Sabtu, 2 Mei 2026

Iran Memanas

Iran Tak Minat Perang, tapi Siap Jika AS Pilih Intervensi Militer

Menteri Luar Negeri Iran mengindikasikan negaranya tak minat berperang, tapi siap merespons jika AS pilih opsi intervensi militer di tengah demo Iran.

Tayang:
Tangkapan Layar YouTube Al Jazeera
IRAN SIAP MERESPONS - Tangkapan layar YouTube Al Jazeera, Selasa (13/1/2026). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berbicara dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Senin (12/1/2026). Araghchi membuka opsi dialog dan juga memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa Teheran siap berperang jika Washington ingin "menguji" kesiapan Iran. 

Ringkasan Berita:
  • Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Iran terbuka untuk dialog dengan AS.
  • Iran juga tak gentar untuk menanggapi setiap aksi militer AS, jika Presiden AS Donald Trump memilih melakukan intervensi militer di tengah demo anti-pemerintah di Iran.
  • Araghchi menuduh AS dan Israel berupaya memperburuk situasi di Iran.
  • Sebagai bagian dari ancaman, Trump akan mematok tarif 25 persen ke mitra dagang Iran.

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan Amerika Serikat (AS), Teheran siap berperang jika Washington ingin "menguji" kesiapan Iran.

Peringatan itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil langkah militer sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi anti-pemerintah yang berlangsung sejak 28 Desember.

Araghchi mengatakan saluran komunikasi dengan AS tetap terbuka di tengah gejolak yang sedang berlangsung, tetapi menekankan negaranya siap untuk semua opsi.

“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang pernah mereka uji sebelumnya, kami siap untuk itu,” kata Araghchi dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Senin (12/1/2026).

Menteri tersebut mengingat bagaimana negaranya merespons dengan serangan ke pangkalan militer AS di Qatar dan Irak, setelah AS mengebom fasilitas nuklirnya pada Juni tahun lalu.

Ia menambahkank, Iran berharap AS akan memilih opsi bijak berupa dialog dan meninggalkan ancaman militer.

"Kami memperingatkan mereka yang mencoba menyeret Washington ke dalam perang untuk melayani kepentingan Israel," lanjutnya.

Dalam wawancara tersebut, Araghchi menyinggung meningkatnya jumlah korban jiwa, mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa "unsur-unsur teroris" telah menyusup ke kerumunan demonstran dan menargetkan pasukan keamanan serta para demonstran.

Iran menyalahkan AS dan Israel yang dituduh memprovokasi kerusuhan di negara itu selama dua minggu terakhir.

Araghchi: Teroris Mossad Menyusup di Barisan Demonstran

Sebelumnya dalam pernyataan terpisah, Araghchi mengatakan AS berupaya memperburuk situasi di Iran agar mereka memiliki alasan untuk melakukan intervensi militer.

Baca juga: Khamenei Unggah Foto Trump Seperti Firaun, AS Beri Kode Serang Iran Paling Cepat Pekan Depan

“Sejak Trump mengancam akan campur tangan, protes telah berubah menjadi kekerasan berdarah untuk membenarkan intervensi,” kata Araqchi kepada konferensi para duta besar di Teheran, Senin (12/1/2026).

“Pernyataan presiden Amerika merupakan campur tangan dalam urusan internal negara,” katanya.

Ia juga menuduh sekutu AS, Israel, mengirim agen intelijen Mossad untuk memperburuk situasi di Iran.

"Kelompok teroris bersenjata telah menyusup ke barisan para demonstran," ujarnya, seraya menegaskan bahwa pemerintah memiliki bukti bahwa pasukan keamanan ditembaki dalam upaya untuk melebih-lebihkan jumlah korban.

"Teroris menerima dukungan dari pihak eksternal untuk menghasut demonstrasi," katanya, lalu menambahkan bahwa, "Agen Mossad ikut serta dalam demonstrasi untuk memicu kekerasan."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved