Konflik Palestina Vs Israel
Somaliland Sudah Jadi Target Zionis Sebelum Negara Israel Resmi Berdiri
Israel akui Somaliland, memicu kecaman global. Dokumen lama ungkap ambisi Zionis sejak sebelum 1948.
Pada 1943, Jewish Telegraphic Agency bahkan melaporkan pembentukan Dewan Provinsi Yahudi Otonom di Harrar, dengan tujuan memfasilitasi pemukiman Yahudi Eropa di Ethiopia dan British Somaliland.
Meski gagasan tersebut tidak pernah terealisasi, banyak pihak menilai dokumen-dokumen ini mencerminkan pola pikir kolonial pemukim yang masih relevan hingga kini.
Karena itu, pengakuan Israel terhadap Somaliland dianggap memunculkan kembali bayang-bayang ambisi lama tersebut.
Pada 2025, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan pengakuan itu dalam percakapan telepon dengan Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi. Israel menyebut langkah tersebut bertujuan memperluas kerja sama di bidang pertanian, kesehatan, dan teknologi.
Namun, Somalia dan sejumlah negara lain menilai ada motif tersembunyi, terutama kepentingan militer Israel di kawasan Laut Merah.
Para analis menilai keterlibatan Israel di Somaliland berpotensi memberi akses strategis ke Selat Bab el Mandeb, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Jalur ini sangat penting bagi perdagangan global dan kepentingan militer.
Kekhawatiran bertambah setelah laporan awal 2025 mengungkap Israel dan Amerika Serikat sempat mendekati sejumlah negara, termasuk Somaliland, Sudan, Ethiopia, Libya, hingga Indonesia, untuk menampung sekitar dua juta warga Palestina yang terusir akibat perang di Gaza.
Palestina secara resmi mendukung sikap Somalia dan mengecam Israel atas dugaan rencana relokasi tersebut.
Uni Afrika, Liga Arab, Mesir, Turki, Arab Saudi, serta banyak negara lain secara tegas menolak pengakuan Israel terhadap Somaliland.
Mereka memperingatkan langkah itu berpotensi memfasilitasi pemindahan paksa warga Palestina, yang oleh para pengkritik disebut sebagai bentuk pembersihan etnis.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland kini tak hanya menjadi isu diplomatik regional, tetapi juga memicu kekhawatiran global tentang dampaknya terhadap konflik Palestina, stabilitas Afrika, dan tatanan hukum internasional.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Puluhan Negara Kecam Israel soal Somaliland - China Gelar Latihan Militer
Sejarah Berdirinya Israel: Dari Deklarasi Balfour hingga Proklamasi 14 Mei 1948
Sejarah berdirinya negara Israel bermula dari Deklarasi Balfour pada 2 November 1917, ketika Pemerintah Inggris menjanjikan tanah di Palestina bagi orang Yahudi.
Janji tersebut kemudian diwujudkan melalui Mandat Inggris atas Palestina, namun masa kekuasaan itu diwarnai kekerasan dan konflik berkepanjangan.
Pada 1946, Komite Investigasi Anglo-Amerika mencatat ribuan korban jiwa akibat kerusuhan.
Komite ini merekomendasikan pemindahan 100.000 pengungsi Yahudi ke Palestina, namun menolak pembentukan negara Arab maupun Yahudi. Rekomendasi tersebut ditentang Inggris dan memicu perdebatan dengan Amerika Serikat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/al-aqsa-bendera-israel.jpg)