Minggu, 31 Mei 2026

Perjuangan WNI Asal Magetan–Banyuwangi Bertahan Hidup dan Membuka Bengkel di Jepang

Ia sempat mengikuti pendidikan bahasa Jepang di sekolah senmon dan memperoleh sertifikat

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/istimewa
PERJALANAN HIDUP - Perjalanan hidup seorang warga negara Indonesia (WNI) asal Magetan (lahir dan dibesarkan di Banyuwangi) ini penuh lika-liku. Lahir tahun 1968, Harry Prasetya, telah merasakan pahit-manis kehidupan sebagai perantau di Jepang sejak akhir 1990-an. Namun WNI ini berhasil membuka bengkelnya di Jepang. 
Ringkasan Berita:
  • Perjalanan hidup Harry Prasetya, WNI asal Magetan di Jepang yang lahir dan dibesarkan di Banyuwangi, penuh liku dan ujian
  • Upaya pertamanya ke Jepang melalui perantara berujung kegagalan
  • Pada pertengahan 2006, Harry bertemu perempuan Jepang yang kemudian menjadi istrinya.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Perjalanan hidup Harry Prasetya, warga negara Indonesia (WNI) asal Magetan yang lahir dan dibesarkan di Banyuwangi, penuh liku dan ujian.

Lahir pada 1968, Harry telah merasakan pahit-manis kehidupan sebagai perantau di Jepang sejak akhir 1990-an hingga akhirnya berhasil membuka bengkel otomotif sendiri di Negeri Sakura.

“Setelah lulus SD, SMP, dan SMA, saya sempat ingin kuliah. Tahun 1998 saya mencoba ikut program semacam pemagangan di Malang, tapi jalur ke Jepang waktu itu belum jelas,” ujar Harry kepada Tribunnews, Jumat (19/12/2025).

Upaya pertamanya ke Jepang melalui perantara berujung kegagalan.

Ia bahkan harus kembali ke Indonesia dan mengalami kegagalan serupa pada percobaan kedua dan ketiga. Belakangan, Harry menyadari dirinya telah menjadi korban penipuan.

Baca juga: Gugatan Iklim Pertama di Jepang oleh 452 Warga Dianggap Langgar HAM

Ia sempat mengikuti pendidikan bahasa Jepang di sekolah senmon dan memperoleh sertifikat. Namun saat hendak mengajukan visa pelajar, keluarganya tidak memberikan restu. 

Harry kemudian tinggal di kawasan Shinjuku, Tokyo, menjalani hidup dengan ketidakpastian.

Hidup Overstay dan Kerja Serabutan

Awal 2001, Harry kembali ke Jepang dengan status overstay. Saat pengawasan imigrasi diperketat, ia memilih pindah ke Gunma dan bekerja di pabrik melalui broker. Di sana, ia mulai belajar bahasa Jepang secara otodidak.

Selama hampir dua tahun, Harry berpindah-pindah pekerjaan paruh waktu di berbagai perusahaan. Dari pengalaman tersebut, ia perlahan menguasai bahasa Jepang dasar sekaligus memahami budaya kerja setempat.

Akhir 2002, ia kembali ke Tokyo, lalu berpindah lagi ke Gunma pada 2003. Kehidupannya terus berpindah antara Ibaraki, Saitama, Tochigi, dan Tokyo demi bertahan hidup.

Jatuh Cinta pada Dunia Otomotif

Saat tinggal di Saitama, ketertarikan Harry pada dunia otomotif semakin kuat. Ia bergaul dengan anak-anak muda Jepang pencinta mobil dan beberapa kali diajak ke sirkuit balap. Dari lingkungan itu, ia belajar langsung menangani berbagai kerusakan kendaraan.

Minat pada otomotif sebenarnya sudah tumbuh sejak di Indonesia. Ia pernah belajar otomotif dan komputer di Malang, bahkan sebelum teknologi injeksi dan turbo populer. Kemampuan menganalisis kerusakan mobil ia asah dari pengalaman lapangan.

Menikah, Masalah Imigrasi, dan Visa Khusus

Pada pertengahan 2006, Harry bertemu perempuan Jepang yang kemudian menjadi istrinya.

Mereka menikah pada akhir tahun tersebut, namun urusan imigrasi tidak berjalan mulus.

Meski pernikahan resmi tercatat di shiyakusho pada Mei 2007, status visanya sempat menemui jalan buntu. Ia harus menggunakan jasa pengacara dengan biaya sekitar 300.000 yen.

Baca juga: Aturan Ketat Bantuan Pendidikan Jepang Picu Penutupan Junior College, Kampus Daerah Terancam

Masalah kembali muncul pada akhir 2008. Harry ditangkap dan dibawa ke Imigrasi Osaka, serta ditahan selama dua pekan.

Berkat jaminan sang istri, ia akhirnya memperoleh visa khusus satu tahun.

Saat itu, kondisi keluarga tengah sulit dan istrinya juga menderita sakit lambung.

Membangun Keluarga dan Usaha

Pada periode 2009–2011, Harry tinggal di Ibaraki dengan perpanjangan visa tahunan. Ia bahkan sempat membentuk tim balap mobil kecil.

Setelah itu, ia pindah ke Nagoya dan membangun kehidupan keluarga dengan empat anak.

Tiga bulan pertama, ia menumpang di rumah kerabat sebelum akhirnya memperoleh pekerjaan tetap selama tiga tahun.

Tahun 2017, Harry pulang ke Indonesia. Namun ketidaktahuan prosedur membuat situasi kembali rumit, termasuk menyangkut status keimigrasian istrinya.

Meski demikian, ia sudah memiliki bengkel di Indonesia dan bahkan sempat mengirim sadel Harley-Davidson ke Jepang untuk kepentingan bisnis.

Kembali ke Jepang dan Fokus Bengkel

Akhir 2019, Harry kembali ke Jepang. Pada 2020, ia bekerja di pabrik pada hari kerja dan membuka bengkel kecil pada akhir pekan.

Pertengahan 2021, ia memutuskan berhenti dari pabrik dan fokus penuh mengembangkan bengkelnya.

Sejak 2022, bengkel Harry di Kota Hekinan, Prefektur Aichi, mulai dikenal luas oleh komunitas Indonesia di Jepang.

Selain perbaikan kendaraan, ia juga menjalankan jual beli mobil hingga sistem kredit melalui leasing.

Namun perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Ia sempat tersandung kasus hukum dan menjalani hukuman percobaan selama tiga tahun.

Pulang dengan Tanggung Jawab yang Belum Usai

Pada Juni 2025, saat hendak kembali ke Indonesia, Harry kembali ditahan imigrasi.

Hingga akhirnya pada Agustus 2025, ia benar-benar pulang ke Tanah Air.

Meski telah kembali, tanggung jawabnya di Jepang belum sepenuhnya selesai.

Ia masih memiliki cicilan properti serta kewajiban pembangunan masjid di Aichi yang telah berdiri namun belum lunas.

Selama hampir delapan tahun, masjid tersebut menjadi pusat ibadah komunitas, dibuka setiap akhir pekan dan digunakan untuk salat Jumat sejak 2020.

Sisa kewajiban sekitar 28 juta yen masih harus diselesaikan hingga Mei 2026.

“Masa depan saya ingin fokus pada hal yang lebih ikhlas. Bengkel tetap jalan, masjid tetap hidup,” ujarnya.

Kisah Harry menjadi potret nyata perjuangan sebagian WNI di Jepang—antara mimpi, kesalahan masa lalu, kerja keras, dan harapan untuk menutup hidup dengan amal serta kebermanfaatan.

Diskusi  bengkel di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved