Konflik Iran Vs Israel
Netanyahu Ultimatum Iran, Ancam Bakal Lancarkan Serangan Mematikan Jika Berani Serang Tel Aviv
Netanyahu kirim ultimatum keras ke Iran. Israel siap lancarkan serangan mematikan jika Tel Aviv diserang, sementara AS masih menimbang langkah.
Ringkasan Berita:
- Netanyahu mengancam akan melancarkan tanggapan militer sangat keras jika Iran menyerang Israel, menyusul tuduhan percepatan pengembangan rudal balistik Iran.
- Ancaman dipicu konflik bersenjata Juni lalu, latihan rudal Iran, serta kekhawatiran Israel atas potensi pelanggaran gencatan senjata dan kebangkitan fasilitas nuklir Iran.
- Netanyahu disebut akan mengajukan rencana serangan kepada Presiden AS Donald Trump, namun Washington masih bersikap hati-hati dan belum memberi dukungan terbuka.
TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam keterangan resminya, Netanyahu mengancam akan memberikan “tanggapan yang sangat keras” apabila Iran melakukan serangan militer dalam bentuk apapun terhadap wilayah Israel, khususnya Tel Aviv.
Ancaman tersebut disampaikan Netanyahu dalam konferensi pers di Yerusalem bersama pemimpin Administrasi Siprus Yunani Nikos Christodoulides dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis.
Bukan tanpa alasan, mengutip dari Anadolu ancaman keras Netanyahu dilatarbelakangi oleh tuduhan Israel bahwa Iran tengah mempercepat pengembangan dan produksi rudal balistik, yang dinilai mampu menjangkau wilayah Israel.
Pemerintah Israel memandang langkah Iran tersebut sebagai ancaman strategis langsung, terutama jika dikombinasikan dengan dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi pro-Iran lainnya.
Selain itu, ultimatum Netanyahu juga berkaitan dengan konflik bersenjata yang sempat pecah awal Juni lalu.
Israel melancarkan serangan mendadak ke Teheran pada 13 Juni dengan menargetkan fasilitas militer, nuklir, serta sejumlah tokoh penting Iran.
Serangan tersebut memicu balasan dari Iran berupa peluncuran rudal dan pesawat nirawak ke arah Israel, yang kemudian diikuti keterlibatan Amerika Serikat dengan menyerang tiga situs nuklir Iran.
Konflik terbuka selama hampir dua pekan itu akhirnya dihentikan melalui gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan mulai berlaku pada 24 Juni.
Namun, meski gencatan senjata diberlakukan, ketegangan antara kedua negara tidak sepenuhnya mereda.
Israel menilai Iran masih mempertahankan kemampuan serangan yang signifikan dan berpotensi melanggar kesepakatan kapan saja.
Baca juga: Lagi, Iran Eksekusi Mati Pria yang Dituduh Mata-mata Israel: Pengakuan Diperoleh Melalui Siksaan
Terlebih baru-baru ini pejabat tinggi Israel mengungkap bahwa Iran tengah menggelar latihan rudal di beberapa wilayah termasuk Teheran, Isfahan, dan Mashhad, serta menampilkan video yang diklaim memperlihatkan aktivitas peluncuran rudal.
Bahkan sejumlah pengamat melaporkan pergerakan Iran yang diam-diam membangun kembali fasilitas pengayaan nuklir yang sebelumnya diserang Amerika Serikat pada Juni lalu.
Netanyahu Sodorkan Rencana Serangan ke Trump
Meski belum ada bukti serangan yang bersifat segera, Israel memilih bersikap waspada penuh mengingat pengalaman pahit serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu, yang dinilai sebagai kegagalan intelijen terbesar dalam sejarah modern Israel.
Tak sampai disitu, mengantisipasi serangan Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut akan mengajukan sejumlah opsi militer kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/NETANYAHUUU-3453453.jpg)