Selasa, 5 Mei 2026

Krisis Sopir Bus di Jepang, Tiga WNI Direkrut Jadi Pengemudi di Aichi

Krisis sopir bus di Jepang bikin WNI dilirik. Meitetsu Bus rekrut tiga warga Indonesia sebagai pengemudi trainee di Aichi

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Asahi TV
DIREKRUT JADI SOPIR - Dari kiri Dwi Harjanto (41), yang menjadi peserta tertua, Seto (tengah) dan Azzam (kanan). 
Ringkasan Berita:
  • Krisis kekurangan sopir bus di Jepang mendorong Meitetsu Bus merekrut tenaga asing, termasuk tiga WNI sebagai pengemudi trainee di Prefektur Aichi. 
  • Salah satunya, Dwi Harjanto, melihat peluang ini sebagai jalan masa depan keluarganya. 
  • Program ini didukung pelatihan khusus di Indonesia dan dinilai strategis menghadapi populasi Jepang yang menua

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM , AICHI – Kekurangan pengemudi bus kini menjadi persoalan nasional di Jepang. Untuk mengatasi krisis tenaga kerja tersebut, sebuah perusahaan bus di wilayah Chubu, Jepang tengah, mulai merekrut tenaga asing. 

Pada Agustus tahun lalu, Meitetsu Bus secara resmi mempekerjakan tiga warga negara Indonesia (WNI) sebagai calon sopir bus.

Langkah ini menjadi terobosan baru dan diharapkan dapat membuka jalan bagi masuknya lebih banyak pengemudi asal Indonesia ke Jepang, sekaligus membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor transportasi publik.

Salah satu dari tiga WNI tersebut adalah Dwi Harjanto (41), yang menjadi peserta tertua. Lainnya adalah Seto dan Azzam. 

Dalam upacara penerimaan karyawan, mereka menerima surat penugasan sebagai pengemudi trainee di depo Toyota, Prefektur Aichi.

Baca juga: Penyiar Televisi Jepang Ini Terpikat Keindahan Alam dan Budaya Indonesia, Ingin Tinggal di Bali

“Saya ingin menjadi pengemudi yang baik dan bertanggung jawab,” ujar Dwi.

Ketertarikan Dwi pada dunia kemudi sudah tumbuh sejak kecil.

 “Ayah saya dulu juga seorang sopir. Dari situlah saya mulai menyukai dunia mengemudi,” katanya.

Alasan utama Dwi datang ke Jepang adalah demi masa depan keluarganya. 

Ia memiliki tiga anak di Indonesia dan berharap bisa menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi.

“Kalau tetap di Indonesia, itu cukup berat. Di Jepang ada batas usia maksimal 45 tahun untuk menjadi sopir bus. Saya sudah 41 tahun, jadi saya pikir ini kesempatan terbaik,” ungkapnya.

Dwi bukanlah orang asing bagi Jepang. Ia pernah bekerja di pabrik Jepang dan juga memiliki pengalaman sebagai penerjemah bahasa Jepang di Indonesia. 

Meski belum pernah menjadi sopir bus sebelumnya, ia memutuskan mencoba tantangan baru ini demi keluarganya.

Pelatihan dimulai dari praktik mengemudi di jalan umum. 

Pada sesi pertama, Dwi tampak tegang, namun perlahan mulai rileks. 

Dengan arahan instruktur, ia mampu melewati tikungan sempit yang menjadi tantangan utama bagi kendaraan besar seperti bus.

“Perhatikan roda belakang, belok lebih besar,” ujar instruktur.

Setelah latihan, instruktur memuji kemampuan Dwi, terutama dalam memperhatikan spion dan lingkungan sekitar.

“Sudah bagus sekali. Memperhatikan penumpang itu sangat penting. Walau belum membawa penumpang, Anda sudah bisa melakukan itu,” kata sang instruktur.

Baca juga: Hasil Klasemen Liga Arab Saudi: Tekanan Al Nassr Bungkam Al Hilal Meningkat, King Kejar Ronaldo

Usai latihan, Dwi mengaku mulai merasakan tanggung jawab besar sebagai pengemudi bus di Jepang.

“Kami membawa nyawa para penumpang. Saya ingin mengemudi dengan penuh tanggung jawab. Saya ingin anak-anak saya melihat saya bekerja di Jepang. Semua ini saya lakukan untuk keluarga,” ujarnya.

Ketiga WNI tersebut kini tinggal bersama di asrama Meitetsu Bus di depo Toyota. Mereka saling memberi dukungan dan berbagi pengalaman selama pelatihan.

Seto, salah satu peserta, mengatakan hidup bersama membuat mereka lebih mudah saling mengingatkan. 

“Kami tinggal bersama, jadi bisa saling memberi saran kalau ada yang keliru,” katanya.

Azam, peserta lainnya, menambahkan, “Kami bertiga tumbuh bersama.”

Pihak Meitetsu Bus menyebut rekrutmen tenaga asing sebagai langkah strategis menghadapi menurunnya jumlah tenaga muda di Jepang.

“Dengan populasi yang menua dan berkurangnya generasi muda, kami memandang perlu merekrut tenaga kerja asing demi masa depan,” ujar Hideaki Yokoi dari divisi SDM Meitetsu Bus.

Salah satu alasan Indonesia dipilih adalah kesamaan sistem lalu lintas.

 “Indonesia sama seperti Jepang: setir kanan dan lalu lintas kiri. Lampu lalu lintas juga serupa. Itu membuat adaptasi lebih mudah,” jelas Yokoi.

Baca juga: Beasiswa Ajinomoto 2027 ke Jepang Dibuka, Kuliah S2 Gratis dan Dapat Biaya Hidup Bulanan

Selain itu, ketiga WNI ini telah mengikuti pelatihan di sebuah sekolah mengemudi di Indonesia yang didirikan oleh perusahaan Jepang

Sekolah tersebut dibangun dari nol, lengkap dengan lintasan seluas sekitar 6.000 meter persegi, menggunakan bus Jepang, serta mengajarkan bahasa Jepang hingga tingkat yang diperlukan untuk ujian SIM Jepang.

Hingga kini, sembilan orang Indonesia telah bekerja di perusahaan bus Jepang, termasuk tiga di Meitetsu Bus. 

Lebih dari 50 calon lainnya dijadwalkan datang dalam waktu dekat.

“Permintaan tidak hanya datang dari perusahaan bus, tapi juga dari pemerintah daerah tingkat prefektur dan kota,” kata Kenichi Hikawa, pendiri lembaga pelatihan tersebut.

Dengan meningkatnya minat dan kebutuhan, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu sumber utama pengemudi bus di Jepang, sekaligus membuka peluang baru bagi tenaga kerja Indonesia di sektor transportasi publik Negeri Sakura.

Diskusi  loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved