Konflik Rusia Vs Ukraina
Trump Buka Jalan Perdamaian: Yakin Konflik Rusia–Ukraina Segera Berakhir
Trump optimis perang antara Rusia dan Ukraina dapat segera berakhir karena kedua negara tersebut menunjukkan fleksibilitas dalam negosiasi
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme bahwa konflik Rusia–Ukraina bisa segera berakhir, menilai kedua pihak mulai kelelahan secara militer dan ekonomi sehingga membuka peluang dialog damai.
- Trump menegaskan Rusia–Ukraina diplomasi jadi fokus utama AS
- Meski disambut positif oleh Ukraina, pejabat Uni Eropa dan NATO tetap waspada terhadap potensi kesepakatan yang bisa menguntungkan Rusia dan menegaskan perdamaian tidak boleh mengorbankan kedaulatan Ukraina.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa perang antara Rusia dan Ukraina dapat segera berakhir.
Optimisme itu ia sampaikan usai melakukan pertemuan langsung dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky di Gedung Putih, Jumat (17/10/2025).
Dalam keterangan resminya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat berkomitmen untuk membuka jalan diplomasi baru yang dapat mempertemukan kepentingan kedua belah pihak.
Ia menyebut adanya “peluang besar untuk mengakhiri perang dengan cepat” jika Rusia dan Ukraina menunjukkan fleksibilitas dalam negosiasi yang akan datang.
“Saya pikir kita punya kesempatan nyata untuk mengakhiri perang ini dengan cepat, jika semua pihak mau membuka ruang kompromi,” ujar Trump di hadapan wartawan di Washington, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Pernyataan itu dilontarkan bukan tanpa alasan, pasalnya Trump menilai situasi di medan perang telah berubah signifikan, dengan kedua pihak mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan militer dan ekonomi.
Di antaranya Rusia menghadapi sanksi global yang berkepanjangan, sementara Ukraina mengalami krisis energi dan sumber daya akibat perang yang melelahkan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang bagi dialog damai yang lebih realistis.
Selain alasan di atas, perubahan kebijakan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump diyakini lebih menekankan diplomasi daripada pengiriman bantuan militer. Langkah ini menciptakan ruang baru bagi negosiasi tanpa eskalasi senjata.
Meski begitu, Trump menegaskan bahwa langkah diplomasi ini harus ditempuh dengan hati-hati.
Ia bahkan menolak memberi komitmen langsung terhadap permintaan Ukraina untuk mendapatkan rudal jarak jauh Tomahawk, dengan alasan senjata tersebut dapat memicu eskalasi baru di kawasan.
“Tomahawk adalah senjata kuat, tapi juga berisiko besar. Kami tidak ingin langkah menuju perdamaian justru menimbulkan ketegangan baru,” kata Trump.
Baca juga: Zelensky Desak Kiriman Rudal AS, Trump Malah Serukan Damai, Rusia Kuasai 3 Desa Baru
Diplomasi Langsung Jadi Kunci
Pernyataan Trump muncul bersamaan dengan rencananya mengadakan pertemuan puncak dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Hungaria dalam beberapa minggu ke depan.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk merumuskan kesepakatan gencatan senjata dan peta jalan menuju perdamaian.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat kini memainkan peran sebagai jembatan komunikasi antara Moskow dan Kyiv. Ia menyebut, Washington berupaya memastikan agar negosiasi dilakukan secara setara tanpa tekanan politik berlebihan terhadap salah satu pihak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/DONALD-TRUMP-ISRAEL-Tangkap-Layar-Truth-SocialrealDonaldTrump.jpg)