Iran Vs Amerika Memanas
Trump: Iran Boleh Memperkaya Uranium, tapi Bukan untuk Militer
Presiden AS Donald Trump mengatakan AS boleh memperkaya uranium tapi bukan untuk tujuan militer, setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan.
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran tetap boleh memperkaya uranium, tetapi hanya untuk tujuan sipil dan pada tingkat rendah yang tidak dapat digunakan untuk militer.
- Kesepakatan AS-Iran juga mencakup pengelolaan sekitar 12 ton uranium yang telah diperkaya Iran serta mekanisme inspeksi internasional yang ketat.
- Kompromi ini tercapai setelah Iran menolak penghentian total pengayaan uranium selama 20 tahun.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan rincian baru mengenai kesepakatan yang telah dicapai antara Washington dan Teheran.
Dalam wawancara dengan The New York Times, Trump menegaskan bahwa Iran tetap diperbolehkan melakukan pengayaan uranium, tetapi hanya untuk kepentingan sipil dan tidak boleh digunakan untuk tujuan militer.
"Iran akan selamanya terbatas pada pengayaan uranium pada tingkat rendah yang tidak dapat digunakan secara militer," kata Trump, pada Senin (15/6/2026).
Menurut Trump, kesepakatan tersebut memastikan Iran tidak akan dapat memperkaya uranium melebihi batas yang telah ditentukan.
Namun, ketika ditanya apakah batas tersebut sama seperti dalam perjanjian nuklir era Presiden Barack Obama yang membatasi pengayaan uranium hingga 3,67 persen, Trump tidak menyebut angka spesifik.
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa inti dari perjanjian baru adalah menjamin Iran hanya dapat melakukan pengayaan uranium untuk kebutuhan nonmiliter secara permanen.
"Mereka hanya akan dapat melakukan pengayaan untuk tujuan nonmiliter, selamanya," ujarnya.
Kesepakatan AS-Iran yang diumumkan Trump pada Senin pagi itu menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Trump Umumkan Kesepakatan dengan Iran
Sebelumnya, Trump mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa kedua negara telah berhasil menyelesaikan kesepakatan yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan sekaligus membuka jalan menuju stabilitas kawasan Timur Tengah.
Selain membatasi aktivitas nuklir Iran, kesepakatan tersebut juga mencakup kerja sama antara AS dan Iran untuk menangani persediaan uranium yang telah diperkaya milik Teheran.
Baca juga: Israel Tak Senang dengan Kesepakatan AS-Iran, Tak Mau Mundur dari Lebanon
Trump menyebut kedua negara akan bekerja sama untuk mengekstraksi, mencampur, dan menghilangkan sekitar 12 ton bahan bakar nuklir yang saat ini dimiliki Iran.
Langkah itu mengingatkan pada perjanjian nuklir tahun 2015 yang disepakati pada masa Presiden Obama.
Dalam kesepakatan tersebut, sekitar 97 persen stok uranium yang telah diperkaya Iran dipindahkan ke Rusia guna mengurangi risiko pengembangan senjata nuklir.
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memiliki mekanisme pengawasan yang sangat ketat untuk memastikan Iran mematuhi seluruh komitmen yang telah disepakati.
"Kami akan memiliki kekuatan inspeksi yang kuat," kata Trump.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TRUUMP-345345.jpg)