Iran Vs Amerika Memanas
Resmi! AS Bakal Tarik 5.000 Pasukannya dari Jerman Buntut Perseteruan Trump-Merz
Hubungan diplomatik antara AS dengan Jerman semakin memanas setelah muncul laporan Washington akan menarik 5.000 pasukannya dari Berlin.
Dalam sebuah diskusi bersama pelajar di Marsberg, Jerman, Merz tidak menahan diri untuk menyebut bahwa AS sedang dipermalukan secara terang-terangan oleh rezim Teheran, khususnya oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
"Pihak Iran sangat mahir bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat ahli dalam 'tidak bernegosiasi'."
"Mereka membiarkan delegasi AS terbang jauh-jauh ke Islamabad hanya untuk memulangkan mereka tanpa hasil apa pun," sindir Merz, mengutip The Guardian.
Menanggapi kritikan Merz, Trump menyerang balik pemimpin Jerman tersebut dengan menyebutnya tidak paham apa yang sedang dia bicarakan terkait isu nuklir dan strategi menghadapi Iran.
"Dia (Merz) sama sekali tidak tahu apa yang dia bicarakan," tegas Trump, mengutip dari CNN.
Baca juga: Trump Tanggapi Kanselir Jerman yang Sebut Iran Permalukan AS: Dia Tidak Tahu Apa yang Dibicarakan
Dalam pembelaannya, Trump membanggakan rekam jejaknya pada periode pertama kepresidenannya.
Ia mengeklaim bahwa kebijakan "tekanan maksimum" miliknya, termasuk penarikan diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan pemberian sanksi ekonomi, telah berhasil membuat Iran bertekuk lutut secara finansial.
Merz Sempat 'Melempem'
Setelah mendapatkan ancaman dari Trump, Merz mendadak mengubah arah kebijakan luar negerinya dengan melontarkan kritik pedas terhadap Iran.
Perubahan haluan Merz ini diyakini para pengamat sebagai langkah untuk meredakan hubungan yang sudah memanas dengan Washington.
Lebih lanjut, Merz mendesak agar sanksi internasional terhadap Iran kembali diperketat, terutama dipicu oleh kekhawatiran akan blokade Selat Hormuz.
"Jika Selat Hormuz terus diblokade, kita semua akan menanggung dampak ekonomi yang sangat fatal."
"Iran harus dipaksa kembali ke meja perundingan," tegas Merz, mengutip WANA News Agency.
Di sisi lain, Teheran menanggapi dingin gertakan Berlin.
Pemerintah Iran menilai Jerman hanyalah "bayang-bayang" kebijakan AS dan tidak memiliki kemandirian politik jika dibandingkan dengan Inggris atau Prancis.
(Tribunnews.com/Whiesa)