Iran Vs Amerika Memanas
Pilihan Sulit Trump Soal Iran: Capai Kesepakatan Damai atau Kembali Berperang
Presiden AS, Donald Trump dihadapkan dengan dua pilihan sulit, mencapai kesepakatan damai sementara atau kembali berperang dengan Iran.
Ringkasan Berita:
- Perang dengan Iran telah membuat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dihadapkan dengan dua pilihan sulit.
- Meski kunjungan Kepala Staf Militer Pakistan, Asim Munir ke Teheran membawa terobosan serius, namun keputusan krusial tetap berada di tangan Trump.
- Ia dihadapkan pada pilihan sulit, antara meratifikasi draf perjanjian sementara atau menarik AS kembali ke medan perang.
TRIBUNNEWS.COM - Kunjungan Kepala Staf Militer Pakistan, Asim Munir ke Teheran, nampaknya menghasilkan babak baru dalam negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Kunjungan tersebut membawa "terobosan serius" yang mendorong kedua negara menuju kesepakatan awal dan gencatan senjata sementara.
Berdasarkan nota kesepahaman (MoU), Washington dan Teheran direncanakan akan merumuskan detail kesepakatan akhir terkait program nuklir selama 60 hari.
Selain itu, keduanya juga diperkirakan akan membahas perihal pembukaan kembali jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai jalan menuju perjanjian yang komprehensif dan permanen masih dipenuhi jalan terjal.
Menurut WANA News Agency, saat ini, keputusan krusial berada sepenuhnya di tangan Presiden AS Donald Trump.
Ia dihadapkan pada pilihan sulit, antara meratifikasi draf perjanjian sementara atau menarik AS kembali ke medan perang.
Di satu sisi, Trump memiliki dorongan politik dan ekonomi yang kuat untuk menandatangani kesepakatan guna mengakhiri konflik yang sudah berjalan selama tiga bulan ini.
Dalam pernyataan terbarunya, Trump mulai melunasi retorika agresifnya dengan menggunakan diplomasi regional sebagai alasan penundaan aksi militer.
Ia berdalih, langkah mundur ini diambil demi menghormati desakan dari para pemimpin negara-negara Timur Tengah.
Namun, para analis menilai retorika tersebut hanyalah tameng politik bagi Trump untuk keluar dari kebuntuan strategi militer tanpa harus terlihat kehilangan muka di mata domestik maupun internasional.
Baca juga: AS-Iran Semakin Dekat Akhiri Perang, tapi Ada Poin-poin Penting Jadi Kendala, Termasuk Selat Hormuz
'Opsi Lain' dari AS
Sementara itu, AS dilaporkan telah menyiapkan "opsi lainnya" jika negosiasi damai dengan Iran menemui jalan buntu.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio saat melakukan kunjungan di India.
"Kami memberikan setiap kesempatan agar diplomasi ini berhasil sebelum akhirnya mengeksplorasi alternatif lain," ujar Rubio, Senin (25/5/2026), mengutip Reuters.
"Saat ini sudah ada draf usulan yang cukup solid di atas meja, khususnya terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan komitmen pembicaraan nuklir yang memiliki batas waktu yang jelas," tegas Rubio.