Iran Vs Amerika Memanas
Aset Iran Dibekukan Capai 100 Miliar Dolar AS, Di Mana Disimpan dan Mengapa Sulit Dicairkan?
Aset Iran lebih dari 100 miliar dolar AS dibekukan di luar negeri, jadi isu panas negosiasi dengan AS di tengah upaya meredakan konflik.
Di kawasan Eropa, negara seperti Luksemburg juga diketahui menyimpan sekitar 1,6 miliar dolar AS aset Iran.
Namun, lokasi pasti dan jumlah total tetap tidak sepenuhnya transparan karena perbedaan metode perhitungan dan status hukum masing-masing dana.
Mengapa Sulit Dicairkan?
Meski nilainya sangat besar, Iran tidak dapat langsung mengakses seluruh aset tersebut.
Sebagian dana telah terikat pada kewajiban pembayaran utang atau proyek investasi sebelumnya, sehingga tidak sepenuhnya likuid.
Baca juga: Geger Standar Ganda Nuklir: Iran Dipantau Ketat, Israel Diduga Punya 200 Hulu Ledak
Selain itu, pencairan aset sering kali disertai syarat ketat, termasuk pembatasan penggunaan dana untuk kebutuhan tertentu seperti kemanusiaan atau impor barang.
Ketidakpastian kebijakan Washington juga menjadi faktor utama yang memperumit negosiasi.
Iran khawatir pencairan aset akan tetap dikontrol secara politik oleh Amerika Serikat, bahkan jika sebagian dana dilepas.
Sengketa Dana 6 Miliar Dolar AS di Qatar
Salah satu titik sengketa utama adalah dana sekitar 6 miliar dolar AS yang saat ini berada di Qatar.
Dana tersebut berasal dari penjualan minyak Iran ke Korea Selatan, kemudian dipindahkan ke Qatar dalam kesepakatan pertukaran tahanan pada 2023.
Namun, akses terhadap dana tersebut kembali diblokir setelah pemerintah AS memberlakukan sanksi baru.
Iran mengklaim Washington telah menyetujui pencairan dana tersebut, tetapi pihak AS membantah klaim tersebut.
Perbedaan sikap ini memperumit jalannya negosiasi dan berpotensi memicu ketegangan baru.
Kunci Pemulihan Ekonomi Iran
Baca juga: AS Kehilangan Pesawat Pengintai Tercanggih Rp 4 Triliun di Iran
Bagi Iran, akses terhadap aset yang dibekukan sangat penting untuk menstabilkan ekonomi domestik yang tertekan sanksi selama puluhan tahun.
Dana tersebut dapat digunakan untuk membiayai impor pangan, obat-obatan, serta peralatan industri, sekaligus memperkuat nilai mata uang rial yang terus melemah.
Selain itu, aset ini juga dinilai krusial untuk mendukung perbaikan infrastruktur energi, air, dan listrik yang terdampak konflik.