Sabtu, 24 Januari 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Dunia Terbelah Menyikapi Protes Iran dan Ancaman Militer Amerika Serikat

Protes berkepanjangan di Iran memicu reaksi global yang terbelah, di tengah ancaman militer AS terhadap Teheran.

Shorts YouTube TRT World
DEMO DI TEHERAN. Gambar merupakan kolase tangkap layar dari Shorts YouTube TRT World, Rabu (25/6/2025) menunjukkan ribuan orang berunjuk rasa di Teheran menuntut pembalasan terhadap Israel. Protes nasional yang berlangsung di Iran sejak akhir Desember terus memicu perhatian dan reaksi dari dunia internasional. 

Ringkasan Berita:
  • Protes nasional di Iran sejak akhir Desember memicu perhatian global, dengan AS dan sekutunya mendukung demonstran serta menuding pemerintah Iran bertindak represif, sementara negara lain menolak campur tangan asing.
  • Iran mengakui keluhan ekonomi warga dan menegaskan tak ingin perang, namun siap menghadapi ancaman militer AS.
  • Respons internasional terpecah, mulai dari ancaman sanksi dan opsi militer hingga seruan penyelesaian damai dan perlindungan kedaulatan Iran.

 

TRIBUNNEWS.COM - Protes nasional yang berlangsung di Iran sejak akhir Desember 2025 terus memicu perhatian dan reaksi dari dunia internasional.

Situasi ini semakin menjadi sorotan setelah Amerika Serikat menyampaikan ancaman kemungkinan tindakan militer terhadap Teheran.

Sikap negara-negara dan organisasi global pun terpecah dalam menanggapi krisis tersebut.

Amerika Serikat bersama sejumlah sekutunya menyatakan dukungan kepada para demonstran dan menuding pemerintah Iran merespons aksi protes dengan cara-cara keras.

Namun, di sisi lain, beberapa negara justru menyuarakan kekhawatiran adanya campur tangan pihak asing yang dinilai dapat memperkeruh situasi dan memicu kerusuhan di Iran.

Sejumlah pejabat senior Iran mengakui adanya keluhan masyarakat, khususnya terkait tekanan ekonomi dan melonjaknya biaya hidup.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pentingnya membedakan antara warga yang berunjuk rasa karena masalah ekonomi dan pihak-pihak yang disebutnya sebagai perusuh yang berupaya menimbulkan perpecahan.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang.

Kendati begitu, ia menyatakan Teheran siap menghadapi berbagai kemungkinan menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terkait opsi militer terhadap Iran.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan sedikitnya 109 personel keamanan tewas sejak gelombang protes berlangsung.

Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban dari kalangan demonstran.

Baca juga: Trump Perintahkan Warganya Angkat kaki dari Iran, Sinyal Serangan Semakin Dekat?

Namun, kelompok oposisi di luar negeri mengklaim jumlah korban jiwa mencapai ratusan, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Situasi di Iran masih menjadi perhatian dunia, dengan respons internasional yang menunjukkan perbedaan pandangan terkait dinamika politik dan keamanan di negara tersebut.

Amerika Serikat

Trump memperingatkan para pemimpin Iran agar tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved