Minggu, 11 Januari 2026

Jepang Akan Perkuat Struktur Pasokan dan Investasi Berani serta Strategis

PM Sanae Takaichi dan ribuan pengusaha Jepang sepakat dorong investasi dan kenaikan upah berkelanjutan demi memulihkan ekonomi Jepang 2026

Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Richard Susilo
BISNIS JEPANG - PM Sanae Takaichi berpamitan kepada Ketua Kadin Jepang Kobayashi dan Ketua Keizai Doyukai Jepang Yamaguchi di New Otani Hotel siang ini 

Ringkasan Berita:
  • Ribuan pengusaha Jepang menghadiri perayaan Tahun Baru 2026 di Tokyo bersama PM Sanae Takaichi yang menekankan investasi strategis tanpa menaikkan pajak. 
  • Tiga organisasi ekonomi terbesar Jepang sepakat memperkuat tren kenaikan upah melalui perundingan shunto 2026. 
  • Dunia usaha juga diminta meningkatkan produktivitas lewat investasi SDM, AI, dan robotika.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Ribuan pengusaha Jepang hadir di New Otani Hotel Tokyo Selasa ini (6/1/2026) bersama PM Jepang Sanae Takaichi merayakan tahun baru 2026 bersama dengan optimistis.

"Kami menghimbau dan akan memperkuat struktur pasokan Jepang dengan melakukan investasi yang berani dan strategis, dan menciptakan Jepang yang akan meningkatkan pendapatan pajak bahkan tanpa menaikkan tarif pajak," papar PM Takaichi siang ini. Sejak pemerintahan Shinzo Abe, sudah menjadi kebiasaan bagi perdana menteri untuk meminta kenaikan upah dari komunitas bisnis pada perayaan Tahun Baru.

Namun untuk PM Takaichi tampaknya tidak menyebutkannya setelah pemerintahan Shigeru Ishiba berakhir tahun lalu.

Bahkan PM Takaichi menekankan saat sambutannya, "Saya tak akan banyak mencampuri urusan perusahaan swasta. Yang penting marilah kita bekerjasama membangun negara Jepang ini bangkit kembali bersama-sama," paparnya diresponse tepuk tangan para pengusaha Jepang.
 
 Tiga organisasi ekonomi terbesar Jepang menegaskan komitmen untuk memperkuat dan memantapkan tren kenaikan upah pada perundingan upah musim semi (shunto) 2026. 

Baca juga: Rangga Azof Ogah Bandingkan Sinetron dan Film, Sebut Keduanya Sama-sama Nyaman 

Pernyataan itu disampaikan para pimpinan Keidanren, Japan Chamber of Commerce and Industry (Kadin), dan Keizai Doyukai (Asosiasi Para Eksekutif Jepang) dalam konferensi pers awal tahun di Tokyo, Selasa (6/1/2026).

Ketua Keidanren Tsutsui Yoshinobu menegaskan perlunya “mempermanenkan momentum kenaikan upah”. 

Ia mendorong kenaikan gaji pokok (base-up) menjadi standar utama dalam negosiasi upah, bukan sekadar penyesuaian sementara. 

Menurutnya, dunia usaha perlu mengubah pola pikir dari fokus pemangkasan biaya menuju investasi peralatan dan pengembangan sumber daya manusia.

Tsutsui juga menyatakan harapannya agar upah riil kembali positif, yakni kenaikan gaji melampaui laju inflasi. “Kenaikan upah yang berkelanjutan akan memperkuat daya beli dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Senada, Ketua Japan Chamber of Commerce and Industry Kobayashi Ken menyebut semangat menaikkan upah juga kuat di kalangan usaha kecil dan menengah (UKM). 

Namun ia mengingatkan risiko melemahnya keuntungan UKM bila pelemahan yen terus mendorong kenaikan harga bahan baku. 

Olehkarena itu, ia meminta pemerintah dan Bank Sentral Jepang untuk menjinakkan inflasi demi menjaga keberlanjutan kenaikan upah.

Sementara itu, Perwakilan Keizai Doyukai Yamaguchi Akio menekankan pentingnya peningkatan produktivitas. 

Ia menilai penggabungan kecerdasan buatan (AI) dengan teknologi robotika dapat menghasilkan nilai tambah tinggi, yang selanjutnya menjadi sumber pembiayaan kenaikan upah dan investasi pertumbuhan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved