Senin, 13 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

9 Bulan setelah Perang 12 Hari, Iran Hadapi Serangan AS-Israel, Negosiasi Nuklir Terancam

AS dan Israel serang Iran 9 bulan setelah perang 12 hari. Negosiasi nuklir terancam, ketegangan Timur Tengah meningkat tajam.

Namun, Perdana Menteri Netanyahu menyerukan tindakan militer untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran.

Ia menilai fasilitas nuklir Teheran merupakan ancaman eksistensial bagi Israel.

Serangan pada Sabtu menargetkan pejabat tinggi Iran, fasilitas rudal, dan lokasi nuklir strategis.

Media Iran melaporkan serangan mengenai Kementerian Intelijen, Kementerian Pertahanan, Organisasi Energi Atom, dan kompleks militer Parchin.

Sebagai balasan, Iran menyerang Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Teluk.

Serangan Iran menyasar negara-negara seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Netanyahu adalah perdana menteri terlama dalam sejarah Israel dan menentang Iran memiliki senjata nuklir sepanjang karier politiknya.

Pada 2015, ia menolak kesepakatan nuklir yang dicapai Presiden AS Barack Obama bersama sekutu Barat.

Kesepakatan yang dikenal sebagai JCPOA itu membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi.

Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan pada 2018, menyebutnya buruk, dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran.

Trump juga menekan Iran untuk menegosiasikan ulang kesepakatan nuklir.

Setelah Trump memenangkan masa jabatan keduanya, Israel melihat peluang menyerang Teheran.

Baca juga: Perang AS–Israel Vs Iran: 133 Warga Sipil Tewas dan 200 Terluka, Angka Korban Diprediksi Naik

Pada 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan dengan dukungan AS.

Beberapa fasilitas nuklir Iran dibom oleh Amerika Serikat.

Trump menyatakan serangan menghancurkan kemampuan nuklir Iran, tetapi menuntut Teheran membongkar program nuklir sepenuhnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved