Minggu, 12 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Atasi Krisis BBM, Malaysia Pangkas Kuota Subsidi dan Terapkan WFH bagi ASN

Anwar Ibrahim menilai WFH bukan hanya sebagai solusi penghematan operasional kantor, tetapi juga upaya meningkatkan keseimbangan hidup

Penulis: Bobby W
Editor: Tiara Shelavie

Ringkasan Berita:
  • Perdana Menteri Malaysia umumkan strategi terbaru pemerintah untuk hadapi krisis energi pada pengumuman yang dihelat pada Kamis (26/3/2026) pukul 18.30 waktu setempat
  • Mulai 1 April 2026, kuota subsidi bensin RON95 dikurangi dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan
  • Pemerintah Malaysia juga tengah mengkaji penerapan sistem WFH secara bertahap bagi ASN untuk meningkatkan efisiensi
  • Anwar Ibrahim juga menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin keuangan dan mencegah kebocoran anggaran

 

TRIBUNNEWS.COM – Perdana Menteri (PM) Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, menyampaikan pidato khusus pada hari ini, Kamis (26/3/2026) terkait kebijakan terbaru dalam menghadapi krisis energi yang melanda sejumlah negara di Asia belakangan ini.

Dalam arahannya yang disiarkan secara langsung melalui akun Facebook resminya pada pukul 18.30 waktu setempat, Anwar Ibrahim menggariskan sejumlah kebijakan strategis terbaru yang akan diterapkan pemerintah Malaysia.

Membuka pidatonya, Anwar Ibrahim secara lugas menyinggung situasi kemanusiaan di Iran dan mengutuk keras tindakan kekerasan yang terus dilakukan oleh Israel.

Ia menegaskan bahwa ketegangan di Timur Tengah bukan sekadar isu regional, melainkan pemicu utama ketidakpastian ekonomi yang kini dirasakan dampaknya hingga ke Asia Tenggara. 

Ketidakstabilan yang terjadi di Iran ini menurut Anwar, secara langsung mengancam jalur pasokan energi dunia, terutama di Selat Hormuz.

Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa Pemerintah Malaysia harus segera mengambil langkah berhati-hati untuk mengamankan stok energi nasional agar tidak terjadi kelangkaan di dalam negeri.

Adapun dua poin menjadi perhatian utama dalam strategi Pemerintah Malaysia guna menghadapi krisis energi yang ditimbulkan dari konflik di Iran tersebut.

Dua kebijakan yang akan dilakukan pemerintah Malaysia sendiri adalah penyesuaian kuota subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) serta rencana perombakan pola kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui sistem Work From Home (WFH).

Kuota Subsidi BBM RON95 Dipangkas

Baca juga: Krisis BBM, Bensin Setara Pertalite di Thailand Tembus Rp 21ribu per Liter

Pemerintah Malaysia memutuskan untuk melakukan sinkronisasi kelayakan subsidi bensin RON95 melalui program BUDI95.

Terhitung mulai 1 April 2026, kuota subsidi akan dikurangi menjadi 200 liter per bulan, dari sebelumnya 300 liter per bulan.

Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap kenaikan harga energi dunia akibat konflik di Asia Barat yang berisiko mengganggu jalur pasokan energi strategis seperti Selat Hormuz.

"Pemerintah terpaksa mengambil kebijakan berhati-hati guna menjamin pasokan dan mengelola konsumsi secara lebih hemat," ungkap Anwar Ibrahim dalam pidatonya. 

Kendati ada pemangkasan kuota, Anwar menegaskan komitmen pemerintah untuk melindungi kelompok masyarakat ekonomi lemah.

ANTREAN SPBU THAILAND - Tangkap Layar CH7HD News Thailand yang memerlihatkan antrean warga Thailand di sejumlah SPBU pada Selasa malam (3/3/2026). Kementerian Energi Thailand menyatakan pada hari Minggu (1/3/2026) negara mereka hanya memiliki cadangan minyak untuk dua bulan.
ANTREAN SPBU THAILAND - Tangkap Layar CH7HD News Thailand yang memerlihatkan antrean warga Thailand di sejumlah SPBU pada Selasa malam (3/3/2026). Kementerian Energi Thailand menyatakan pada hari Minggu (1/3/2026) negara mereka hanya memiliki cadangan minyak untuk dua bulan. (CH7HD NEWS)
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved