Iran Vs Amerika Memanas
Gangguan di Selat Hormuz Bisa Picu 'Bencana' Pangan Global, Pengiriman Terblokir Imbas Perang Iran
Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat mengakibatkan "bencana" pangan global.
Ringkasan Berita:
- Krisis pangan global disebut dapat terjadi karena pengiriman input pertanian penting tetap terblokir.
- Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat mengakibatkan "bencana" pangan global.
- Menurut FAO, ekspor 20 hingga 45 persen input agribisnis utama bergantung pada jalur laut melalui Selat Hormuz.
TRIBUNNEWS.COM - Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat mengakibatkan "bencana" pangan global.
Krisis pangan global disebut dapat terjadi karena pengiriman input pertanian penting tetap terblokir di jalur air utama tersebut akibat perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran.
"Harga pangan belum naik karena stok yang ada mampu menyerap guncangan tersebut," kata kepala ekonom badan PBB, Maximo Torero, dalam sebuah wawancara pada Senin (13/4/2026), bersama David Laborde, direktur divisi ekonomi agribisnis FAO, dilansir Al Jazeera.
"Namun, jika lalu lintas melalui selat tersebut tidak kembali normal, guncangan pada pasar energi dan pupuk akan berdampak pada kenaikan harga komoditas dan harga ritel pada akhir tahun 2026 hingga tahun 2027," tambah Laborde.
Menurut FAO, ekspor 20 hingga 45 persen input agribisnis utama bergantung pada jalur laut melalui Selat Hormuz.
“Kita sedang menghadapi krisis input; kita tidak ingin menjadikannya bencana,” kata Laborde.
“Perbedaannya bergantung pada tindakan yang kita ambil," lanjutnya.
“Saat ini, kita tidak mengalami krisis pangan karena ketersediaan pangan mencukupi,” tambah Torero, seraya mencatat bahwa kenaikan harga gas dan minyak belum berdampak pada kenaikan biaya roti dan gandum, misalnya, berkat pasokan yang melimpah dari musim panen yang baik.
“Tapi ini adalah situasi saat ini,” kata ekonom tersebut.
Iran telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas melalui selat tersebut sebagai respons terhadap serangan dari Amerika Serikat dan Israel, yang melancarkan perang terhadap Teheran pada 28 Februari 2026, menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Langkah tersebut telah memicu krisis energi global, yang terkadang menyebabkan harga minyak dan gas melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat sebelum perang.
Baca juga: Presiden China Usulkan 4 Poin Rencana Perdamaian Perang Iran: Sindir AS Soal Hukum Rimba
Sepanjang akhir pekan, perwakilan Iran dan AS mengadakan negosiasi maraton selama 21 jam untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen, tetapi gagal mencapai terobosan.
Presiden AS Donald Trump kemudian memutuskan untuk memberlakukan blokade angkatan laut di selat tersebut.
Trump mengatakan angkatan laut akan memburu dan mencegat kapal-kapal di perairan internasional yang telah membayar Iran biaya untuk melintasi selat tersebut.
Kemudian, militer AS mengatakan akan memblokir semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran, termasuk yang berada di Teluk Persia dan Teluk Oman.