Profil Presiden Pakistan Asif Ali Zardari yang Anugerahi Prabowo Penghargaan Tinggi
Presiden Pakistan Asif Ali Zardari menganugerahkan penghargaan Nishan-e-Pakistan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Ringkasan Berita:
- Presiden Pakistan Asif Ali Zardari memberikan bintang penghargaan kepada Presiden Prabowo Subianto.
- Prabowo dinilai berjasa memperkuat hubungan antara Pakistan dan Indonesia.
- Asif Ali Zardari saat ini menjabat sebagai Presiden Pakistan untuk kedua kalinya.
TRIBUNNEWS.COM – Presiden Pakistan Asif Ali Zardari menganugerahkan penghargaan Nishan-e-Pakistan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Penghargaan berupa bintang kehormatan itu diberikan di Ruang Iqbal, Istana Aiwan-e-Sadr, Kota Islamabad, Pakistan, hari Selasa, (9/12/2025). Zardari dengan didampingi Perdana Menteri Pakistan Shehbaz menyematkan langsung bintang itu kepada Prabowo.
BPMI Setpres menjelaskan bahwa Nishan-e-Pakistan adalah penghargaan tertinggi Orde Pakistan. Penghargaan itu diberikan baik kepada warga Pakistan maupun tokoh asing yang berjasa penting di tingkat nasional ataupun internasional.
Menurut Pakistan, Prabowo punya jasa besar dan kontribusi penting dalam memperteguh hubungan bilateral antara Pakistan dan Indonesia.
“Penganugerahan kepada Presiden Prabowo mencerminkan pengakuan Pemerintah Pakistan terhadap peran strategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik serta komitmen Presiden Prabowo dalam memperkuat hubungan kerja sama pertahanan, ekonomi, dan solidaritas dunia Islam,” demikian keterangan BPMI Setpres.
Sebelum Prabowo, ada beberapa pemimpin dunia yang pernah menerimanya. Mereka di antaranya Raja Yordania Abdullah II bin Hussein, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah.
Profil Presiden Pakistan Asif Ali Zardari
Dikutip dari Encyclopedia Brittannica, Asif Ali Zardari lahir pada tanggal 26 Juli 1955 di Kota Karachi, Pakistan. Dia adalah putra seorang pebisnis dan tuan tanah.
Zardari menempuh pendidikan di Sekolah Saint Patrick di Karachi, kemudian melanjutkan sekolah bidang bisnis di Kota London, Inggris.
Pada tahun 1987 dia menikah dengan Benazir Bhutto yang nantinya menjabat sebagai Perdana Menteri Pakistan.
Zardari pernah dijebloskan ke penjara tahun 1990-1993 setelah didakwa melakukan penculikan dan pemerasan. Dia dijuluki “Tuan 10 Persen” karena diduga menerima berbagai suap dalam kontrak pemerintah.
Baca juga: Prabowo Terima Penghargaan Nishan-e-Pakistan dari Presiden Zardari
Setelah keluar dari penjara dan istrinya menjadi PM Pakistan, Zardari diangkat sebagai Menteri Lingkungan (1993-1996) dan Menteri Federal Bidang Investasi (1995-1996).
Zardari pernah berusaha mengendalikan Partai Rakyat Pakistan (PPP). Namun, upayanya itu mendatangkan perselisihan dalam keluarga istrinya.
Dia kembali dipenjara dari tahun 1997 hingga 2004 setelah didakwa dalam beberapa kasus, termasuk korupsi, pencucian uang, dan pembunuhan.
Setelah bebas, Zardari sempat menjalani perawatan kesehatan di Amerika Serikat (AS). Dia kembali ke Pakistan tahun 2007.
Dalam Pemilu Legislatif Pakistan tahun 2008, PPP meraih sepertiga kursi dan berkoalisi dengan Partai Liga Muslim Pakistan. Pada tahun yang sama Zardari berhasil menang mudah dalam pemilihan presiden.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Pakistan-Asif-Ali-Zardari-di-Ruang-Iqbal.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.