Selasa, 28 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pangkalan Inggris Tampung C-130 Super Hercules AS dan Pembom B-1, Meski Trump dan Starmer Berselisih

Pangkalan RAF Fairford di Inggris menampung pesawat C-130J Super Hercules dan pembom B-1B Lancer untuk mendukung operasi terhadap Iran.

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS
Tangkap layar video Viory
PERANG IRAN - Tangkap layar Viory 17 Maret 2026, memperlihatkan Pesawat US C-130 Hercules sedang bergerak di landasan pacu pangkalan udara Inggris, Fairford. Pangkalan Inggris menampung pesawat C-130 Super Hercules AS dan pesawat pembom B-1 di tengah serangan Iran meskipun terjadi perselisihan besar antara Donald Trump dan PM Keir Starmer. 
Ringkasan Berita:
  • Pangkalan RAF Fairford di Inggris menampung pesawat C-130J Super Hercules dan pembom B-1B Lancer untuk mendukung operasi terhadap Iran
  • Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berselisih mengenai penggunaan pangkalan Inggris. 
  • Inggris menegaskan tidak ingin terseret dalam perang ofensif dan lebih fokus pada pertahanan.


TRIBUNNEWS.COM - Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan (RAF) Fairford, yang menjadi titik transit utama pengerahan Satuan Tugas Pengebom Angkatan Udara AS, menampung pesawat C-130J Super Hercules bersama sejumlah pesawat pengebom jarak jauh B-1B Lancer di tengah meningkatnya serangan terhadap target Iran.

Rekaman yang diambil Viory pada Selasa (17/3/2026) menunjukkan pesawat C-130 Hercules milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) bergerak di landasan, serta bom JDAM yang diturunkan dari pesawat oleh personel militer.

Inggris sempat tidak mengizinkan AS menggunakan pangkalan udaranya untuk serangan awal terhadap Iran.

Namun, Inggris kemudian menyetujui penggunaan pangkalannya pada Maret 2026 untuk mendukung operasi terhadap target Iran.

Kedatangan pesawat-pesawat di pangkalan Fairford terjadi setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa serangan terhadap Iran akan meningkat secara dramatis.

PERANG IRAN - Tangkap layar Viory 17 Maret 2026, memperlihatkan Pesawat US C-130 Hercules sedang bergerak di landasan pacu pangkalan udara Inggris, Fairford. Pangkalan Inggris menampung pesawat C-130 Super Hercules AS dan pesawat pembom B-1 di tengah serangan Iran meskipun terjadi perselisihan besar antara Donald Trump dan PM Keir Starmer.
PERANG IRAN - Tangkap layar Viory 17 Maret 2026, memperlihatkan Pesawat US C-130 Hercules sedang bergerak di landasan pacu pangkalan udara Inggris, Fairford. Pangkalan Inggris menampung pesawat C-130 Super Hercules AS dan pesawat pembom B-1 di tengah serangan Iran meskipun terjadi perselisihan besar antara Donald Trump dan PM Keir Starmer. (Tangkap layar video Viory)

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia tengah mengumpulkan koalisi sekitar tujuh sekutu untuk membantu menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, meskipun klaim tersebut belum dikonfirmasi.

Ia juga menambahkan bahwa masa depan NATO akan sangat buruk jika bantuan tidak diberikan.

Sebagai tanggapan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20 persen lalu lintas minyak global, tetap terbuka bagi negara-negara sahabat dan non-musuh, tetapi tertutup bagi pihak yang dianggap musuh atau berkolaborasi dengan mereka.

AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.

Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta aset AS di kawasan tersebut.

Konflik pun meluas hingga Israel dan Hizbullah saling melancarkan serangan di perbatasan Lebanon.

PM Inggris Keir Starmer dan Presiden AS Donald Trump Berselisih soal Iran

Sebelum perang Iran vs Israel-AS pecah pada 18 Februari 2026, hubungan Inggris dan AS cukup kuat.

Baca juga: Ditinggal Sekutu, Trump Meradang: AS Tak Butuh NATO di Krisis Selat Hormuz

Media Inggris The Independent bahkan menggambarkan Starmer sebagai "penasihat Trump" di panggung global.

Tetapi kini keduanya berselisih di tengah meluasnya konflik Iran.

Mengutip TIME, Starmer awalnya menolak memberikan izin kepada militer AS untuk menggunakan pangkalan Diego Garcia guna mengirim rudal pertahanan ke Iran.

Meski Starmer berubah pikiran, Trump menilai, perubahan sikap itu terjadi terlalu lambat.

“Butuh tiga atau empat hari bagi kami untuk menentukan di mana kami bisa mendarat. Akan jauh lebih mudah jika bisa mendarat di sana, daripada harus terbang berjam-jam lebih lama,” ujar Trump, Selasa (3/3/2026).

“Dia merusak hubungan. Kami sangat terkejut. Ini bukan Winston Churchill yang sedang kita hadapi,” tambahnya, mengkritik kepemimpinan Starmer.

Pernyataan tersebut, menjadi indikasi bahwa kedua pemimpin tidak lagi sejalan.

Starmer kembali membela posisinya di House of Commons dengan menegaskan bahwa Inggris tidak siap terlibat dalam perang tanpa rencana yang jelas.

“Kita perlu bertindak dengan jelas, dengan tujuan, dan dengan kepala dingin. Perlindungan warga negara Inggris adalah prioritas utama kita,” ujarnya pada Rabu (4/3/2026).

Ia menekankan bahwa Inggris telah mengerahkan pesawat untuk mencegat serangan di kawasan tersebut.

Ketika didesak soal dampak keputusannya terhadap hubungan Inggris-AS, Starmer memberikan respons tegas.

“Pesawat Amerika yang beroperasi dari pangkalan Inggris menunjukkan bahwa hubungan khusus itu tetap berjalan. Berpegang pada pernyataan terbaru Presiden Trump bukanlah pendekatan yang tepat,” katanya.

KEIR STARMER - Foto ini diambil dari akun Keir Starmer pada Jumat (28/2/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (kanan) berbincang dalam pertemuan di Gedung Putih pada Kamis (27/2/2025).
KEIR STARMER - Foto ini diambil dari akun Keir Starmer pada Jumat (28/2/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (kanan) berbincang dalam pertemuan di Gedung Putih pada Kamis (27/2/2025). (X @Keir_Starmer)

Setelah operasi militer AS–Israel pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Trump terus mengkritik penolakan awal Starmer dalam memberikan akses ke pangkalan Inggris.

“Itu mungkin belum pernah terjadi sebelumnya antara negara kita. Sepertinya dia khawatir soal legalitasnya,” kata Trump dalam sebuah wawancara.

“Sangat menyedihkan melihat bahwa hubungan [Inggris-AS] jelas tidak seperti dulu,” ujarnya dalam kesempatan lain.

Sementara itu, Inggris tetap mempertahankan sikap untuk tidak terlibat dalam aksi ofensif terhadap Iran dan lebih fokus pada penguatan pertahanan.

Hal ini dilakukan setelah drone buatan Iran menargetkan pangkalan udara Inggris di Akrotiri, Siprus.

Starmer telah memerintahkan pengerahan kapal perang HMS Dragon ke wilayah tersebut untuk memperkuat pertahanan pangkalan dan melindungi mitra Inggris.

Kapal tersebut juga terlibat dalam operasi gabungan, termasuk bersama Qatar, untuk mencegat drone di kawasan Teluk.

Terbaru, Donald Trump kembali menyerukan kepada sekutu-sekutunya, termasuk Inggris, untuk bergabung dalam upaya yang dipimpin AS guna membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Dilansir The Independent, Inggris tengah mempertimbangkan pengiriman pesawat penyapu ranjau udara.

Namun, para pejabat memperingatkan bahwa pengerahan kapal perang berpotensi meningkatkan eskalasi konflik.

Perdana Menteri Keir Starmer juga secara terbuka menegaskan bahwa Inggris tidak ingin terseret ke dalam perang yang lebih luas.

“Kepemimpinan saya adalah tentang berdiri teguh untuk kepentingan Inggris, apa pun tekanannya,” ujarnya, Senin (16/3/2026) tanpa menyebut nama Trump.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved