Konflik Rusia Vs Ukraina
Macron Tepis Kabar Runtuhnya Kepercayaan Eropa Gara-gara Hubungan AS-Rusia
Presiden Prancis Macron menepis berita yang menyebut Eropa mengkhawatirkan sikap AS yang terlihat lunak ke Rusia dalam upaya perundingan damai.
Ringkasan Berita:
- Presiden Prancis Macron menepis berita yang menyebut kekhawatiran Eropa dengan sikap AS terhadap Rusia.
- Macron menegaskan Eropa dan AS saling percaya dan perlu bekerja sama untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
- Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1.382 saat delegasi Ukraina melanjutkan diskusi dengan tim AS.
TRIBUNNEWS.COM - Sehari setelah memperingatkan Ukraina mengenai posisinya yang berbahaya, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kepercayaan Eropa terhadap Amerika Serikat (AS) tidak berubah.
"Tidak ada rasa tidak percaya (antara Eropa dan AS)" kata Macron saat berkunjung ke Tiongkok pada Jumat (5/12/2025).
"Persatuan antara Amerika dan Eropa dalam masalah Ukraina sangat penting," lanjutnya.
Presiden Prancis itu menegaskan Eropa dan AS perlu bekerja sama untuk mengakhiri perang Rusia dan Ukraina.
"Dan saya katakan berulang kali, kita perlu bekerja sama," tegasnya, menurut laporan The Guardian.
Sebelumnya, Macron dan pemimpin lainnya dikabarkan mengkhawatirkan kedekatan AS dengan Rusia dalam upaya perundingan perdamaian.
Update Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1.382 pada Sabtu (6/12/2025), menandai berlanjutnya konflik panjang yang berawal dari invasi besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2022.
Pada Sabtu dini hari, drone Rusia menyerang sebuah rumah di Ukraina tengah, menewaskan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun.
Di wilayah Dnipropetrovsk tengah Ukraina, serangan drone Rusia selama dua malam menghancurkan sebuah rumah di mana anak laki-laki itu tewas dan dua wanita terluka.
Sementara di Rusia, drone Ukraina menyerang sebuah pelabuhan di wilayah Krasnodar di perbatasan dengan Ukraina, memicu kebakaran di pelabuhan laut Temryuk dan merusak infrastruktur pelabuhan.
Baca juga: Eropa Khawatir AS akan Khianati Mereka dan Paksa Ukraina Menyerah
Perang Rusia–Ukraina yang berlangsung sejak 2022 ini berakar dari runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.
Setelah menjadi negara merdeka, Ukraina menghadapi dilema geopolitik untuk mempertahankan kedekatan historis dengan Moskow atau memperkuat hubungan dengan Barat.
Perbedaan arah politik, sengketa wilayah, serta upaya membangun identitas nasional semakin menegangkan relasi kedua negara.
Ketegangan mencapai titik krusial pada 2014 melalui Revolusi Maidan, ketika aksi protes besar-besaran menggulingkan presiden Ukraina yang dinilai berpihak pada Rusia.
Campur tangan Rusia dalam kekacauan itu menjadi peluang untuk mencaplok Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donbas, memicu konflik berkepanjangan di kawasan timur Ukraina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Prancis-Emmanuel-Macron-Presiden-Ukraina-Volodymyr-Zelensky-3434.jpg)