Iran Vs Amerika Memanas
Media Israel: Tel Aviv Khawatir Pengkhianatan Donald Trump, Bisa Langsung Dihantam Iran
Israel cemas, Trump bernegosiasi dengan Iran yang hanya memenuhi kepentingan Amerika, serupa dengan apa yang terjadi dalam kasus Yaman.
Media Israel: Tel Aviv Khawatir Pengkhianatan Donald Trump dan Dihantam Langsung Iran
TRIBUNNEWS.COM - Surat kabar Israel, Maariv mengungkapkan adanya kekhawatiran yang meluas di kalangan politik dan keamanan di Israel mengenai arah kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di masa depan.
Sejumlah pengambil kebijakan di Israel memperingatkan tentang "mimpi buruk" yang akan terjadi jika Washington menyimpulkan kesepakatan cepat dan tiba-tiba dengan Iran yang hanya memenuhi kepentingan Amerika, serupa dengan apa yang terjadi dalam kasus Yaman.
Baca juga: Israel Tolak Bayar Iuran Rp 17 Triliun ke Dewan Perdamaian, Amerika Setuju
Analisis yang diterbitkan oleh surat kabar tersebut menunjukkan kalau kekhawatiran terbesar terletak pada upaya Trump untuk meraih "kemenangan pura-pura" yang akan memungkinkannya untuk menarik diri dari panggung politik dan negosiasi, sehingga Israel harus menghadapi ancaman secara langsung sebagai respons pembalasan Iran.
Surat kabar itu menjelaskan, pengalaman dengan Houthi Yaman membuktikan kemampuan Trump untuk menyimpulkan kesepakatan yang hanya melindungi kepentingan Amerika dan mengabaikan ancaman rudal balistik serta proksi regional langsung ke Israel, yang dapat diulangi Iran.
Skenario Terburuk Bagi Israel
Surat kabar tersebut mengkategorikan kemungkinan-kemungkinan hasil negosiasi AS-Iran yang akan datang berdasarkan tingkat ancamannya terhadap keamanan nasional Israel:
- Skenario terburuk (kesepakatan parsial):
AS-Iran menjalin kesepakatan yang tidak mengakhiri program nuklir dan tidak memengaruhi kemampuan rudal balistik, sebagai imbalan atas pelepasan sejumlah besar uang kepada rezim Iran, sehingga memberikan "jalan keluar" bagi kelangsungan hidup dan pendanaannya.
- Skenario menengah (serangan terbatas):
Washington melakukan serangan militer terbatas ke Iran yang diikuti oleh kesepakatan yang buruk, dengan surat kabar tersebut menyarankan bahwa respons Iran akan diarahkan ke Israel, sehingga Tel Aviv harus menanggung akibatnya tanpa mencapai keuntungan strategis.
Mengenai opsi yang lebih disukai oleh kepemimpinan Israel, Maariv menguraikan dua jalur:
- Skenario ideal: Operasi militer gabungan AS-Israel jangka panjang yang bertujuan untuk menghancurkan kemampuan nuklir dan balistik Iran serta menggulingkan rezim Iran.
Baca juga: Hitung Mundur Serangan, Trump Pertimbangkan Operasi Gabungan AS-Israel ke Iran
- Opsi alternatif: mempertahankan status quo dengan memperketat blokade angkatan laut, meningkatkan sanksi ekonomi, dan memicu opini publik domestik di Iran, dengan mempertimbangkan bahwa opsi ini masih jauh lebih baik daripada "kesepakatan yang buruk".
Surat kabar tersebut menyimpulkan laporannya dengan mencatat bahwa seluruh situasi tetap bergantung pada "keinginan" dan keputusan Trump yang tidak dapat diprediksi.
Ulasan tersebut menekankan kalau penumpukan militer Amerika yang besar di sekitar Iran tidak serta merta menjamin bahwa Washington akan melakukan konfrontasi komprehensif yang sesuai kepentingan dan ambisi Israel.
(oln/khbrn/maarv/*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-dan-Perdana-Menteri-Israel-Benjamin-Netanyahu-2.jpg)