4,6 Juta Nyawa Bisa Diselamatkan Jika Indonesia Terapkan Pengurangan Risiko Tembakau
Swedia menjadi contoh nyata bagaimana peralihan dari rokok konvensional ke produk bebas asap berhasil menurunkan prevalensi merokok dan tingkat kemati
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebanyak 4,6 juta nyawa di Indonesia diperkirakan bisa diselamatkan hingga tahun 2060 jika pemerintah mulai mengadopsi pendekatan Pengurangan Risiko Tembakau (Tobacco Harm Reduction).
Fakta ini mencuat dalam peringatan Hari Vape Sedunia, saat Bentoel Group, bagian dari BAT Group, menyerukan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat transisi menuju Dunia Bebas Asap.
Baca juga: Industri Tembakau dalam Tekanan, Gaprindo Minta Tinjau Ulang PP 28/2024
“Kami percaya, menyelamatkan nyawa dari dampak kebiasaan merokok adalah tanggung jawab bersama. Ini bukan sekadar isu kesehatan, tapi isu sosial yang memerlukan kolaborasi lintas sektor,” ujar perwakilan Bentoel Group dalam keterangan resminya, Jumat (30/5/2025).
Pendekatan ini bukan tanpa bukti. Swedia menjadi contoh nyata bagaimana peralihan dari rokok konvensional ke produk bebas asap berhasil menurunkan prevalensi merokok dan tingkat kematian akibat kanker paru-paru.
Selama lebih dari 30 tahun, masyarakat Swedia beralih dari rokok ke snus — produk tembakau oral tradisional — dan kini ke produk seperti vape serta kantong nikotin yang lebih aman karena tidak melalui proses pembakaran.
Prevalensi merokok di Swedia hanya 5,4 persen, terendah di Uni Eropa.
Tingkat kematian akibat kanker paru-paru, bronkus, dan mulut juga paling rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan tersebut.
Berdasarkan studi terbaru, sebanyak 4,6 juta nyawa dapat diselamatkan di Indonesia jika pendekatan serupa diterapkan, disertai dengan akses perawatan kanker paru yang maksimal.
“Jika Swedia bisa, kenapa Indonesia tidak? Ini soal bagaimana kita membuka ruang bagi perokok dewasa yang kesulitan berhenti untuk memiliki alternatif yang lebih aman,” kata seorang peneliti dari sektor kesehatan publik.
Kini, berbagai produk nikotin bebas asap tersedia dan mulai dikenal luas:
- Vape atau rokok elektrik
- Produk tembakau yang dipanaskan (heated tobacco)
- Kantong nikotin (nicotine pouches)
Produk-produk ini tidak membakar tembakau, dan oleh karena itu menghasilkan zat berbahaya dalam jumlah jauh lebih kecil dibandingkan asap rokok konvensional.
Negara-negara seperti Jepang, Inggris, Selandia Baru, dan Amerika Serikat telah melihat penurunan signifikan dalam jumlah perokok setelah mengadopsi pendekatan ini.
Sebagai bagian dari inisiatif global, BAT Group baru-baru ini meluncurkan platform Omni™, tempat publik dapat mengakses data, riset ilmiah, dan bukti mengenai efektivitas pendekatan Pengurangan Risiko Tembakau.
Baca juga: Wamenperin Ungkap Pembatalan Wacana Kemasan Polos, Ini Respons Asosiasi Petani Tembakau
“Regulasi progresif yang memberikan akses pada produk bebas asap untuk perokok dewasa dapat mempercepat penurunan prevalensi merokok dan dampak kesehatannya,” ujar Kingsley Wheaton, Chief Corporate Officer BAT Group.
Namun ia juga menegaskan pentingnya standar yang tinggi, pencegahan akses oleh anak di bawah umur, serta penegakan hukum yang ketat agar implementasinya tidak berdampak negatif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pemerintah-rencana-kenaikan-tarif-cukai-hasil-tembakau_20231227_184818.jpg)