahkan daerah yang sudah diklaim sebagai bagian dari “Federasi Rusia”.

Konflik tersebut yang kemudian membuat hubungan keduannya memanas, menewaskan ratusan ribu orang, menghancurkan infrastruktur, dan membuat jutaan warga mengungsi ke luar negeri.

Guna mengakhiri penderitan rakyat Ukraina, Zelensky meminta Trump memfasilitasi perdamaian. Namun ia menegaskan bahwa Ukraina tidak ingin perang tanpa akhir, tetapi juga tidak akan menyerahkan kedaulatannya. 

Karena itu, ia menilai mediasi dari sosok yang berpengaruh seperti Trump bisa membuka peluang baru dalam diplomasi internasional.

Zelensky menilai Trump sebagai sosok yang memiliki keunggulan diplomatik, Ia dikenal berani mengambil langkah-langkah yang tidak konvensional dan mampu membangun hubungan pribadi dengan para pemimpin dunia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin.

Beberapa pihak meyakini gaya “deal-maker” Trump bisa menciptakan momentum negosiasi yang selama ini mandek di bawah pendekatan formal diplomasi Barat.

Kendati gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza menjadi titik terang bagi diplomasi global, banyak analis menilai keberhasilan tersebut tidak bisa begitu saja diterapkan pada perang di Ukraina.

Terlebih konflik yang melibatkan Rusia dan Ukraina jauh lebih rumit, karena menyentuh kepentingan geopolitik, ideologis, dan strategis global yang jauh lebih dalam.

Hingga kini, Trump belum secara resmi menanggapi permintaan Zelensky. Namun dalam wawancara sebelumnya, ia sempat menyatakan bahwa dirinya “bisa menghentikan perang Ukraina dalam 24 jam” jika kembali menjadi presiden.

(Tribunnews.com / Namira)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved