Senin, 4 Mei 2026

Krisis Energi Global Dorong Singapura dan Selandia Baru Perkuat Kerja Sama Dagang

Singapura dan Selandia Baru menandatangani perjanjian untuk memastikan perdagangan barang penting tetap berjalan saat krisis.

Tayang:
Editor: Tiara Shelavie
Instagram
SELANDIA BARU-SINGAPURA - PM Selandia Baru Christopher Luxon dan PM Singapura Lawrence Wong saat menandatangani perjanjian untuk memastikan perdagangan barang penting tetap berjalan saat krisis di Singapura, 4 Mei 2026. (Instagram @christopherluxon) 
Ringkasan Berita:
  • Singapura dan Selandia Baru menandatangani perjanjian untuk memastikan perdagangan barang penting tetap berjalan saat krisis. 
  • Kesepakatan ini mencakup bahan bakar, produk medis, dan material konstruksi. 
  • Kedua negara berharap model tersebut dapat diadopsi negara lain di tengah ketidakpastian geopolitik global.

TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin Singapura dan Selandia Baru menandatangani perjanjian pada Senin untuk menjaga rantai pasok tetap terbuka selama masa krisis.

Mengutip Reuters, keduanya juga berharap kesepakatan ini dapat menjadi model bagi negara lain dalam membangun jaringan mitra tepercaya.

Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon menyaksikan penandatanganan tersebut bersama mitranya dari Singapura, Lawrence Wong, dalam kunjungannya ke Singapura

Kunjungan ini berlangsung saat pasokan energi global terganggu akibat perang di Timur Tengah.

Sekitar sepertiga bahan bakar Selandia Baru dimurnikan di Singapura.

Perjanjian bernama Agreement on Trade in Essential Supplies ini sebenarnya disepakati saat kunjungan Wong ke Selandia Baru pada Oktober tahun lalu, sebelum konflik Timur Tengah pecah.

Baca juga: Perang Iran Picu Gangguan Minyak Global, Jepang dan Australia Perkuat Kerja Sama

Kesepakatan tersebut memastikan kedua negara tetap dapat memperdagangkan daftar barang penting yang telah disetujui selama masa krisis, termasuk bahan bakar, produk medis, dan material konstruksi.

Wong mengatakan dirinya terbuka jika negara-negara lain di kawasan ikut bergabung dengan standar baru ini.

Ia mencontohkan bagaimana kemitraan sebelumnya yang melibatkan Brunei, Chile, Selandia Baru, dan Singapura kemudian berkembang hingga menjadi perjanjian dagang Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).

Luxon menyatakan dirinya juga menyambut minat dari negara-negara yang memiliki pandangan serupa terhadap kerangka kerja perjanjian ini.

Menurutnya, hal ini penting di tengah tantangan pergeseran geopolitik dari dunia multilateral berbasis aturan menuju dunia multipolar yang semakin digerakkan oleh kekuatan.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved