Misteri Pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi, Putra Muammar Gaddafi
Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, tewas dalam serangan bersenjata di rumahnya di Zintan.
Ayahnya, Muammar Gaddafi, merupakan pemimpin Libya yang lahir pada 7 Juni 1942 dan meninggal pada 20 Oktober 2011 di Sirte, Libya, setelah ditangkap oleh pasukan oposisi dalam konflik Revolusi Libya.
Muammar Gaddafi berkuasa di Libya selama sekitar 42 tahun, sejak kudeta militer tahun 1969 yang menggulingkan Raja Idris I hingga jatuhnya rezimnya pada 2011.
Sejak akhir 1990-an, putra kedua Muammar Gaddafi, Saif al-Islam Gaddafi, mulai tampil di panggung nasional dan internasional, memimpin Yayasan Amal Gaddafi untuk Pembangunan serta terlibat dalam berbagai isu penting Libya.
Ia berperan dalam penyelesaian kasus internasional besar, seperti pembebasan sandera Abu Sayyaf di Filipina, penyelesaian kasus pengeboman Lockerbie, serta penghapusan program nuklir Libya yang membuka jalan normalisasi hubungan dengan Barat.
Pada pertengahan 2000-an, ia mempromosikan gagasan reformasi lewat slogan “Libya Masa Depan”.
Saat Revolusi Libya 2011 meletus, Saif al-Islam menjadi tokoh kunci kedua setelah ayahnya dan kerap tampil di televisi membela rezim Gaddafi serta mengecam para pemberontak.
Ia ditangkap pada November 2011 dan dipenjara di Zintan, sementara Libya menolak menyerahkannya ke Mahkamah Pidana Internasional meski ia dituduh melakukan kejahatan perang.
Pada 2015, pengadilan di Tripoli menjatuhkan hukuman mati secara in absentia, namun ia dibebaskan pada April 2016 berdasarkan undang-undang amnesti.
Pada November 2021, Saif kembali muncul ke publik dengan mencalonkan diri sebagai presiden Libya.
Pada 3 Februari 2026, ia dilaporkan tewas akibat penembakan di kediamannya di Zintan, dengan detail kejadian yang belum sepenuhnya terungkap, seperti diberitakan Al Jazeera.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/S4if-al-Islam-G4ddafi-34534534534.jpg)