Konflik Rusia Vs Ukraina
Putin Ejek Eropa 'Si Babi Kecil', Yakin Rusia Bisa Menang Perang Tanpa Syarat
Presiden Rusia Putin mengejek Eropa dengan menyebut mereka babi kecil. Ia yakin Rusia bisa menang perang dengan Ukraina, tanpa harus memenuhi syarat.
Ringkasan Berita:
- Presiden Rusia Putin menyebut para pemimpin Eropa sebagai "babi-babi kecil" yang mengikuti langkah pemerintahan AS sebelumnya di bawah Joe Biden.
- Putin yakin Rusia dapat meraih tujuan "operasi militer khusus" di Ukraina, tanpa harus memenuhi syarat apapun.
- Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1394 ketika Presiden Ukraina Zelenskyy berupa mencari jaminan keamanan dari negara-negara Eropa dan AS.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin menantang para pemimpin Eropa dengan pidatonya di Moskow.
Berbicara pada pertemuan tahunan dengan kementerian pertahanan, Putin mengatakan Rusia yakin dapat meraih tujuan invasi ke Ukraina yang ia sebut "operasi militer khusus", tanpa syarat.
Ia menyinggung pertemuan antara Eropa, AS, dan Ukraina yang berlangsung di Berlin, Jerman pada awal pekan ini.
Pertemuan itu membahas upaya Eropa dan proposal AS yang diharapkan dapat mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina, yang hasil diskusinya belum diketahui oleh Rusia.
“Jika mereka tidak menginginkan diskusi yang substansial, maka Rusia akan membebaskan tanah bersejarahnya di medan perang,” katanya, Rabu (17/12/2025).
Putin mengklaim pemerintahan AS sebelumnya, merujuk pada Joe Biden, telah dengan sengaja mengarahkan situasi ke arah konflik bersenjata.
Pria berusia 73 tahun itu mengatakan AS percaya Rusia dapat dilemahkan atau bahkan dihancurkan dalam waktu singkat.
Ia kemudian mengecam para pemimpin Eropa, menyebut mereka "babi kecil", dan menuduh mereka bergabung dengan pemerintahan Joe Biden.
"Babi-babi kecil Eropa segera bergabung dalam pekerjaan pemerintahan Amerika sebelumnya, berharap untuk mengambil keuntungan dari keruntuhan negara kita," kata Putin.
Komentar Putin muncul ketika para pejabat AS mengklaim pembicaraan sebelumnya dengan Ukraina di Berlin telah menyelesaikan sekitar 90 persen dari isu-isu tersulit.
Presiden berulang kali bersikeras agar Ukraina menyerahkan bagian-bagian wilayah Donbas timur yang masih berada di bawah kendali Ukraina, sebuah tuntutan yang terkadang tampak didukung oleh Gedung Putih, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Ukraina.
Baca juga: Jelang Pembicaraan Damai Rusia-Ukraina, Putin Teguh dengan Tuntutannya, Zelensky Beri Peringatan
Rusia juga mendorong pembatasan ketat terhadap militer Ukraina, melarang negara anggota NATO menempatkan pasukan di wilayah Ukraina, dan mendesak negara Barat untuk menghentikan dukungan terhadap Ukraina.
Pemimpin Rusia itu juga membantah bahwa Moskow berencana untuk menyerang wilayah NATO.
Ia mengklaim NATO mulai mempersiapkan kemungkinan konfrontasi militer dengan Rusia, dengan target tahun 2030, seperti diberitakan The Guardian.
Info Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1394 pada Kamis (18/12/2025), menandai berlanjutnya konflik panjang yang berawal dari invasi besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2022.
Perang antara Rusia dan Ukraina berawal dari perubahan peta politik setelah runtuhnya Uni Soviet.
Ukraina kemudian memilih untuk mendekat ke negara-negara Barat dengan rencana bergabung ke NATO dan Uni Eropa, langkah yang dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap keamanannya.
Situasi semakin memanas sejak Revolusi Maidan pada 2014, disusul pencaplokan Krimea oleh Rusia dan pecahnya konflik bersenjata di wilayah Donbas.
Berbagai jalur diplomasi tidak berhasil meredakan ketegangan tersebut.
Puncaknya, Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Serangan ini menuai kecaman luas dari komunitas internasional, memicu sanksi keras dari negara-negara Barat, serta dukungan militer dan ekonomi besar bagi Ukraina.
Berikut ini berita terbaru mengenai perang Rusia dan Ukraina yang dirangkum dari berbagai sumber.
Para pemimpin Uni Eropa berupaya menggunakan aset Rusia senilai €210 miliar (sekitar Rp3,8 kuadriliun) yang disita untuk mendukung Ukraina dalam perang.
Ukraina yang berada di ambang kebangkrutan membutuhkan lebih banyak bantuan untuk mempertahankan wilayahnya.
“Kita harus mengambil keputusan untuk mendanai Ukraina selama dua tahun ke depan di Dewan Eropa ini," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen kepada anggota parlemen Uni Eropa pada hari Rabu.
Presiden Dewan Eropa António Costa, yang akan memimpin KTT tersebut, telah berjanji untuk terus mendorong para pemimpin bernegosiasi hingga tercapai kesepakatan, meskipun membutuhkan waktu berhari-hari, seperti diberitakan AP News.
Komisi Eropa mengusulkan agar negara-negara Eropa yang menyita aset Rusia, menggunakan sebagian aset tersebut untuk mendanai Ukraina.
Sementara Amerika Serikat (AS) berulang kali memperingatkan Eropa mengenai konsekuensi dari rencana itu jika benar-benar disepakati.
Uni Eropa berencana mengadopsi paket sanksi ke-20 terhadap Rusia.
Paket sanksi tersebut akan diumumkan pada peringatan invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2026.
Narasumber Suspilne mengatakan pembahasan paket sanksi di tingkat negara anggota belum dimulai, tapi Komisi Eropa sudah mengerjakan dokumen tersebut.
Agar tidak mengganggu diskusi soal pendanaan Ukraina, pembahasan paket sanksi itu akan dilakukan pada Januari 2026 dan berlaku pada peringatan invasi Rusia.
-
Zelenskyy akan Hadiri Pertemuan Dewan Uni Eropa
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy akan menghadiri pertemuan Dewan Uni Eropa pada hari Kamis.
Ia akan datang langsung ke Brussels setelah sebelumnya dilaporkan hanya dapat hadir secara daring.
-
Zelenskyy: Rusia akan Siapkan Tahun 2026 Jadi Tahun Perang
Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan negaranya menerima sinyal bahwa Rusia berencana melanjutkan perang tahun depan.
"Hari ini, kami mendengar sinyal lebih lanjut dari Moskow bahwa mereka sedang mempersiapkan tahun depan sebagai tahun perang. Dan sinyal-sinyal ini bukan hanya untuk kami," kata Zelenskyy dalam pidatonya, Rabu (17/12/2025).
Ia memperingatkan mitranya agar menyadari niat Rusia yang tidak menunjukkan keinginan mengakhiri perang.
"Penting bagi para mitra untuk melihat ini. Dan penting bagi mereka untuk tidak hanya melihatnya, tetapi juga merespons – khususnya, para mitra di Amerika Serikat, yang sering mengatakan bahwa Rusia konon ingin mengakhiri perang. Tetapi retorika yang sama sekali berbeda dan sinyal yang berbeda datang dari Rusia – termasuk instruksi resmi kepada tentara mereka," jelasnya.
Menurutnya, sikap Rusia yang seperti itu membahayakan upaya diplomasi, seraya menyerukan jaminan keamanan untuk Ukraina.
"Harus ada perlindungan nyata dari kisah kegilaan Rusia ini, dan sekarang kami akan terus bekerja sama dengan semua mitra untuk memastikan bahwa perlindungan tersebut benar-benar ada. Kita membutuhkan keputusan keamanan, kita membutuhkan keputusan keuangan, termasuk tentang aset Rusia, dan kita membutuhkan keputusan politik," ujarnya.
Presiden Rusia Putin berulang kali menyatakan Rusia siap menyelesaikan perang dengan jalan diplomatik, namun mengancam jika Ukraina dan mitranya menolak syarat dari Rusia maka mereka siap merebut wilayah Ukraina dengan cara militer.
-
Zelenskyy: Masa Berlaku Jaminan Keamanan Belum Jelas
Dalam sebuah wawancara di Den Haag, Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan ia belum dapat memastikan berapa lama jaminan keamanan akan berlaku.
Meski Ukraina melakukan banyak diskusi dengan mitranya mengenai hal itu, masih ada beberapa isu yang belum terselesaikan, termasuk apakah jaminan keamanan akan berlaku tanpa batas waktu.
"Saya tidak bisa mengatakan berapa tahun ini akan berlangsung, atau apakah jaminan tertentu akan dibatasi oleh jangka waktu tertentu. Kami belum membahas hal ini," katanya, berbicara tentang pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Selain itu, ia menegaskan jaminan keamanan itu harus disepakati oleh Kongres AS.
"Kami percaya bahwa jaminan tersebut, yang telah diratifikasi oleh Kongres, akan berhasil," katanya.
Presiden berusia 47 tahun itu menegaskan jaminan keamanan yang sedang dibahas mitra Eropa dan AS harus mirip dengan Pasal 5 Perjanjian NATO, yang mengisyaratkan semua negara anggota harus bertindak jika salah satu diserang.
Tanpa jaminan keamanan, Zelenskyy mengatakan Ukraina tidak dapat memastikan bahwa agresi terhadap negaranya tidak akan terulang.
Hal itu termasuk dalam elemen terpisah mengenai bagaimana mitra Ukraina akan bertindak jika Ukraina menghadapi serangan baru setelah gencatan senjata.
"Kami ingin memahami bagaimana mitra akan menanggapi agresi baru. Percayalah, saya mengajukan beberapa pertanyaan yang agak tidak nyaman kepada mitra. Jika terjadi agresi, bagaimana Amerika Serikat akan menanggapi? Bagaimana mitra Eropa akan bertindak? Bagaimana dunia akan bereaksi? Sanksi, senjata, tanggapan di laut, di medan perang, dan sebagainya," katanya, dikutip dari Pravda.
Selain itu, Zelenskyy berulang kali menekankan bahwa menurut pandangan Ukraina, keanggotaan Uni Eropa juga merupakan jaminan keamanan.
-
Senat AS Setujui Dana Bantuan untuk Ukraina
Majelis kedua Kongres AS, yaitu Senat, telah menyetujui anggaran pertahanan untuk tahun 2026.
Di antara pos pengeluaran tersebut terdapat dana sebesar 800 juta USD untuk bantuan kepada Ukraina.
Sekarang anggaran tersebut harus ditandatangani oleh Presiden AS Trump sebelum dapat dilaksanakan.
Dana bantuan itu direncanakan untuk tahun 2026 dan 2027 dalam bentuk pembelian senjata dari AS untuk Ukraina.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PUTlN-345525.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.