Dari Sekutu Menjadi Musuh, Arab Saudi dan UEA Kini Berkonflik di Yaman
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang dulu sekutu dalam perang Yaman, kini berkonflik karena mendukung kelompok berbeda.
Di sisi yang berseberangan, terdapat pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang beroperasi di bawah Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) yang didukung Arab Saudi dan dibentuk pada 2022.
Pasukan PLC terdiri dari sisa-sisa tentara nasional, milisi suku, serta kelompok Islam Sunni.
Mereka menguasai wilayah-wilayah terpisah di Marib, Taiz, dan kota Aden di selatan, dengan dukungan operasi udara, angkatan laut, serta pasukan darat Saudi dalam skala terbatas.
- STC
Pihak ketiga yang menambah kompleksitas konflik adalah Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung UEA dan dibentuk pada 2017.
STC berupaya menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang merdeka, yang berakhir pada 1990.
Mengapa Arab Saudi dan UEA Berkonflik Sekarang?
Meski memasuki Yaman pada 2015 dengan tujuan bersama, visi jangka panjang kedua negara kemudian berseberangan.
Arab Saudi mendukung keberlangsungan negara Yaman yang bersatu di sepanjang perbatasan selatannya.
Sebaliknya, UEA mendukung kelompok separatis selatan, sebuah sikap yang secara langsung bertentangan dengan kepentingan Saudi.
Setelah bertahun-tahun upaya perdamaian mengalami kebuntuan, ketegangan meningkat pada Desember 2025 ketika pasukan yang didukung UEA melancarkan serangan untuk merebut provinsi-provinsi kaya minyak, dan dalam beberapa kasus bertempur melawan unit-unit yang didukung Arab Saudi.
Situasi semakin memburuk ketika serangan udara yang dipimpin Saudi menghantam pengiriman UEA di pelabuhan Mukalla, mendorong Abu Dhabi mengumumkan penarikan diri dari Yaman.
Meski demikian, ketegangan semakin meningkat.
Baca juga: Arab Saudi Rilis Bukti Pemboman Pelabuhan Mukalla Yaman, Tensi Kawasan Teluk Meningkat!
Pada 2 Januari 2026, Arab Saudi mengerahkan pasukan angkatan laut di lepas pantai Yaman setelah pasukan yang didukungnya memulai "serangan darat damai” terhadap separatis yang didukung UEA.
STC menolak klaim tersebut, menuduh Arab Saudi menyesatkan komunitas internasional, serta menyatakan posisi mereka dihantam oleh serangan udara Saudi.
Lalu, Bagaimana Nasib Yaman Sekarang?
Bertahun-tahun perang telah menghancurkan ekonomi Yaman dan mendorong rakyatnya ke dalam penderitaan mendalam, lapor BBC.
Pada 2021, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 377.000 orang telah meninggal akibat konflik serta dampak kelaparan dan runtuhnya layanan kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tentara-Dewan-Transisi-Selatan-STC-meninggalkan-provinsi-Abyan-selatan-Yaman.jpg)