Sanksi Rusia dan Sengkarut Selat Hormuz, Alarm Bahaya untuk Harga Beras dan BBM di Indonesia
Tatanan ekonomi dunia saat ini dinilai sedang berada di ambang kekacauan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Tatanan ekonomi dunia saat ini dinilai sedang berada di ambang kekacauan.
Melemahnya lembaga internasional seperti PBB dan IMF, ditambah rentetan sanksi geopolitik, kini mulai berdampak nyata pada stabilitas pangan dan energi di dalam negeri, termasuk Indonesia.
Peringatan keras ini disampaikan oleh Igor Sechin, CEO raksasa minyak Rusia, Rosneft Oil Company, dalam Panel Energi di St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 yang berlangsung pada 3–6 Juni 2026.
Dalam laporannya yang provokatif berjudul "The Beginning of the End or the End of the Beginning: What Remains at the Bottom of Pandora’s Box?", Sechin blak-blakan menyebut bahwa sistem global berbasis aturan sudah mati.
Ekonomi dunia kini disandera oleh kepentingan korporasi teknologi, militer, dan finansial Barat.
"Lembaga-lembaga internasional seperti PBB, WTO, IMF, dan Bank Dunia telah kehilangan taringnya sebagai regulator global. Sanksi ekonomi telah melenceng menjadi alat pemaksaan dan persaingan yang tidak sehat," tegas Sechin.
Sebagai bukti, Sechin membeberkan bahwa Rusia telah dihujani sekitar 32.000 sanksi dalam 12 tahun terakhir yang mengacaukan rute perdagangan dunia.
Mengapa Indonesia Harus Waspada?
Sentilan dari bos minyak dunia ini bukan sekadar urusan Rusia-Barat, melainkan alarm bahaya bagi ketahanan domestik Indonesia.
Sebagai negara net-importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap guncangan harga global:
- Beban Impor Migas Tinggi: Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total impor Indonesia mencapai US$235,2 miliar, di mana US$36,3 miliar (sekitar Rp570 triliun) habis hanya untuk mengimpor minyak dan gas.
- Ancaman Inflasi: Setiap perubahan rute kapal, sanksi baru, atau konflik bersenjata akan langsung mendongkrak biaya impor, memicu inflasi, dan menekan APBN untuk subsidi energi.
Baca juga: Rusia Perkirakan Terima 13,6 Miliar Dolar AS dari Lonjakan Produksi Minyak di Selat Hormuz
Efek Domino Selat Hormuz ke Piring Nasi Rakyat
Sorotan paling krusial bagi Indonesia adalah analisis Sechin terkait ketegangan di Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz.
Jalur laut super sempit ini bukan hanya urat nadi pasokan minyak, tetapi juga jalur utama distribusi pupuk dunia.
Jika Selat Hormuz terganggu, efek dominonya akan langsung terasa di sektor pertanian Indonesia:
- Harga Pupuk Meroket: Bank Dunia mencatat indeks harga pupuk global sudah melonjak lebih dari 12 persen pada kuartal I-2026 akibat tersendatnya jalur ekspor via Selat Hormuz.
- Biaya Tani Membengkak: Bagi negara agraris seperti Indonesia, mahalnya harga pupuk global otomatis menaikkan biaya produksi petani.
- Pangan Mahal: Ujung-ujungnya, harga pangan di pasar domestik akan ikut naik, yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat luas.
Solusi Alternatif: Rute Laut Utara dan "Kiamat" Dolar
Merespons kacaunya jalur logistik tradisional, Sechin menawarkan Rute Laut Utara (Northern Sea Route) milik Rusia sebagai solusi logistik baru yang diklaim lebih cepat dan hemat biaya untuk perdagangan global.
Di sisi lain, Sechin juga menyinggung bobroknya sistem keuangan global.
Ia menyebut volume "kapital fiktif" di pasar keuangan saat ini sudah menembus US$500 triliun—atau lima kali lipat dari total PDB seluruh dunia.
Kondisi ini, ditambah dengan digunakannya dolar AS sebagai senjata sanksi geopolitik, diprediksi akan mempercepat migrasi negara-negara dunia menuju sistem pembayaran alternatif non-dolar (dedollarization).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Igor-Sechin-CEO-raksasa-minyak-Rusia.jpg)