Iran Vs Amerika Memanas
Mengapa Trump Berambisi Ambil Alih Pulau Kharg dari Iran? Bisa Ancam Kenaikan Harga BBM
Presiden AS, Donald Trump mengungkapkan ambisinya untuk mengambilalih Pulau Kharg dari Iran. Kenaikan harga BBM bisa terjadi.
Ringkasan Berita:
- Ada alasan tersendiri mengapa Presiden AS, Donald Trump sangat berambisi untuk mengambil alih Pulau Kharg dari Iran.
- Langkah ini mencuat bersamaan dengan keputusan Washington yang mengirim ribuan personel militer tambahan ke kawasan tersebut.
- Menurut para analis, merebut pulau itu secara efektif akan memutus jalur ekonomi utama Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang akan memengaruhi kemampuannya untuk melakukan perang.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara terang-terangan melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut bahwa AS berpeluang besar untuk "mengambil alih" cadangan minyak Iran.
Tak main-main, sasaran utama yang dibidik adalah Pulau Kharg, yang merupakan jantung ekspor minyak mentah Iran.
Langkah ini mencuat bersamaan dengan keputusan Washington yang mengirim ribuan personel militer tambahan ke kawasan tersebut.
"Mungkin kita akan merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kita punya banyak pilihan," kata Trump kepada Financial Times.
"Itu juga berarti kita harus berada di sana (Pulau Kharg) untuk sementara waktu. Saya rasa mereka tidak memiliki pertahanan yang kuat. Kita bisa merebutnya dengan sangat mudah," tambahnya.
Sumber-sumber yang dihubungi oleh mitra BBC di AS, CBS News, mengatakan bahwa para pejabat Pentagon telah melakukan persiapan terperinci untuk mengerahkan pasukan darat ke Iran.
Menambah spekulasi tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pada hari Sabtu (28/3/2026), bahwa 3.500 pelaut dan marinir AS lainnya telah tiba di Timur Tengah sebagai bagian dari unit yang dipimpin oleh kapal perang USS Tripoli.
Baik Pentagon maupun Gedung Putih menolak memberikan komentar tentang pengerahan pasukan tertentu atau rencana potensial - tetapi telah berulang kali menegaskan bahwa opsi tersebut tersedia.
Menurut analis keamanan Mikey Kay dari Security Brief BBC, merebut pulau itu secara efektif akan memutus jalur ekonomi utama Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang akan memengaruhi kemampuannya untuk melakukan perang.
Aaron Maclean, pembawa acara podcast School of War dan analis keamanan nasional CBS, mengatakan bahwa pemikiran AS kemungkinan besar adalah pulau itu dapat direbut dan "digunakan sebagai alat tawar-menawar" untuk memaksa Iran agar tetap membuka selat tersebut.
Menurut Maclean, operasi AS untuk merebut pulau itu akan relatif kecil, tetapi menantang.
Baca juga: Pakistan Siap Jadi Mediator, Islah Bahrawi: Tidak Banyak Berpengaruh terhadap Iran
Pasukan pendaratan AS harus bergerak dalam jarak yang cukup jauh, baik melalui kapal angkatan laut atau sebagai bagian dari pasukan pendaratan udara.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa pasukan negaranya "sedang menunggu tentara Amerika" dan mereka akan "menghujani tembakan" pada pasukan AS mana pun yang mencoba memasuki wilayah Iran.
Sebelumnya, seorang pejabat militer Iran mengatakan kepada media lokal bahwa kapal-kapal di Laut Merah akan menjadi sasaran jika terjadi invasi darat.
Harga Minyak Dunia Sudah Meroket
Harga minyak mentah dunia kembali melesat pada perdagangan Minggu (29/3/2026) waktu setempat, dipicu oleh pernyataan keras Teheran yang menantang potensi invasi darat AS.