Rabu, 22 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Kapal Iran Disita AS, Benarkah Ada Keterlibatan China?

AS menyita kapal Iran MV Touska di Teluk Oman yang diduga membawa barang penggunaan ganda setelah perjalanan dari China.

CENTCOM
PERANG IRAN - Tangkap layar video yang diunggah CENTCOM memperlihatkan kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance (DDG 111) mencegat M/V Touska milik Iran, 19 April 2026. Marinir AS kemudian menaiki dan menyita kapal tersebut. (X CENTCOM) 
Ringkasan Berita:
  • AS menyita kapal Iran MV Touska di Teluk Oman yang diduga membawa barang penggunaan ganda setelah perjalanan dari China
  • Iran mengecam tindakan tersebut, sementara China menyatakan keprihatinan namun membantah keterlibatan dalam pengiriman senjata. 
  • Klaim adanya hubungan China dengan muatan kapal masih belum terbukti, meski sejumlah pihak menduga adanya keterkaitan dalam rantai pasokan.


TRIBUNNEWS.COM - Sebuah kapal kargo berbendera Iran disita oleh pasukan AS di Teluk Oman pada Minggu (19/4/2026).

Kapal kontainer tersebut dilaporkan milik anak perusahaan dari kelompok milik negara Iran yang dikenai sanksi.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), kapal itu sedang dalam perjalanan menuju Iran setelah mengunjungi China pada akhir bulan lalu.

Kapal tersebut, MV Touska, merupakan bagian dari armada yang dikendalikan oleh anak perusahaan Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL), yang dituduh mengangkut barang-barang yang dapat digunakan untuk tujuan militer ke Iran.

Kapal tersebut sedang berlayar menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran.

Pasukan khusus AS turun dari helikopter ke kapal tersebut setelah kapal itu tidak mematuhi perintah dan menolak berhenti.

Seluruh insiden terjadi di perairan dekat Selat Hormuz, wilayah yang masih diliputi ketegangan tinggi antara AS dan Iran.

Iran mengecam keras penyitaan kapal tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan kriminal serta ilegal.

Iran juga menyebut insiden itu sebagai pembajakan, serta menuduh AS menyandera awak kapal Touska.

China turut menyatakan keprihatinan atas insiden tersebut.

PERANG IRAN - Tangkap layar video yang diunggah CENTCOM memperlihatkan kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance (DDG 111) mencegat M/V Touska milik Iran, 19 April 2026. Marinir AS kemudian menaiki dan menyita kapal tersebut. (X CENTCOM)
PERANG IRAN - Tangkap layar video yang diunggah CENTCOM memperlihatkan kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance (DDG 111) mencegat M/V Touska milik Iran, 19 April 2026. Marinir AS kemudian menaiki dan menyita kapal tersebut. (X CENTCOM) (CENTCOM)

"Situasi di Selat Hormuz sensitif dan rumit," kata juru bicara Guo Jiakun dalam konferensi pers, Senin (20/4/2026), mengutip Reuters.

"Pihak-pihak yang terlibat harus menghindari eskalasi lebih lanjut dan menciptakan kondisi yang diperlukan agar transit normal melalui selat dapat dilanjutkan," tambahnya.

China juga mendesak pihak-pihak terkait untuk mempertahankan momentum gencatan senjata dan negosiasi.

"Sekarang jendela untuk perdamaian telah terbuka, kondisi yang menguntungkan harus diciptakan untuk mengakhiri perang sesegera mungkin," tambah Guo.

Apakah Touska Memiliki Hubungan dengan China?

Mengutip FirstPost, Touska adalah kapal kontainer berbendera Iran.

Panjangnya sekitar 294 meter dan lebarnya 32 meter, sehingga meskipun kerap disebut “kecil”, kapal ini tetap tergolong besar menurut data MarineTraffic.

Touska dimiliki oleh Mosakhar Darya Shipping Co yang berbasis di Teheran.

Kapal ini telah dikenai sanksi oleh AS sejak 2018.

Sejak 2012, seluruh manajer teknis dan komersial dari perusahaan pemiliknya juga telah dikenai sanksi, lapor CNN.

Pada 2019, AS memberlakukan sanksi terhadap IRISL dan menyebutnya sebagai “jalur pelayaran pilihan bagi pelaku proliferasi dan agen pengadaan Iran,” termasuk untuk mengangkut material bagi program rudal balistik Iran, seperti dilaporkan Reuters.

Charlie Brown, mantan perwira Angkatan Laut AS dan penasihat senior United Against Nuclear Iran, mengatakan kepada WSJ bahwa Touska kerap melakukan perjalanan antara China dan Iran.

Kapal itu diketahui mengunjungi pelabuhan Zhuhai di China selatan dua kali pada Maret, tambah Brown.

Baca juga: Kapal Iran yang Disita AS Kemungkinan Bawa Peralatan Fungsi Ganda, Diduga Perjalanan dari Asia

Reuters juga melaporkan, mengutip analisis satelit dari SynMax, bahwa kapal tersebut terlihat bersandar di pelabuhan Taicang, China, di utara Shanghai, pada 25 Maret, lalu berada di pelabuhan Gaolan di selatan China pada 29–30 Maret.

China menegaskan tidak menyediakan senjata kepada Iran.

China juga menyatakan memiliki kontrol ketat atas barang-barang penggunaan ganda (dual-use), yakni barang yang dapat digunakan untuk tujuan sipil maupun militer.

Namun, China tidak mendukung sanksi AS dan menyebutnya sebagai tindakan sepihak serta ilegal.

Isi Kapal Touska

Pasukan keamanan AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa penilaian awal menunjukkan kapal tersebut kemungkinan membawa barang-barang penggunaan ganda setelah perjalanan dari Asia.

Salah satu sumber menyebut Touska sebelumnya juga pernah mengangkut barang serupa, namun tidak merinci jenisnya.

Sementara itu, Komando Pusat AS menyebut logam, pipa, dan komponen elektronik sebagai contoh barang yang dapat digunakan untuk keperluan militer maupun industri dan berpotensi disita.

Brown juga menyatakan bahwa Touska mencoba menerobos blokade, yang mengindikasikan kapal tersebut membawa sesuatu yang bernilai bagi Iran.

“Pasti sepadan dengan risikonya untuk mencoba menerobos blokade, tetapi mereka salah memilih,” kata Brown kepada WSJ.

Di sisi lain, politisi Partai Republik AS Nikki Haley turut membuat klaim kontroversial.

Ia menyatakan bahwa kapal Iran yang disita tersebut berasal dari China dan membawa bahan kimia untuk rudal.

KAPAL IRAN DISITA - Tangkap layar X memperlihatkan cuitan Nikki Haley tentang kapal Iran yang disita AS. Ia menyebut kapal itu membawa bahan kimia untuk keperluan rudal.
KAPAL IRAN DISITA - Tangkap layar X memperlihatkan cuitan Nikki Haley tentang kapal Iran yang disita AS. Ia menyebut kapal itu membawa bahan kimia untuk keperluan rudal. (Tangkapan layar media sosial)

Haley menulis di X pada Selasa (21/4/2026):

“Kapal yang disita AS di Selat Hormuz akhir pekan ini sedang menuju dari China ke Iran dan terkait dengan pengiriman bahan kimia untuk rudal. Kapal itu menolak perintah berulang kali untuk berhenti.”

Haley juga menilai kemungkinan China mendukung Iran dalam konflik tidak bisa diabaikan.

“Pengingat lain bahwa China membantu menopang rezim Iran, sebuah kenyataan yang tidak dapat diabaikan,” tambahnya.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Menurut mantan kapten Angkatan Laut AS sekaligus analis, Carl Schuster, kapal tersebut akan dibawa ke pelabuhan atau lokasi berlabuh yang telah ditentukan untuk diperiksa.

Setelah itu, akan ditentukan apakah kapal tersebut dapat menjadi milik pemerintah AS sebagai “rampasan perang”.

Jennifer Parker, peneliti non-residen di Lowy Institute dan mantan perwira Angkatan Laut Kerajaan Australia, mengatakan kepada CNN:

“Berdasarkan hukum perang laut, Anda dapat menyita kapal dalam kondisi seperti ini yang telah mencoba menerobos blokade.”

“Jika ingin menahannya dalam jangka panjang, hal itu harus melalui pengadilan rampasan perang yang perlu dibentuk.”

Menurutnya, nasib awak kapal Touska akan bergantung pada kewarganegaraan mereka.

“Jika mereka pelaut India atau Filipina, kemungkinan besar akan dipulangkan. Namun jika mereka warga Iran, mereka bisa ditahan,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika awak kapal merupakan anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), maka mereka berpotensi ditahan sebagai tawanan perang.

Ia juga menegaskan bahwa jika Touska terbukti membawa senjata atau material militer, awak kapal kemungkinan akan ditahan.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved