Rabu, 3 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Disebut Kecewa pada Indonesia, Pakar Maritim Soroti Dampak Perang Timur Tengah

Pakar maritim Siswanto Rusdi menilai Iran kecewa pada Indonesia dan memperingatkan dampak perang Timur Tengah bagi energi nasional.

Tayang:

Ia juga mengungkapkan adanya kapal tanker Indonesia yang dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia.

“Empat kapal tanker Indonesia di sana tidak bisa keluar. Dan menurut informasi yang saya terima, tidak ada dispensasi untuk Indonesia,” ujarnya.

Pemerintah diminta siapkan skenario krisis

Siswanto menilai pemerintah perlu lebih terbuka kepada masyarakat mengenai potensi dampak konflik terhadap ekonomi nasional, terutama terkait pasokan energi.

Ia menyebut pemerintah menyatakan cadangan energi Indonesia cukup untuk sekitar 21 hari, namun tidak dijelaskan secara rinci kondisi pasokan yang sebenarnya.

“Kalau perang berlanjut, ini rawan. Kita sangat bergantung pada minyak dari kawasan itu,” kata dia.

Selain BBM, dampak juga bisa terasa pada kenaikan biaya logistik dan harga barang karena meningkatnya ongkos pengiriman.

“Biaya angkut akan naik, asuransi kapal naik, dan itu memukul semua sektor perdagangan,” ujarnya.

Siswanto juga memperkirakan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Menurutnya, perang tersebut bisa berlangsung setidaknya enam bulan atau bahkan lebih lama.

“Perang ini tidak akan selesai cepat. Dugaan saya minimal enam bulan,” kata Siswanto.

Ia menilai Iran memiliki motivasi kuat untuk terus melanjutkan perlawanan, terutama setelah tewasnya pemimpin tertinggi negara tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung.

“Iran merasa ini perang eksistensial. Mereka siap habis-habisan,” ujarnya.

Baca juga: 100 Jam Pertama Serangan AS ke Iran Telan Biaya 5,82 Miliar Dolar AS

Indonesia diminta kembali ke politik luar negeri bebas aktif

Di akhir pembicaraan, Siswanto menilai Indonesia perlu kembali menegaskan posisi politik luar negeri yang independen.

Menurutnya, Indonesia seharusnya kembali pada prinsip nonblok dan tidak terlihat berpihak pada salah satu kekuatan besar.

“Indonesia harus kembali ke jati dirinya, yaitu politik luar negeri bebas dan aktif. Jangan hanya teori bebas aktif, tetapi praktiknya justru berpihak,” kata Siswanto.

Ia juga menilai hubungan Indonesia dan Iran selama ini sebenarnya cukup baik dan memiliki sejarah panjang.

Namun, menurutnya, hubungan tersebut kini sedang diuji oleh dinamika geopolitik yang berkembang di kawasan Timur Tengah. (*)

Sesuai Minatmu
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved