Selasa, 26 Mei 2026

5 Populer Internasional: Lokasi Rahasia Mojtaba Khamenei - Kendala Proposal Perdamaian AS-Iran

Kompilasi berita populer internasional, di antaranya Intelijen AS melaporkan Mojtaba Khamenei bersembunyi di lokasi rahasia

Tayang:
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Iran Pasang Syarat Baru: Minta Dana Rp 196 Triliun Dicairkan Sebelum Lanjut Damai dengan AS

Iran dilaporkan menuntut pencairan segera dana beku senilai USD12 miliar atau sekitar Rp196 triliun yang tersimpan di Qatar sebelum melanjutkan proses negosiasi perdamaian dengan Amerika Serikat.

Laporan Iran International menyebut dana tersebut menjadi syarat awal Teheran untuk membuka tahapan diplomasi lanjutan dengan Washington.

Sumber yang mengetahui proses negosiasi mengatakan jumlah itu hanyalah tahap awal dari total aset Iran yang dibekukan di berbagai negara.

Selama ini Iran menuntut seluruh asetnya di luar negeri dibuka dan dapat diakses penuh sebagai bagian dari kesepakatan komprehensif dengan AS.

Media Iran yang dekat dengan Garda Revolusi, Tasnim News Agency, melaporkan masih ada perbedaan antara kedua negara terkait beberapa klausul dalam rancangan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).

Iran disebut meminta agar pencairan sebagian dana beku dimasukkan dalam kesepakatan awal sebelum pembicaraan lebih jauh mengenai perdamaian dan isu nuklir dilakukan.

Di sisi lain, Washington dikabarkan ingin mengaitkan pencairan dana tersebut dengan kesepakatan nuklir final.

Namun Teheran menolak dan meminta sebagian dana dicairkan lebih dulu sebagai bentuk komitmen awal dari AS.

Dana yang dipermasalahkan berasal dari hasil penjualan minyak Iran ke Korea Selatan.

Dana itu sebelumnya dipindahkan ke rekening di Qatar, tetapi penggunaannya dibatasi hanya untuk kebutuhan kemanusiaan di bawah pengawasan Amerika Serikat.

Draft Negosiasi Damai

Negosiasi tahap akhir mengenai kesepakatan damai baru akan dimulai setelah kedua pihak menandatangani MoU dan menyepakati gencatan senjata selama 60 hari.

Salah satu poin penting dalam pembahasan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi rute utama distribusi minyak dunia.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Eks-Pejabat Tinggi Israel: IDF Potensial Ulangi Kekalahan Memalukan di Lebanon pada Tahun 2000

Mantan kepala Komite Urusan Luar Negeri dan Keamanan Israel, Ofer Shelah, memperingatkan bahwa keberadaan militer Israel di Lebanon selatan berisiko berakhir seperti penarikan memalukan Israel pada tahun 2000.

Dalam pernyataannya yang dikutip media Israel, Maariv, Shelah menyebut strategi mempertahankan “sabuk keamanan” di wilayah Lebanon sebagai “resep bencana”.

Menurutnya, tentara Israel (IDF) saat ini berada dalam situasi tempur yang sangat bermasalah karena terus menghadapi ancaman tanpa mencapai tujuan strategis yang jelas.

“Pada akhirnya, kita akan angkat kaki dari sana dengan ekor di antara kaki, persis seperti yang terjadi pada tahun 2000,” ujar Shelah.

Komentar itu muncul bertepatan dengan peringatan Hari Perlawanan dan Pembebasan Lebanon pada 25 Mei, yang menandai mundurnya pasukan Israel dari Lebanon selatan setelah lebih dari dua dekade pendudukan.

Shelah menilai kondisi saat ini bahkan lebih rumit dibanding masa “zona keamanan” Israel di Lebanon sebelum runtuh pada 2000.

Ia mengatakan operasi militer yang berlangsung sekarang hanya akan menambah korban di pihak Israel tanpa hasil nyata.

Security Belt Ala Israel

Strategi security belt atau “sabuk keamanan” sendiri merujuk pada upaya Israel mempertahankan area militer penyangga di wilayah Lebanon selatan untuk menghadang serangan kelompok perlawanan Lebanon.

Namun, menurut Shelah, pendekatan tersebut justru berpotensi menyeret Israel ke konflik berkepanjangan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Zona keamanan Israel di Lebanon dibentuk setelah invasi tahun 1982 dan dipertahankan melalui dukungan terhadap milisi Tentara Lebanon Selatan.

Sistem itu runtuh bersamaan dengan penarikan Israel pada Mei 2000 setelah tekanan panjang dari kelompok perlawanan Lebanon.

Selain menyoroti Lebanon, Shelah juga mengomentari konfrontasi Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Ia mengatakan tidak ada cara menghentikan program nuklir Iran tanpa keputusan politik dari Iran sendiri.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Sesuai Minatmu
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved