Iran Vs Amerika Memanas
Netanyahu Frustrasi, Akui Sulit Kendalikan Sikap Trump soal Perang Iran-AS
Netanyahu frustrasi usai Trump pilih jalur diplomasi dengan Iran. Israel khawatir AS justru memberi ruang Teheran makin kuat di Timur Tengah.
Kekhawatiran Israel semakin besar karena mereka tidak ingin pengalaman perjanjian nuklir tahun 2015 kembali terulang. Saat itu, Iran dan sejumlah negara besar dunia menyepakati pembatasan program nuklir Teheran sebagai imbalan pencabutan sanksi internasional.
Jika sanksi ekonomi terhadap Iran benar-benar dicabut, Teheran diperkirakan akan memperoleh kembali kekuatan finansial yang besar. Israel khawatir dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat militer dan mendukung kelompok proksi Iran di kawasan.
Di sisi lain, Amerika Serikat tampaknya lebih berfokus menghentikan konflik terbuka dan menjaga stabilitas pasar energi global.
Perbedaan kepentingan inilah yang membuat hubungan Israel dan Amerika Serikat mulai mengalami ketegangan. Israel ingin tekanan terhadap Iran tetap dipertahankan, sementara Washington lebih fokus mencari jalan diplomasi guna meredakan konflik di Timur Tengah.
Trump “Mendepak” Netanyahu dari Negosiasi Iran
Situasi politik di Timur Tengah semakin memanas setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai mengurangi peran Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pembicaraan terkait Iran.
Sejumlah pejabat pertahanan Israel menyebut Netanyahu kini tidak lagi menjadi mitra utama Washington dalam menentukan arah kebijakan konflik di Timur Tengah.
Trump hanya menempatkan Israel sebagai sekutu dalam operasi militer, bukan sebagai rekan strategis dalam jalur diplomasi.
Menurut laporan pejabat Israel kepada media internasional, perubahan sikap Washington terjadi setelah operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dinilai gagal mencapai target utama, termasuk melemahkan pemerintahan Republik Islam Iran secara signifikan.
Kegagalan tersebut memunculkan perdebatan di internal pemerintahan Trump. Sejumlah pihak di lingkaran Gedung Putih disebut mulai menilai strategi Netanyahu terlalu berisiko dan berpotensi memperluas perang di kawasan Timur Tengah.
Pandangan itu kemudian mendorong Washington untuk lebih memilih jalur diplomasi dibanding meningkatkan eskalasi militer dengan Teheran.
Trump disebut mulai berfokus mencari penyelesaian konflik melalui negosiasi guna menghindari dampak ekonomi dan keamanan yang lebih luas di kawasan.
Namun di sisi lain, Tel Aviv khawatir keputusan Washington untuk membuka jalur diplomasi dengan Iran justru akan memperkuat posisi Teheran di Timur Tengah.
Sejumlah pejabat Israel mengaku kini lebih banyak mengandalkan jalur intelijen sendiri untuk mengetahui perkembangan komunikasi antara Washington dan Teheran.
Israel disebut memanfaatkan jaringan diplomatik di kawasan Timur Tengah serta pengawasan intelijen internal untuk memantau isi pembicaraan kedua negara tersebut.
Situasi ini juga menandai perubahan besar dalam hubungan politik antara Trump dan Netanyahu. Selama beberapa tahun terakhir, keduanya dikenal memiliki hubungan dekat dan sering menunjukkan kesamaan pandangan terkait Iran.
Namun, kini perbedaan pendekatan mulai terlihat jelas. Washington lebih mengutamakan stabilitas kawasan melalui diplomasi, sementara Israel tetap mendorong tekanan keras terhadap Teheran demi membatasi pengaruh Iran di Timur Tengah.
(Tribunnews.com / Namira)