Konflik Rusia Vs Ukraina
Eropa Dinilai Provokatif, Putin: Jika Perang Dimulai, Rusia Sudah Siap dari Sekarang
Putin ancam Eropa, jika perang dimulai Rusia siap sekarang juga. sementara ditengah memanasnya konflik AS dorong diplomasi lewat rencana damai baru.
Ringkasan Berita:
- Putin memperingatkan Eropa bahwa Rusia siap berperang kapan saja jika Eropa memutuskan memulai konflik, menilai dukungan militer Eropa terhadap Ukraina sebagai tindakan provokatif.
- Ketegangan Rusia–Eropa meningkat akibat tuduhan serangan hibrida, isu intelijen soal ancaman Rusia terhadap NATO, narasi provokatif Uni Eropa.
- AS dorong diplomasi perdamaian, ditandai kedatangan Jared Kushner ke Kremlin untuk menyerahkan rencana damai Rusia–Ukraina versi terbaru yang telah dipangkas menjadi 19 poin.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin kembali memicu ketegangan geopolitik setelah menyatakan bahwa Rusia siap berperang kapan saja jika negara-negara Eropa memutuskan untuk memulai konflik.
Pernyataan keras itu disampaikan Putin dalam forum investasi di Moskow pada Selasa (2/12/2025), di tengah memanasnya situasi keamanan antara Rusia dan Barat.
Selama pidatonya, Putin menegaskan bahwa Rusia tidak berkeinginan untuk memicu perang dengan Eropa.
Namun, ia menilai sikap Eropa yang terus memperkuat dukungan militer terhadap Ukraina telah menjadikan kawasan tersebut “berada di pihak perang” dan kehilangan agenda damai.
“Kami tidak berniat berperang dengan siapa pun, terutama negara-negara Eropa.” ujar Putin, dikutip dari Euro News.
“Tetapi jika mereka yang memutuskan untuk memulai perang, maka Rusia siap sekarang juga,” imbuh Putin.
Menurutnya, Eropa telah menjelma menjadi “pihak yang berada di jalur perang” karena terus memasok senjata, sistem pertahanan canggih, serta dukungan intelijen kepada Kyiv.
Selain itu, sejumlah pejabat keamanan Eropa belakangan ini kerap mengeluarkan isu simpang siur, menyebut Rusia sedang mempersiapkan opsi untuk menyerang NATO pada 2029.
Di Jerman, beberapa pejabat kementerian luar negeri menyampaikan peringatan bahwa intelijen mereka mendeteksi manuver militer Rusia yang dinilai mempersiapkan potensi agresi di masa depan.
Namun Moskow menilai pernyataan itu sebagai provokasi politik yang sengaja digulirkan untuk meningkatkan belanja pertahanan Eropa.
Tak hanya itu, Eropa juga menuduh Rusia berada di balik sejumlah serangan hibrida seperti sabotase infrastruktur, serangan siber berskala besar, hingga kemunculan drone misterius di wilayah udara negara Baltik, Polandia, Jerman, dan Belgia.
Baca juga: Putin Datangi Pos Komando Perang, Tentara Rusia Rebut Kota Penting Pokrovsk di Ukraina Timur
Ketegangan ini membuat hubungan Rusia–Eropa berada pada titik terendah sejak Perang Dingin.
Melihat eskalasi itu, Putin menyampaikan bahwa Rusia tidak akan tinggal diam jika dianggap sebagai target provokasi.
Ia memperingatkan bahwa jika Eropa benar-benar memutuskan melangkah ke jalur perang, Rusia telah menyiapkan seluruh kemampuan militernya untuk menghadapi kemungkinan tersebut tanpa penundaan.
Nasib Perundingan Gencatan senjata Rusia – Ukraina
Di tengah memanasnya perselisihan antara Rusia dan Eropa, menantu sekaligus utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, dilaporkan tiba di Kremlin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Rusia-Vladimir-Putin-werwerw111.jpg)