Kamis, 30 April 2026

Dari Sekutu Menjadi Musuh, Arab Saudi dan UEA Kini Berkonflik di Yaman

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang dulu sekutu dalam perang Yaman, kini berkonflik karena mendukung kelompok berbeda.

Tayang:
Str/Xinhua
KONFLIK DI YAMAN - Tentara Dewan Transisi Selatan (STC) meninggalkan provinsi Abyan selatan, Yaman, pada 16 Desember 2020. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang dulu sekutu dalam perang Yaman, kini berkonflik karena mendukung kelompok berbeda. (Str/Xinhua) 
Ringkasan Berita:
  • Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang dulu sekutu dalam perang Yaman, kini berkonflik karena mendukung kelompok berbeda: Saudi mendukung pemerintah PLC, sementara UEA mendukung separatis STC.
  • Ketegangan memuncak setelah serangan udara Saudi menghantam pengiriman UEA, memperlihatkan perpecahan visi jangka panjang kedua negara.
  • Konflik berkepanjangan ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman, dengan ratusan ribu korban jiwa dan ekonomi hancur.


TRIBUNNEWS.COM – Satu dekade setelah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) memimpin operasi militer gabungan untuk mengekang pengaruh Iran di Yaman, kedua sekutu itu kini justru terlibat dalam konfrontasi terbuka.

Dahulu menjadi sekutu erat, kedua negara kini mendukung kelompok-kelompok yang saling berseberangan di Yaman.

Apa yang Terjadi?

Mengutip NDTV, Arab Saudi dan UEA sebelumnya bersekutu, baik secara politik maupun militer.

Ketika Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mulai populer satu dekade lalu, ia kerap dibandingkan dengan penguasa de facto UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed.

Pada 2015, kedua negara juga bersama-sama memimpin intervensi militer di Yaman untuk mengekang pengaruh Iran dengan memerangi kelompok Houthi, yang kala itu telah merebut ibu kota Sana’a.

Kini, hubungan tersebut memburuk.

Kedua negara bersaing memperebutkan pengaruh di Timur Tengah, Afrika, dan kawasan sekitarnya.

Yaman menjadi titik konflik paling rawan.

Ketegangan kembali mencuat pekan ini ketika Arab Saudi menyerang pengiriman kendaraan tempur UEA yang menuju Yaman dan menuduh UEA melakukan tindakan sangat berbahaya yang mengancam keamanan nasional Saudi, lapor CNN.

Siapa yang Berperang dengan Siapa di Dalam Yaman?

Terdapat tiga pihak utama yang terlibat dalam konflik ini, yakni Houthi, Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC), dan Dewan Transisi Selatan (STC).

- Houthi

Sejak Houthi merebut ibu kota Yaman, Sana’a pada 2014, negara itu terpecah ke dalam zona-zona kendali yang saling bersaing, membuka ruang bagi campur tangan kekuatan regional.

IRAN DAN HOUTHI - Pengikut Houthi ikut serta dalam parade untuk memperingati genap 10 tahun pengambilalihan ibu kota Sanaa oleh kelompok tersebut di Al Sabeen Square, Sanaa, Yaman, pada 21 September 2024. (Xinhua/Mohammed Mohammed)
IRAN DAN HOUTHI - Pengikut Houthi ikut serta dalam parade untuk memperingati genap 10 tahun pengambilalihan ibu kota Sanaa oleh kelompok tersebut di Al Sabeen Square, Sanaa, Yaman, pada 21 September 2024. (Xinhua/Mohammed Mohammed) (Xinhua/Mohammed Mohammed)

Baca juga: Arab Saudi-UEA Panas di Yaman Seusai STC Rebut Hadramaut, Emir Qatar Turun Tangan Jadi Penengah

Houthi, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, merupakan kelompok Islam Syiah yang berbasis di barat laut Yaman.

Setelah merebut ibu kota dengan dukungan publik, Houthi berkembang menjadi kekuatan militer dan politik terkuat di negara tersebut, dengan dukungan pasokan senjata berkelanjutan dari Iran.

Saat ini, mereka menguasai sebagian besar perbatasan barat laut Yaman dengan Arab Saudi serta bentangan penting garis pantai Laut Merah, yang memberi akses ke jalur pelayaran vital, lapor CNN.

- PLC

Di sisi yang berseberangan, terdapat pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang beroperasi di bawah Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) yang didukung Arab Saudi dan dibentuk pada 2022.

Pasukan PLC terdiri dari sisa-sisa tentara nasional, milisi suku, serta kelompok Islam Sunni.

Mereka menguasai wilayah-wilayah terpisah di Marib, Taiz, dan kota Aden di selatan, dengan dukungan operasi udara, angkatan laut, serta pasukan darat Saudi dalam skala terbatas.

- STC

Pihak ketiga yang menambah kompleksitas konflik adalah Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang didukung UEA dan dibentuk pada 2017.

STC berupaya menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang merdeka, yang berakhir pada 1990.

KONFLIK DI YAMAN - Tentara Dewan Transisi Selatan (STC) meninggalkan provinsi Abyan selatan, Yaman, pada 16 Desember 2020. (Str/Xinhua)
KONFLIK DI YAMAN - Tentara Dewan Transisi Selatan (STC) meninggalkan provinsi Abyan selatan, Yaman, pada 16 Desember 2020. (Str/Xinhua) (Str/Xinhua)

Mengapa Arab Saudi dan UEA Berkonflik Sekarang?

Meski memasuki Yaman pada 2015 dengan tujuan bersama, visi jangka panjang kedua negara kemudian berseberangan.

Arab Saudi mendukung keberlangsungan negara Yaman yang bersatu di sepanjang perbatasan selatannya.

Sebaliknya, UEA mendukung kelompok separatis selatan, sebuah sikap yang secara langsung bertentangan dengan kepentingan Saudi.

Setelah bertahun-tahun upaya perdamaian mengalami kebuntuan, ketegangan meningkat pada Desember 2025 ketika pasukan yang didukung UEA melancarkan serangan untuk merebut provinsi-provinsi kaya minyak, dan dalam beberapa kasus bertempur melawan unit-unit yang didukung Arab Saudi.

Situasi semakin memburuk ketika serangan udara yang dipimpin Saudi menghantam pengiriman UEA di pelabuhan Mukalla, mendorong Abu Dhabi mengumumkan penarikan diri dari Yaman.

Meski demikian, ketegangan semakin meningkat.

Baca juga: Arab Saudi Rilis Bukti Pemboman Pelabuhan Mukalla Yaman, Tensi Kawasan Teluk Meningkat!

Pada 2 Januari 2026, Arab Saudi mengerahkan pasukan angkatan laut di lepas pantai Yaman setelah pasukan yang didukungnya memulai "serangan darat damai” terhadap separatis yang didukung UEA.

STC menolak klaim tersebut, menuduh Arab Saudi menyesatkan komunitas internasional, serta menyatakan posisi mereka dihantam oleh serangan udara Saudi.

Lalu, Bagaimana Nasib Yaman Sekarang?

Bertahun-tahun perang telah menghancurkan ekonomi Yaman dan mendorong rakyatnya ke dalam penderitaan mendalam, lapor BBC.

Pada 2021, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 377.000 orang telah meninggal akibat konflik serta dampak kelaparan dan runtuhnya layanan kesehatan.

Para pengamat Yaman menilai eskalasi terbaru ini nyaris tak terelakkan.

Mereka menunjuk pada ambisi STC yang telah lama ada, yang semakin menguat seiring pengetatan kendali kelompok tersebut atas sebagian besar wilayah Yaman selatan.

Perkembangan Terbaru: Pasukan yang Didukung Arab Saudi Rebut Kembali Kendali atas Hadramout setelah Serangan Udara Berhari-hari

Mengutip Associated Press, pasukan yang didukung Arab Saudi di bawah Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) menyebar di Mukalla, Hadramout, pada Minggu (4/1/2026), setelah berhasil merebut kembali kota pelabuhan tersebut yang sebelumnya dikuasai separatis selatan sejak bulan lalu.

Mukalla direbut kembali oleh PLC setelah serangan udara yang berlangsung selama beberapa hari.

Rekaman video yang diperoleh Associated Press memperlihatkan Pasukan Perisai Nasional yang didukung PLC disambut warga ketika melaju di jalan-jalan kota dengan kendaraan bersenjata.

Pasukan tersebut juga terlihat berpatroli di sekitar dan di luar Bandara Al-Rayyan, Mukalla.

Ahmed Samaan dan Bakr al-Ketheri, warga kota Al-Qatn dan Seiyun di Hadramout, mengatakan kepada AP bahwa Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Uni Emirat Arab telah mundur dari kamp-kamp militer di wilayah tersebut.

Ketegangan meningkat setelah STC bergerak ke Provinsi Hadramout dan Mahra pada bulan lalu dan merebut sejumlah wilayah kaya minyak.

Langkah itu memaksa pasukan yang berafiliasi dengan Pasukan Perisai Nasional untuk mundur.

Pada Sabtu, Rashad al-Alimi, ketua PLC, menyatakan melalui Facebook bahwa Pasukan Perisai Nasional telah mencapai keberhasilan dengan merebut kembali seluruh situs militer dan keamanan di Hadramout.

Sementara itu, Salem al-Khanbashi ditunjuk oleh pemerintah pada Jumat untuk menjabat sebagai gubernur Hadramout sekaligus memimpin pasukan yang didukung Arab Saudi di provinsi tersebut.

Pada hari yang sama, al-Alimi juga menghubungi Mohamed Ali Yasser, gubernur Mahra, guna menerima laporan terbaru terkait penyerahan kamp dan fasilitas kepada Pasukan Perisai Nasional serta otoritas lokal.

Namun, belum jelas apakah proses penyerahan tersebut telah sepenuhnya rampung.

Kelompok separatis selatan di Yaman menyatakan bahwa pesawat tempur Arab Saudi kembali melancarkan serangan udara terhadap sebuah kamp militer di Mukalla pada Sabtu, serta di wilayah lain tempat pasukan mereka ditempatkan.

Dalam beberapa pekan terakhir, Arab Saudi dilaporkan telah membombardir posisi STC dan menyerang apa yang disebut sebagai pengiriman senjata dari Uni Emirat Arab.

Setelah menghadapi tekanan Saudi dan ultimatum dari pasukan anti-Houthi untuk menarik diri dari Yaman, UEA menyatakan pada Sabtu bahwa mereka telah menarik pasukannya dari negara tersebut.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan pada hari yang sama bahwa mereka akan menyelenggarakan sebuah konferensi untuk mempertemukan seluruh faksi selatan Yaman guna membahas solusi yang adil bagi perjuangan selatan.

STC menyambut baik undangan dialog tersebut, dengan menyatakan bahwa dialog merupakan satu-satunya jalan rasional untuk menyelesaikan persoalan politik, khususnya menyangkut aspirasi rakyat selatan dan hak mereka untuk memulihkan negara mereka.

Belum ada rincian lebih lanjut mengenai konferensi tersebut, namun Arab Saudi menyebut inisiatif ini sebagai respons atas permintaan dialog yang diajukan oleh al-Alimi.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved