Vaksin TBC
Menkes RI Pimpin Pertemuan Tingkat Tinggi di WHO Jenewa, Bahas Soal Vaksin TBC
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, pimpin pertemuan tingkat tinggi di kantor pusat WHO di Jenewa membahas pengembangan vaksin TBC.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, pimpin pertemuan tingkat tinggi The Third High-Level Meeting of the TB Vaccine Accelerator Council (TB VAC) di kantor pusat Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, Jenewa.
Menkes didampingi Co-Chair, Dr. Mariângela Simão, Sekretaris Bidang Pengawasan Kesehatan dan Lingkungan Brasil.
Baca juga: Benarkah Uji klinis Vaksin TBC Bagian dari Konspirasi Global? Ini Kata Kemenkes
Pertemuan ini untuk mengevaluasi kemajuan global dalam mempercepat pengembangan vaksin Tuberkulosis (TBC) dan merumuskan strategi ke depan.
Pertemuan ini dihadiri oleh para pemimpin dan pejabat tinggi dari berbagai negara dan organisasi global.
Termasuk Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Filipina, dan Vietnam, serta perwakilan dari Global Fund, UNITAID, Wellcome Trust, EIB, Gates Foundation, Stop TB Partnership, Gavi, Bank Dunia, dan WHO.
Baca juga: Menkes Sebut Uji Klinis Vaksin TBC Melibatkan UI dan UNPAD, Target Selesai 2028
TB VAC pertama kali diluncurkan pada Sidang Umum PBB ke-78 tahun 2023 sebagai forum kolaboratif antarnegara dan mitra global untuk mempercepat inovasi vaksin TBC.
Hingga saat ini, terdapat 15 kandidat vaksin TBC dalam tahap uji klinis, termasuk 6 di fase 3.

Ini menunjukkan kemajuan signifikan, namun tantangan masih besar, terutama dalam kesiapan sistem dan pendanaan.
Dalam sambutannya, Budi menyampaikan komitmen aktif Indonesia dalam riset dan pengembangan vaksin TBC.
Melalui berbagai kemitraan internasional diantara uji klinis vaksin TB bersama Gates Foundation dan GSK, dengan lebih dari 2.000 peserta dari Indonesia.
Selain itu, Budi juga menyebutkan adanya persiapan uji klinis vaksin dengan perusahaan vaksin CanSino dan PT Etana, serta kolaborasi pengembangan benih vaksin protein rekombinan oleh Lipotek dan PT Biofarma.
Ia menekankan bahwa strategi vaksin TBC harus disesuaikan dengan kebutuhan tiap negara.
“Ada negara yang fokus pada vaksin, tapi ada juga yang lebih membutuhkan peningkatan diagnostik atau pengobatan. Maka strategi harus fleksibel dan kontekstual,” ungkapnya dilansir dari keterangan resmi di website Kemenkes, Rabu (28/5/2025).
Pertemuan ini juga menekankan pentingnya integrasi agenda vaksin TBC dengan sistem kesehatan nasional dan cakupan kesehatan semesta (UHC).
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.