Selasa, 21 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Bakal 'Butakan Mata' AS Jika Perang Pecah, Radar AN/TPY-2 Jadi Target Rudal Hipersonik

Teheran telah memberi sinyal bahwa pangkalan militer AS di kawasan Teluk akan diserang jika Washington memulai serangan.

HO/IST
TARGET IRAN - Radar AN/TPY-2 yang mendukung arsitektur THAAD ditempatkan strategis di Timur Tengah, termasuk di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Radar ini bertujuan menyediakan data pelacakan resolusi tinggi terhadap potensi peluncuran rudal balistik Iran.  

Ringkasan Berita:
  • Rencana Iran: Teheran disebut memiliki “rahasia terbuka” berupa rencana menyerang radar AN/TPY-2 milik AS di Qatar, UEA, Arab Saudi, dan Turki. 
  • Radar ini adalah tulang punggung sistem pertahanan rudal THAAD dan Patriot.
  • Serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 dan balasan Iran ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar mengubah retorika menjadi serangan nyata. 
  • Hal ini memperkuat kalkulasi Iran bahwa aset radar AS adalah sasaran sah.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Analis pertahanan dan pejabat intelijen negara-negara Timur Tengah meyakini Iran akan menghancurkan sistem radar AN/TPY-2 milik Amerika Serikat di Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta Turki, dalam gelombang pertama serangan balasan jika mereka diserang.

Penilaian ini bukan sekadar dugaan, melainkan berlandaskan pada peringatan eksplisit Iran kepada ibu kota Teluk dan Ankara. 

Teheran menyadari bahwa menonaktifkan radar X-band beresolusi tinggi ini akan secara kritis melemahkan arsitektur pertahanan rudal berlapis yang melindungi pasukan AS, sekutu regional, dan infrastruktur vital di kawasan Teluk.

Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan kerangka pencegahan tersebut dengan pernyataan," Setiap tangan intervensi yang terlalu dekat dengan keamanan Iran akan dipotong.” 

Pernyataan ini secara luas ditafsirkan sebagai peringatan langsung kepada negara tuan rumah instalasi pertahanan AS.

Ancaman diperluas oleh Hameed Reza Moqaddam Far, penasihat senior Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), yang dalam siaran langsung memperingatkan bahwa balasan bisa meluas tidak hanya ke pangkalan militer AS, tetapi juga aset properti Donald Trump di UEA.

Presiden Donald Trump, dalam pidato 28 Januari lalu, mengumumkan pengerahan apa yang ia sebut sebagai “armada besar” ke perairan Iran, dengan tuntutan perjanjian nuklir baru. 

Teheran menilai langkah ini sebagai eskalasi koersif, bukan diplomasi. Serangan udara AS ke situs nuklir Iran pada Juni 2025 dan balasan Iran ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar mengubah retorika permusuhan menjadi pertukaran serangan nyata, memperkuat kalkulasi Iran bahwa aset AS di luar negeri, termasuk radar, adalah sasaran sah dalam doktrin pencegahannya.

Mengutip laporan Defence Security Asia, laporan intelijen regional menunjukkan Teheran telah secara resmi mengomunikasikan kepada Qatar dan Arab Saudi niatnya untuk menargetkan aset Amerika, termasuk radar, jika serangan AS berlanjut. 

Profesor Mehran Kamrava mengungkapkan, Iran secara eksplisit telah memperingatkan Doha dan Riyadh bahwa mereka akan membalas terhadap target Amerika di negara-negara tersebut.

”Dalam konteks ini, radar AN/TPY-2 bukan sekadar sistem pengawasan, melainkan sensor fundamental yang memungkinkan baterai THAAD dan Patriot mencegat ancaman balistik. Kehilangan radar ini akan mengubah keseimbangan strategis antara kemampuan rudal Iran dan jaringan pertahanan Teluk," demikian dikutip Defence Security Asia.

Arti penting Radar AN/TPY-2

Radar AN/TPY-2 yang dikembangkan oleh Raytheon Technologies merupakan komponen pusat dari Sistem Pertahanan Rudal Balistik (BMDS) AS. Alat canggih ini menyediakan pelacakan pita-X (X-band) resolusi tinggi terhadap rudal balistik di fase boost, midcourse, hingga terminal.

Beroperasi dalam mode berbasis depan (forward-based), radar ini dapat mendeteksi dan melacak rudal balistik pada jarak melebihi 3.000 kilometer. 

Hal ini memperpanjang waktu peringatan dini bagi sekutu hingga hitungan menit—waktu yang sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan operasi pencegatan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved