Amerika Versus Venezuela
Analisis Pengamat Militer Potensi Perang Denmark vs AS Berebut Greenland, Kekuatan Dibanding Hukum
Connie menilai, meskipun Denmark tidak dirancang untuk mempertahankan wilayah Arktik seluas Greenlad, beda dengan AS
Ringkasan Berita:
- Prof. Connie menyebut, konflik Denmark vs AS bisa terjadi
- Dirinya menyinggung pemikiran Thucydides untuk menggambarkan analisis geopolitik
- Posisi AS sebagai kekuatan global dengan jaringan militer, logistik, dan intelijen yang telah tertanam lama di kawasan Arktik
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat militer dan geopolitik Prof. Connie Rahakundini Bakrie menilai potensi konflik antara Amerika Serikat dan Denmark terkait Greenland tidak dapat dibaca dalam kerangka moral atau hukum semata.
Ia berpandangan, situasi harus dilihat melalui kalkulasi kekuatan riil di lapangan.
Menurutnya, dalam realisme geopolitik, kendali atas wilayah pada akhirnya ditentukan oleh siapa yang paling mampu memproyeksikan kekuatan.
“Jika Denmark berseteru dengan Amerika Serikat yang berniat mengambil alih Greenland, maka jawabannya ditentukan oleh kekuatan riil. Wilayah dikuasai oleh pihak yang mampu mengendalikan logistik, udara, laut, dan ruang informasi,” ujar Connie dalam unggahan di Instagram @connierahakundinibakrie, Kamis (8/1/2026).
Ia menegaskan bahwa secara faktual Greenland sejak lama telah berada dalam arsitektur keamanan Amerika Serikat.
Keberadaan sistem radar, early warning system, serta peran strategis wilayah tersebut dalam kendali kawasan Arktik menjadikan posisi AS jauh lebih dominan secara militer dan strategis.
Connie juga menilai, meskipun Denmark merupakan negara berdaulat, kapasitas hard power negara tersebut tidak dirancang untuk mempertahankan wilayah Arktik seluas Greenland dari tekanan atau proyeksi kekuatan negara besar.
“Dalam kalkulasi kekuatan global, Denmark tidak disiapkan untuk menghadapi skenario pertahanan Arktik dari kekuatan besar mana pun,” katanya.
Karena itu, menurut Connie, isu Greenland tidak lagi berada pada ranah benar atau salah secara normatif, melainkan pada kemampuan aktual di medan geopolitik.
Ia bahkan mengaitkan kondisi tersebut dengan pemikiran klasik sejarawan Yunani kuno, Thucydides.
“Ini bukan soal siapa yang benar, tetapi siapa yang mampu. Seperti kata Thucydides: the strong do what they can, and the weak suffer what they must,” paparnya.
Baca juga: Sumber Daya Alam di Greenland, Kawasan yang Dibicarakan setelah Trump Serang Venezuela
Pemikiran Thucydides sendiri hingga kini banyak digunakan dalam analisis konflik internasional karena menekankan bahwa perang dan perebutan wilayah sering dipicu oleh perubahan keseimbangan kekuatan serta rasa aman negara dominan.
Dalam kerangka ini, hukum internasional dan moralitas cenderung kehilangan daya paksa ketika berhadapan dengan kepentingan strategis dan superioritas militer.
Dalam konteks Greenland, posisi Amerika Serikat sebagai kekuatan global dengan jaringan militer, logistik, dan intelijen yang telah tertanam lama di kawasan Arktik memperkuat tesis Thucydides tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-Greenland.jpg)