Selasa, 19 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Kyiv Kena Tikung, Pejabat AS dan Rusia Diam-diam Susun Rencana Perdamaian Perang Ukraina

Pejabat AS dan Rusia ternyata diam-diam telah menyusun rencana perdamaian perang Ukraina tanpa mengajak Kyiv. Kejadian ini membuat Ukraina khawatir.

Tayang:
Facebook Zelensky
ZELENSKY - Foto diunduh dari Facebook Zelensky, Sabtu (27/9/2025), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam unggahan pada Jumat, 26 September 2025. Kyiv merasa ditikung setelah pejabat Amerika Serikat (AS) dan Rusia diam-diam menyusun draf rencana perdamaian baru untuk mengakhiri perang di Ukraina. 
Ringkasan Berita:
  • Tindakan pejabat AS dan Rusia yang diam-diam menyusun draf rencana perdamaian di Ukraina membuat Kyiv merasa ditikung.
  • Draf yang bocor pada Rabu (19/11/2025) ini berisikan rencana-rencana yang menyudutkan Ukraina.
  • Rencana itu akan memaksa Ukraina untuk melepaskan wilayah yang dikuasainya di bagian timur negara itu dan mengurangi setengah ukuran militernya.

TRIBUNNEWS.COM - Pejabat Amerika Serikat (AS) dan Rusia dilaporkan telah diam-diam menyusun draf rencana perdamaian baru untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Penyusunan draf rencana perdamaian ini ternyata tanpa mengikutsertakan Ukraina.

Draf yang bocor pada Rabu (19/11/2025) ini berisikan rencana-rencana yang menyudutkan Ukraina.

Laporan yang pertama kali diangkat oleh The Financial Times dan Reuters, yang mengutip Axios, menyebutkan bahwa rencana 28 poin ini akan memaksa Ukraina untuk melepaskan wilayah yang dikuasainya di bagian timur negara itu dan mengurangi setengah ukuran militernya.

Dikutip dari The Guardian, draf tersebut juga mencakup pembatasan bantuan militer AS serta kategori persenjataan yang dapat digunakan oleh militer Ukraina.

Rencana perdamaian tersebut disebut-sebut dikembangkan oleh seorang utusan dari pihak Donald Trump, Steve Witkoff, dan penasihat Kremlin, Kirill Dmitriev.

Keduanya membentuk jalur informal penting antara Moskow dan Washington.

Walaupun demikian, belum jelas apakah pemerintahan Trump secara formal mendukung penuh rencana tersebut.

Di sisi lain, sumber di Kantor Kepresidenan Ukraina menyatakan ketidakpuasan mendalam terhadap kemungkinan rencana tersebut.

Mengutip The Kyiv Independent, Kyiv menuduh Washington yang tampaknya bergeser menuju kerangka yang diselaraskan dengan permintaan Rusia.

Meskipun dalam putaran perundingan sebelumnya Kremlin sempat melunakkan beberapa tuntutan maksimalisnya, tuntutan-tuntutan yang sebelumnya dibatalkan tersebut kini terlihat muncul kembali.

Baca juga: AS dan Rusia Diam-diam Susun Proposal Baru, Minta Ukraina Menyerah

Sumber lain yang memahami proposal AS menuturkan bahwa Kremlin telah memperkeras kondisi maksimalisnya, memanfaatkan melemahnya posisi Ukraina di garis depan dan mencuatnya skandal korupsi besar yang melibatkan orang-orang dekat Presiden Volodymyr Zelensky.

Kondisi ini membuat Moskow merasa memiliki daya tawar yang lebih kuat.

Sementara itu, di tengah pembahasan politik, jalur perdamaian paralel yang dipimpin militer juga mulai terbentuk.

Sebuah delegasi militer dikabarkan akan melaporkan temuan mereka kembali ke Gedung Putih setelah melihat langsung realitas di Ukraina, sebelum kemudian dijadwalkan terbang ke Moskow untuk mengadakan pembicaraan dengan pejabat Rusia.

Dalam konteks diplomatik yang aktif ini, posisi fundamental kedua belah pihak tetap tidak berubah.

Kyiv, yang didukung oleh pemerintah Eropa, terus mendorong gencatan senjata di sepanjang garis depan yang ada saat ini.

Sebaliknya, Moskow tetap bersikeras agar Ukraina menyerahkan wilayah timur di Oblast Donetsk dan Luhansk.

Zelensky Cari Dukungan Baru

Di tengah dorongan AS, Presiden Zelensky mengumumkan pada Selasa (18/11/2025) bahwa ia akan melakukan perjalanan ke Turki untuk "menghidupkan kembali negosiasi" dengan Rusia, menandakan upaya baru untuk melibatkan berbagai saluran diplomatik.

Dalam pernyataan yang sama, Trump menegaskan harapannya untuk menghentikan perang, meskipun upaya mediasi selama hampir sepuluh bulan belum membuahkan hasil nyata.

"Saya telah menghentikan delapan perang," ujar Presiden AS tersebut.

"Saya punya satu lagi yang harus diselesaikan dengan (Vladimir) Putin."

"Saya sedikit terkejut dengan Putin. Ini memakan waktu lebih lama dari yang saya duga," pungkasnya.

Sekembalinya dari Turki, Zelensky melalui unggahan di media sosial X menyatakan bahwa "hanya Presiden Trump dan Amerika Serikat yang memiliki kekuatan yang cukup agar perang dapat berakhir secara permanen".

Baca juga: Ini Dia Surveyor, Drone Andalan Ukraina Berjuluk Shahed Killer Rusia yang Ditiru NATO

Dirinya menambahkan bahwa Ukraina mendukung "setiap proposal yang kuat dan adil untuk mengakhiri perang ini" dalam beberapa bulan terakhir.

Ia menyambut baik kesediaan Turki untuk terlibat dalam upaya diplomatik dan menegaskan bahwa Kyiv "siap bekerja dalam format berarti lainnya yang dapat menghasilkan hasil".

Serangan Rusia Makin Gencar

Kabar mengenai draf rencana perdamaian ini muncul bertepatan dengan serangan besar-besaran Rusia di Ukraina barat.

Serangan rudal dan pesawat nirawak Rusia pada Rabu malam menargetkan beberapa gedung bertingkat di kota Ternopil, serta fasilitas energi di Ivano-Frankivsk dan Lviv.

Kementerian Dalam Negeri Ukraina melaporkan bahwa serangan di Ternopil menewaskan sedikitnya 25 orang, termasuk tiga anak-anak, dan melukai 73 lainnya, di antaranya 15 anak.

Insiden ini terjadi saat sebagian besar warga sedang tidur.

Rusia sendiri diketahui tengah melancarkan kampanye sistematis untuk menghancurkan infrastruktur sipil Ukraina menjelang musim dingin.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved