Konflik Iran Vs Israel
Iran Klaim Hadapi Perang Skala Penuh, Digempur Israel cs dari Segala Arah
Iran mengklaim tengah menghadapi perang skala penuh dari Barat. Tekanan militer, sanksi ekonomi, hingga isolasi diplomatik disebut makin terkoordinasi
Ringkasan Berita:
- Presiden Pezeshkian menyebut tekanan terhadap Iran kini bersifat menyeluruh dan terkoordinasi, mencakup militer, ekonomi, politik, dan keamanan regional.
- Iran menuding Israel, AS, dan sekutu Barat melakukan konfrontasi melalui serangan militer, sanksi ekonomi, isolasi diplomatik untuk melemahkan Iran.
- Pemerintah Iran menyatakan siap membalas setiap eskalasi dengan respons lebih tegas dan menilai tekanan Barat sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan eksistensi negara.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya saat ini tengah menghadapi apa yang ia sebut sebagai “perang skala penuh”.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Sabtu (27/12/2025) sebelum kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Amerika Serikat untuk bertemu Presiden Donald Trump, Senin (29/12/2025) sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Menurut Pezeshkian, tekanan yang dihadapi Iran tidak lagi bersifat terbatas atau parsial, melainkan menyeluruh dan terkoordinasi.
Ia menilai Israel dan sejumlah negara Barat seperti Amerika Serikat sengaja menggunakan berbagai instrumen kekuatan secara bersamaan untuk melemahkan posisi Iran sebagai kekuatan regional yang independen.
Di bidang militer, Iran menyoroti serangkaian serangan dan ancaman langsung terhadap kepentingannya.
Serangan Israel terhadap target militer dan nuklir Iran, serta keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi tersebut, dipandang Teheran sebagai bukti nyata bahwa tekanan telah berubah menjadi konfrontasi terbuka.
Iran juga menilai peningkatan aktivitas militer AS dan sekutunya di kawasan sebagai upaya mengepung dan mengintimidasi Teheran.
Tekanan tidak hanya datang dalam bentuk ancaman militer, tetapi juga melalui sanksi ekonomi, dimana Washington kembali memberlakukan kebijakan “tekanan maksimum” yang menargetkan sektor energi, perbankan, dan perdagangan minyak Iran.
Pezeshkian menegaskan bahwa tekanan ekonomi tersebut merupakan bagian dari strategi perang non-militer untuk memaksa Iran menyerah pada tuntutan Barat.
Dengan tujuan melumpuhkan perekonomian nasional serta membatasi kemampuan negara membiayai kebijakan dalam dan luar negerinya.
Sementara itu, di ranah politik dan diplomatik, Iran menilai Barat terus berupaya mengisolasi Teheran di forum internasional.
Baca juga: Intelijen Israel Akui Gagal Tembus Hamas Selama Lebih dari 20 Tahun, Kenapa Iran Bisa?
Pemberlakuan kembali sanksi PBB oleh sejumlah negara Eropa serta kebuntuan perundingan nuklir dianggap sebagai bentuk tekanan politik yang sengaja dirancang untuk mempersempit ruang gerak Iran di tingkat global.
Teheran memandang dukungan Barat terhadap rival-rivalnya di Timur Tengah, termasuk Israel, sebagai bagian dari upaya menekan pengaruh Iran di kawasan.
Situasi ini diperburuk oleh konflik yang masih berlangsung di Gaza, Lebanon, dan Suriah, yang menurut Iran sarat dengan kepentingan geopolitik Barat.
Atas dasar itu, Pezeshkian menyimpulkan bahwa Iran sedang menghadapi perang yang bersifat multidimensi dan lebih kompleks dibandingkan konflik bersenjata konvensional di masa lalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Iran-Masoud-Pezeshkian-565656565.jpg)