Iran Vs Amerika Memanas
Putin Janji Bakal Pasok Energi Global di Tengah Krisis Minyak, Prioritaskan Mitra Tepercaya
Putin janji tingkatkan pasokan minyak dan gas global di tengah krisis energi. Rusia fokus kirim energi ke mitra tepercaya saat harga minyak melonjak
Ringkasan Berita:
- Putin menyatakan Rusia akan meningkatkan pasokan minyak dan gas global, namun hanya diprioritaskan untuk negara mitra yang dianggap “tepercaya” di tengah krisis energi dunia.
- Lonjakan harga minyak dunia hingga sekitar 119 dolar AS per barel dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah, membuat persaingan global mendapatkan pasokan energi semakin ketat.
- Sementara itu Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan melonggarkan sanksi energi terhadap Rusia untuk menekan lonjakan harga energi global.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa negaranya meningkatkan pasokan minyak dan gas ke sejumlah negara mitra yang dianggap dapat diandalkan di berbagai kawasan dunia.
Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya persaingan global untuk mendapatkan pasokan energi akibat krisis geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam pertemuan di Kremlin pada Senin (9/3/2026) yang membahas perkembangan pasar minyak dan gas dunia.
Ia mengatakan pemerintah Rusia telah menerima laporan bahwa ekspor energi negara tersebut mulai diarahkan lebih besar kepada mitra yang memiliki hubungan kerja sama stabil dengan Moskow.
“Saya telah mendapat informasi bahwa kami meningkatkan pasokan kepada mitra-mitra tepercaya kami, dan itu dilakukan di beberapa kawasan sekaligus,” kata Putin dalam pertemuan tersebut.
Persaingan Energi Global Meningkat
Menurut Putin, krisis geopolitik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah telah memicu lonjakan harga energi di pasar global.
Bahkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga mencapai 119 dolar AS per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2022.
Analis teknikal dari Reuters bahkan memproyeksikan harga minyak berpotensi menembus 120 hingga 128 dolar AS per barel apabila ketegangan geopolitik terus meningkat dan pasokan energi global terganggu.
Akibat situasi ini negara-negara pengimpor berlomba-lomba mengamankan pasokan minyak dan gas guna menjaga stabilitas ekonomi mereka.
Termasuk Rusia yang berpeluang untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemasok energi utama dunia.
Baca juga: Cerita Mahasiswi Asal Aceh Nekat Bertahan di Teheran Iran, Dentuman Rudal Jadi Makanan Sehari-hari
“Jika saat ini kami mengalihkan fokus pada pasar-pasar yang membutuhkan peningkatan pasokan, kami dapat memperkuat posisi di sana,” ujarnya.
Namun Rusia menegaskan bahwa pasokan energi hanya akan diprioritaskan kepada negara yang memiliki hubungan diplomatik baik atau dianggap sebagai mitra tepercaya.
Trump Pertimbangkan Cabut Sanksi Energi Rusia
Di tengah situasi yang panas akibat lonjakan harga minyak, Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan energi guna meredam lonjakan harga minyak global.
Salah satu opsi yang sedang dikaji oleh Gedung Putih adalah melonggarkan atau mencabut sementara sanksi terhadap ekspor minyak Rusia, sekaligus membuka kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis Amerika Serikat ke pasar internasional.
Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk meningkatkan pasokan energi global dan menekan kenaikan harga minyak yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi dunia.