Minggu, 17 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Krisis di Langit Eropa: Standar Ganda Amerika yang Bikin Negara-negara NATO yang Kian Gelisah

Masyarakat internasional menyoroti beda sikap AS yang hati-hati terhadap Rusia, dan ketika mereka berani keras terhadap Caracas.

Tayang:
X CENTCOM
BEDA SIKAP - Jet tempur F-22 Raptor Angkatan Udara Amerika Serikat. AS hingga kini lebih memilih berhati-hati merespons provokasi udara Rusia terhadap NATO, sementara mereka keras terhadap Venezuela: sebuah negara paria yang tak punya kemampuan membalas seperti Moskow. 

Ringkasan Berita:
  • Insiden Su-24 (2015): Pesawat Rusia ditembak jatuh oleh Turki setelah melanggar wilayah udara selama 17 detik; NATO menegaskan hak pertahanan kolektif.
  • Era Trump (2025): NATO menghadapi intrusi udara Rusia (Estonia, Polandia, Rumania, Norwegia, Lithuania, Finlandia) dengan respons hati-hati.
  • Kontras Venezuela: Trump mendeklarasikan penutupan langit Venezuela, meski secara hukum internasional hanya negara berdaulat yang berhak menutup wilayah udaranya.
 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lebih dari 10 tahun lalu, sebuah pesawat pembom Rusia Su-24 tersesat melintasi sepotong kecil wilayah udara Turki dekat perbatasan Suriah—menurut Ankara, pelanggaran itu hanya berlangsung 17 detik. 

Respons Turki sangat cepat dan mematikan. Sebuah F-16 menembakkan rudal, menewaskan satu kru yang tertembak saat turun dengan parasut oleh pemberontak Suriah.

Presiden Vladimir Putin menyebut insiden itu sebagai “tikaman dari belakang,” sementara Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO menegaskan hak anggotanya (Turki) untuk mempertahankan langit mereka.

NATO adalah organisasi pertahanan kolektif yang dibentuk pada tahun 1949 melalui Traktat Atlantik Utara.

Anggotanya terdiri dari negara-negara di Eropa dan Amerika Utara. Tujuan utamanya adalah menjamin keamanan bersama melalui prinsip pertahanan kolektif.

Prinsip utama NATO tertuang dalam Pasal 5 Traktat Atlantik Utara.

Isi Pasal 5 menyebutkan, Jika satu negara anggota NATO diserang, maka serangan itu dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Satu dekade setelah insiden penembakan jet tempur Rusia di Turki, NATO di era Trump tampak jauh lebih gamang. 

Pada September 2025, misalnya, tiga MiG-31 Rusia berkeliaran selama 12 menit di atas Estonia sebelum F-35 Italia mengusir mereka keluar. Tallinn menyebutnya “sangat nekat.”

Kemudian, Polandia melaporkan hingga 23 drone Rusia menyusup pada 9 September, memicu konsultasi Pasal 4 dan tembakan pertama NATO terhadap aset Rusia di atas wilayah NATO sejak perang Ukraina meletus. 

Rumania mencatat pelanggaran ke-13 pada 25 November—kali ini yang pertama di siang hari—hingga membuat jet Jerman dan Rumania terbang cepat. Norwegia, setelah satu dekade relatif tenang, mencatat tiga pelanggaran tahun ini.

Anehnya, respons paling tegas justru bukan terjadi di Eropa, melainkan di Venezuela. “Anggap wilayah udara di atas dan sekitar Venezuela ditutup sepenuhnya,” tulis Presiden Donald Trump, setelah FAA mengeluarkan peringatan soal memburuknya situasi keamanan.

Meski lantang bicara soal “menutup wilayah udara,” Barat tetap berhati-hati merespons provokasi udara Rusia terhadap NATO, sementara Trump berbicara keras di kawasan belakang rumahnya sendiri—terhadap Venezuela: sebuah negara paria yang tak punya kemampuan membalas seperti Moskow.

Pemerintahan Trump membingkai langkah itu sebagai ketegasan yang tertunda. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan era bertindak “semena-mena” sudah berakhir. 

Kelompok konservatif menilai penutupan langit merupakan kelanjutan logis dari serangkaian operasi udara dan laut AS terhadap kapal narkotika.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved