Isu Taiwan dan Kalkulasi Geopolitik Jepang di Indo-Pasifik
Ancaman Tiongkok terhadap Jepang atas keputusannya mendukung pertahanan Taiwan dinilai tidak akan efektif,
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ancaman Tiongkok terhadap Jepang atas keputusannya mendukung pertahanan Taiwan dinilai tidak akan efektif, menurut analis Khedroob Thondup, kakak dari Dalai Lama.
Khedroob Thondup menempuh pendidikan di St. Stephens College, Universitas Delhi, dan Universitas San Francisco.
Ia pernah menjadi asisten pribadi Dalai Lama dan mendampinginya dalam kunjungan pertamanya ke Amerika Serikat pada tahun 1979.
Thondup menilai Beijing keliru berasumsi bahwa Jepang adalah aktor yang mudah diintimidasi melalui tekanan ekonomi maupun gertakan militer.
Menurut dia, posisi Jepang berakar pada faktor sejarah, kerangka hukum, dan aliansi internasional, sehingga tidak mudah digoyang oleh ancaman.
Ia menjelaskan bahwa postur keamanan Jepang merupakan hasil penyesuaian selama puluhan tahun terhadap dinamika kawasan.
Kebangkitan militer Tiongkok, menyusutnya ruang kebebasan di Hong Kong, serta meningkatnya aktivitas militer di sekitar Taiwan disebut menjadi faktor yang memperkuat keyakinan Tokyo bahwa sikap pasif tidak lagi memadai.
“Bagi Jepang, pertahanan Taiwan berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas Indo-Pasifik,” tulis Thondup dalam artikel di media European Times, Selasa (25/11/2025).
Menurutnya, komitmen Jepang juga didorong pertimbangan hukum internasional dan solidaritas demokrasi.
Thondup menyebut nasib Taiwan bukan semata isu bilateral Beijing–Taipei, melainkan indikator apakah paksaan dapat mengubah prinsip penentuan nasib sendiri.
“Ancaman Tiongkok tidak akan menggeser posisi moral Tokyo,” tutur Thondup, yang pernah menemani perjalanan perdana Dalai Lama ke Amerika Serikat di tahun 1979.
Analisis tersebut juga menyinggung peran aliansi Jepang–Amerika Serikat. Berdasarkan perjanjian keamanan kedua negara, setiap serangan terhadap Jepang atau pasukannya yang terlibat dalam dukungan terhadap Taiwan dapat memicu respons Washington. Karena itu, ia menilai intimidasi terhadap Jepang berisiko memperbesar ketegangan antara Beijing dan AS.
Thondup menambahkan bahwa Jepang bukan target yang rentan terhadap tekanan ekonomi. Sebagai ekonomi terbesar ketiga di dunia, Jepang memiliki rantai pasokan yang luas dan hubungan dagang yang kuat dengan Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Serikat. Ia menilai langkah punitif Beijing justru bisa mempercepat pemutusan ketergantungan dan memperkuat sikap Jepang.
“Di tingkat kawasan, ancaman Tiongkok justru mendorong negara-negara demokrasi seperti Korea Selatan, Australia, dan India untuk mempererat koordinasi dalam menjaga stabilitas regional,” ungkap Thondup.
“Sikap Jepang terhadap Taiwan menjadi bagian dari konsensus yang berkembang di Indo-Pasifik terkait pentingnya menolak bentuk intimidasi,” sambungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Peta-Asia-Timur-yang-menunjukkan-Selat-Taiwan.jpg)