Minggu, 10 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Daftar Persenjataan Iran untuk Melawan AS-Israel, dari Rudal Balistik hingga Drone Serang

Iran memiliki rudal, drone, dan pangkalan bawah tanah untuk melawan AS dan Israel. Persenjataan ini bisa memicu konflik besar di Timur Tengah.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Iran membalas serangan AS dan Israel dengan mengandalkan kekuatan rudal, drone, dan strategi militer regional.
  • Persenjataan tersebut mampu menjangkau Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.
  • Analis menilai konflik berpotensi meluas jika serangan terus berlanjut.

 

TRIBUNNEWS.COM - Setelah serangan gabungan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Teheran langsung memberikan respons militer.

Serangan pada Sabtu (28/2/2026) itu dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior negara tersebut.

Iran kemudian meluncurkan serangan balasan yang menargetkan Israel dan sejumlah lokasi militer yang berkaitan dengan pasukan AS di kawasan Timur Tengah.

Dilansir dari Al Jazeera, target serangan Iran juga mencakup fasilitas militer yang berada di negara-negara Teluk yang menampung pasukan Amerika Serikat.

Pertukaran serangan ini menimbulkan kekhawatiran baru di kawasan.

Banyak pihak mempertanyakan apakah konflik akan berhenti pada serangan balasan terbatas atau berkembang menjadi perang yang lebih luas.

Pertanyaan ini sangat berkaitan dengan kemampuan persenjataan Iran yang dinilai cukup besar di kawasan Timur Tengah.

Mengapa Konflik Kali Ini Dianggap Berbeda?

Berbeda dengan perang 12 hari pada Juni 2025, pembunuhan Khamenei membuat Iran menilai konflik kali ini sebagai ancaman terhadap kelangsungan negara.

Dalam pandangan pemerintah Iran, jika tidak membalas serangan tersebut maka negara akan terlihat lemah.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa membalas kematian Khamenei adalah kewajiban negara.

Ia menyebut pembalasan tersebut sebagai hak sah Iran.

Baca juga: Massa Turun ke Jalan Rayakan Kematian Khamenei di Balik Masa Berkabung Nasional Iran

Rudal Balistik Jadi Senjata Utama Iran

Program rudal menjadi kekuatan utama militer Iran.

Para analis pertahanan menyebut Iran memiliki salah satu persenjataan rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah.

Dilansir dari Reuters, rudal Iran mencakup rudal balistik dan rudal jelajah dengan berbagai jangkauan.

Rudal jarak terjauh Iran dapat mencapai sekitar 2.000 hingga 2.500 kilometer.

Jangkauan tersebut cukup untuk menjangkau Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Namun rudal Iran tidak mampu mencapai wilayah Amerika Serikat.

Rudal Jarak Pendek untuk Serangan Cepat

Iran memiliki rudal jarak pendek dengan jangkauan sekitar 150 hingga 800 kilometer.

Rudal ini biasanya digunakan untuk menyerang target militer di kawasan sekitar.

Beberapa sistem rudal yang dimiliki Iran antara lain Fateh, Zolfaghar, Qiam-1, serta Shahab-1 dan Shahab-2.

Rudal jarak pendek dapat diluncurkan secara cepat dan beruntun.

Taktik ini membuat lawan memiliki waktu sangat singkat untuk merespons.

Iran pernah menggunakan strategi ini pada 2020 ketika menyerang pangkalan udara Ain al-Assad di Irak setelah pembunuhan jenderal Qassem Soleimani oleh AS.

Serangan tersebut merusak fasilitas militer dan menyebabkan lebih dari 100 tentara AS mengalami cedera otak traumatis.

Rudal Jarak Menengah Mampu Jangkau Israel

Iran juga memiliki rudal jarak menengah dengan jangkauan sekitar 1.500 hingga 2.000 kilometer.

Rudal jenis ini mampu menjangkau wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Beberapa sistem rudal yang diketahui dimiliki Iran antara lain Shahab-3, Emad, Ghadr-1, Khorramshahr, serta Sejjil.

Rudal Sejjil menggunakan bahan bakar padat yang memungkinkan peluncuran lebih cepat.

Hal ini memberi Iran kemampuan merespons serangan dengan waktu persiapan yang lebih singkat.

Baca juga: AS-Israel Vs Iran: Wapres Iran Ambil Kendali Negara, Status Presiden Masoud Pezeshkian Jadi Sorotan

Rudal Jelajah dan Drone Tambah Tekanan

Selain rudal balistik, Iran juga memiliki rudal jelajah yang terbang rendah.

Rudal jenis ini lebih sulit dideteksi radar karena dapat mengikuti kontur medan.

Iran diketahui memiliki rudal jelajah seperti Soumar, Hoveyzeh, Paveh, Ya-Ali, serta Ra'ad.

Rudal Soumar memiliki jangkauan sekitar 2.500 kilometer.

Iran juga mengandalkan drone serang satu arah yang dapat diluncurkan dalam jumlah besar.

Drone ini lebih lambat dibandingkan rudal, tetapi jauh lebih murah dan dapat digunakan untuk menyerang secara bergelombang.

Para analis mengatakan taktik ini dapat melemahkan sistem pertahanan udara lawan.

“Kota Rudal” Bawah Tanah Iran

Iran juga membangun jaringan fasilitas penyimpanan rudal di bawah tanah.

Fasilitas ini sering disebut sebagai “kota rudal”.

Tempat tersebut berada di terowongan bawah tanah dan pangkalan tersembunyi di berbagai wilayah Iran.

Strategi ini bertujuan melindungi persenjataan dari serangan udara musuh.

Dengan cara ini, Iran masih dapat meluncurkan rudal meskipun terkena serangan awal.

Baca juga: Perang AS–Israel Vs Iran: 133 Warga Sipil Tewas dan 200 Terluka, Angka Korban Diprediksi Naik

Selat Hormuz Jadi Titik Strategis

Selain serangan darat, Iran juga dapat menekan jalur perdagangan global melalui Selat Hormuz.

Selat ini merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Iran dapat menggunakan rudal anti-kapal, ranjau laut, drone, dan kapal cepat untuk mengganggu pelayaran.

Bahkan ancaman kecil saja sudah cukup membuat pasar global bergejolak.

Dilansir dari Maersk, perusahaan pelayaran tersebut sempat menangguhkan pelayaran melalui Selat Hormuz karena meningkatnya risiko konflik.

Konflik Berpotensi Meluas

Iran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dianggap sebagai awal perang besar.

Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps juga mengancam akan melakukan serangan lanjutan.

Selain itu, konflik bisa meluas melalui kelompok sekutu Iran di kawasan.

Kelompok seperti Hezbollah di Lebanon dan Houthi di Yaman disebut berpotensi ikut terlibat.

Baca juga: Dari Board of Peace ke Prahara Teheran: Menguji Konsistensi Indonesia di Tengah Keretakan ASEAN

Jika konflik terus meningkat, pertukaran serangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dapat berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved