Senin, 8 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Negosiasi Nuklir AS-Iran Dimulai, Trump Ikut Secara Tak Langsung

Negosiasi nuklir antara AS dan Iran dilanjutkan pada hari ini di Jenewa. Presiden AS Donald Trump ikut dalam pembicaraan itu secara tak langsung.

Tayang:
Editor: Nuryanti
Facebook The White House
PRESIDEN AS TRUMP - Foto diambil dari Facebook The White House, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada 9 Januari 2026. -- Negosiasi nuklir antara AS dan Iran dilanjutkan pada hari ini, Selasa (17/2/2026), di Jenewa. Presiden AS Donald Trump ikut dalam pembicaraan itu secara tak langsung. 

Militer Amerika Serikat dilaporkan tengah menyiapkan opsi kampanye militer jangka panjang apabila jalur diplomasi dengan Iran gagal mencapai kesepakatan, sebagaimana disampaikan sejumlah pejabat AS kepada Reuters.

Menanggapi peluang tercapainya kesepakatan, Donald Trump menyebut Iran memang menginginkan negosiasi yang alot, namun menurutnya Teheran telah memahami konsekuensi dari sikap keras tersebut setelah AS membom fasilitas nuklir Iran pada musim panas lalu.

Sebelum Washington bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap situs nuklir Iran pada Juni, dialog nuklir antara AS dan Iran sempat menemui jalan buntu. 

Kebuntuan terjadi karena tuntutan Amerika agar Iran menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri—langkah yang dinilai Washington dapat membuka jalan bagi pengembangan senjata nuklir.

Sementara itu, pada hari Senin organisasi pertahanan sipil Iran menggelar latihan pertahanan kimia di Zona Ekonomi dan Energi Khusus Pars. 

Latihan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan insiden kimia di kawasan pusat energi strategis yang berada di wilayah selatan Iran.

Apa Itu Perjanjian Nuklir Iran dan AS?

Perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disepakati pada 2015 merupakan kesepakatan antara Iran dan sejumlah negara besar dunia, di mana Teheran bersedia membatasi program nuklirnya agar tidak berkembang menjadi senjata, sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi internasional.

Namun, pada 2018, Amerika Serikat memutuskan keluar dari perjanjian tersebut, langkah yang kembali meningkatkan ketegangan dengan Iran dan membuat proses negosiasi berikutnya berulang kali mengalami kebuntuan.

Washington terus menekan Iran agar menghentikan pengayaan uranium, karena dinilai berpotensi membuka jalan menuju pengembangan senjata nuklir. Sebaliknya, Teheran memandang tuntutan itu sebagai pelanggaran terhadap hak kedaulatan negaranya dan menolak untuk mematuhinya.

Iran menegaskan bahwa mereka berhak melakukan pengayaan uranium selama berada di bawah pengawasan internasional, sementara AS menginginkan pembatasan yang jauh lebih ketat guna memastikan program tersebut tidak dapat diarahkan pada pembuatan senjata nuklir.

Situasi semakin memanas dengan meningkatnya ketegangan militer, termasuk penguatan kehadiran militer AS di kawasan Teluk, ancaman terhadap fasilitas nuklir Iran, serta serangan terhadap fasilitas tersebut tahun lalu, yang semakin menyulitkan upaya diplomasi kedua pihak, seperti dijelaskan Al Jazeera.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved