Minggu, 10 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Rusia Gelar Parade Militer Hari Kemenangan, tapi Tank dan Rudal Dibatasi

Rusia menggelar parade militer Hari Kemenangan di berbagai wilayah untuk memperingati kekalahan Nazi Jerman. Hal ini diperingati setiap 9 Mei.

Tayang:
Editor: Nuryanti
Telegram Kementerian Pertahanan Rusia
HARI KEMENANGAN RUSIA - Foto diunduh dari Telegram Kementerian Pertahanan Rusia, Sabtu (9/5/2026). Para anggota Dewan Kementerian Pertahanan Rusia meletakkan bunga dan karangan bunga di Makam Prajurit Tak Dikenal di dekat tembok Kremlin di Taman Alexander pada malam peringatan ke-81 Kemenangan dalam Perang Patriotik Besar, Jumat (8/5/2026) waktu setempat. 

"Dengan mempertimbangkan berbagai permintaan, untuk tujuan kemanusiaan yang diuraikan selama negosiasi dengan pihak Amerika pada tanggal 8 Mei 2026, dengan ini saya menetapkan: Penyelenggaraan pawai di kota Moskow (Federasi Rusia) pada tanggal 9 Mei 2026 diizinkan," bunyi dekret yang dirilis Presiden Ukraina.

"Selama berlangsungnya parade (mulai pukul 10:00 waktu Kyiv pada tanggal 9 Mei 2026), wilayah Lapangan Merah akan dikecualikan dari rencana operasional penggunaan senjata Ukraina," lanjutnya.

Dekret tersebut secara spesifik mencantumkan koordinat Lapangan Merah.

Pada tanggal 8 Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari dalam perang antara Ukraina dan Rusia.

Zelenskyy kemudian mengumumkan pertukaran tahanan 1.000 banding 1.000 yang dijadwalkan pada 9 Mei dan mengkonfirmasi gencatan senjata 9-11 Mei dengan Rusia, lapor Pravda.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina resmi pecah pada 24 Februari 2022 setelah Rusia melancarkan invasi militer skala besar ke wilayah Ukraina. Namun, ketegangan antara kedua negara sebenarnya sudah berlangsung sejak bubarnya Uni Soviet yang membuat Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan arah politiknya sendiri.

Dalam perkembangannya, Ukraina semakin mendekat ke Barat melalui kerja sama yang lebih erat dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Rusia memandang langkah tersebut sebagai ancaman terhadap pengaruh dan keamanan strategisnya di kawasan Eropa Timur.

Ketegangan memuncak pada 2014 setelah Revolusi Maidan menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dianggap dekat dengan Moskow. Pada tahun yang sama, Rusia mengambil alih Krimea, sementara konflik bersenjata terjadi di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia. Sejak saat itu, situasi keamanan di kawasan terus memburuk.

Berbagai upaya diplomatik sebenarnya telah dilakukan untuk meredakan konflik, termasuk melalui mediasi internasional, tetapi belum menghasilkan perdamaian jangka panjang. Kondisi akhirnya semakin memanas ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer pada Februari 2022 dengan alasan melindungi warga berbahasa Rusia serta menahan perluasan NATO di dekat perbatasan Rusia.

Sebagai respons, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi besar terhadap Rusia dan meningkatkan bantuan militer maupun keuangan kepada Ukraina. Hingga kini perang masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Di tengah situasi tersebut, jalur diplomasi tetap diupayakan. Amerika Serikat mencoba mengambil peran dalam proses mediasi, sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terus mendorong pembicaraan damai, termasuk membuka peluang keterlibatan Turki sebagai mediator.

Meski demikian, Kremlin menegaskan bahwa pertemuan langsung antara Putin dan Zelenskyy hanya dapat dilakukan jika sudah ada kesepakatan awal yang jelas. Sampai sekarang, proses menuju perdamaian masih menghadapi banyak hambatan.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved