Kamis, 23 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Timur Tengah Memanas, Australia Tarik Staf dari Israel-UEA usai Ancaman Mojtaba Khamenei

Australia tarik staf diplomatik dari Israel dan UEA setelah ancaman balas dendam Mojtaba Khamenei. Ketegangan Timur Tengah kian memanas.

Ringkasan Berita:
  • Australia menarik staf diplomatik non-esensial dari Israel dan United Arab Emirates serta mengevakuasi warga negaranya menyusul memburuknya keamanan di Timur Tengah.
  • Langkah ini dipicu ancaman balas dendam dari pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, setelah kematian Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS dan Israel.
  • Ketegangan juga mengguncang pasar energi setelah Iran memerintahkan Islamic Revolutionary Guard Corps menutup Strait of Hormuz, mendorong harga minyak dunia melonjak tajam.

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan konflik Timur Tengah yang terus meningkat mendorong Australia mengambil langkah darurat dengan menarik sebagian staf diplomatiknya dari kawasan tersebut.

Pemerintah Australia memerintahkan para pejabat non-esensial yang bertugas di Israel dan Uni Arab Emirates untuk segera meninggalkan negara penugasan menyusul memburuknya situasi keamanan di kawasan.

Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, melalui pernyataan di media sosial pada Jumat (13/3/2026).

Dalam cuitannya ia menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil sebagai langkah pencegahan guna melindungi keselamatan staf diplomatik Australia di tengah meningkatnya eskalasi konflik regional.

Menurut Wong, pemerintah Australia hanya menarik staf yang tidak memiliki peran vital, sementara sejumlah pejabat penting tetap berada di lokasi untuk membantu warga negara Australia yang masih berada di wilayah tersebut.

Lebih lanjut pemerintah Australia juga mempercepat proses evakuasi warga negaranya dari kawasan Timur Tengah.

Dua penerbangan yang membawa total 307 warga Australia dan penduduk tetap dijadwalkan tiba di Melbourne dan Sydney pada Jumat pagi setelah diberangkatkan dari Uni Emirat Arab.

Selain itu, pemerintah Australia turut menyiapkan empat penerbangan tambahan pada malam hari yang akan digunakan untuk memulangkan warga Australia lainnya, tergantung pada kondisi keamanan dan ketersediaan wilayah udara di kawasan tersebut.

Langkah evakuasi ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah.

Banyak negara kini mulai memprioritaskan keselamatan warganya sambil terus memantau perkembangan situasi geopolitik yang masih sangat dinamis.

Timteng Memanas usai Digertak Mojtaba Khamenei

Langkah evakuasi ini dilakukan setelah pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pernyataan keras terkait konflik yang sedang berlangsung.

Mojtaba Khamenei sendiri resmi menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 8 Maret setelah ayahnya, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama serangan gabungan yang dilakukan oleh United States dan Israel terhadap Iran.

Pergantian kepemimpinan tersebut terjadi di tengah situasi perang yang semakin memanas di kawasan.

Baca juga: Perang Iran Guncang Jalur Minyak Global, Selat Hormuz Tercekik, Terusan Panama Jadi Rute Alternatif

Dalam pernyataan publik pertamanya sejak dilantik, ia bersumpah akan membalas kematian warga Iran yang menjadi korban serangan militer dalam konflik Timur Tengah yang semakin meluas.

Mojtaba juga menegaskan bahwa Iran tidak akan mengabaikan tuntutan pembalasan terhadap kematian para korban yang disebutnya sebagai “martir”.

“Kita akan membalas darah para martir kita,” tambah Khamenei.

Ia menyatakan bahwa sebagian dari pembalasan tersebut telah mulai terlihat, namun menegaskan bahwa Iran akan terus mengejar balasan hingga tuntutan tersebut terpenuhi sepenuhnya.

Pernyataan tersebut semakin memperbesar kekhawatiran negara-negara Barat mengenai potensi eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Ancaman pembalasan dari Iran dinilai dapat memicu serangan lanjutan yang berpotensi melibatkan lebih banyak negara di kawasan.

Efek Blokade Kerek Harga Minyak

Lebih lanjut, harga minyak dunia kembali melonjak tajam setelah ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat menyusul keputusan pemerintah Iran memerintahkan pasukan elitnya, Islamic Revolutionary Guard Corps, untuk menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. 

Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran global karena selat ini merupakan jalur utama pengiriman energi dunia.

Berdasarkan data pasar energi Refinitiv, harga minyak mentah jenis Brent Crude pada Kamis (12/3/2026) pukul 11.31 WIB tercatat berada di level 110,02 dolar AS per barel atau melonjak sekitar 8,7 persen dalam satu sesi perdagangan. 

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai 94,21 dolar AS per barel, atau naik sekitar 8 persen.

Lonjakan tersebut memperpanjang tren kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir. 

Pada perdagangan sehari sebelumnya, harga Brent tercatat telah naik sekitar 4,7 persen, sedangkan WTI meningkat sekitar 4,6 persen.

Kenaikan beruntun ini menunjukkan kekhawatiran pasar energi terhadap potensi gangguan pasokan minyak global yang semakin serius.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved