Jumat, 29 Agustus 2025

Kekurangan Zat Besi Bisa Pengaruhi Kecerdasan Anak dan Bikin Lesu, Ini Imbauan Dokter

Defisiensi zat besi masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Ini bisa berdampak terhadap kecerdasan anak.

freepik
ZAT BESI DAN KECERDASAN - Ilustrasi cara bentuk kreativitas dan kecerdasan anak Defisiensi zat besi masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Ini bisa berdampak terhadap kecerdasan anak. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Defisiensi zat besi masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. 

Kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus karena dapat mengganggu perkembangan kognitif serta pertumbuhan anak secara optimal.

Baca juga: Asmirandah Rutin Pantau Nutrisi Anak, Zat Besi Jadi Prioritas

Data menunjukkan satu dari tiga anak di Indonesia berisiko mengalami kekurangan zat besi akibat kurangnya konsumsi makanan yang kaya akan zat gizi tersebut. 

Bahkan, survei mengungkap 50 persen ibu belum mengetahui bahwa kekurangan zat besi bisa berdampak terhadap kecerdasan anak.

Dokter Spesialis Anak, dr. Melia Yunita, MSc, SpA, menjelaskan lima tahun pertama kehidupan anak merupakan periode krusial bagi perkembangan otak. 

Baca juga: Anak Kekurangan Zat Besi Bisa Pengaruhi Prestasi Akademik di Sekolah

Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi yang lengkap, termasuk mikronutrien seperti zat besi, sangat penting untuk mendukung kemampuan kognitif anak.

"Zat besi tidak hanya penting untuk pembentukan hemoglobin dan sistem imun, tetapi juga berperan dalam pertumbuhan otot, serta mendukung koneksi antarsel saraf dan produksi neurotransmitter yang penting dalam proses belajar anak," kata dr. Melia saat ditemui di Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (4/6/2025).

Sayangnya, masih banyak orangtua yang belum memahami pentingnya asupan zat besi dan sering kali mengabaikan gejala defisiensi seperti kelelahan, lesu, penurunan konsentrasi, gangguan perilaku, hingga keterlambatan perkembangan motorik. 

Kondisi ini dikhawatirkan dapat berdampak jangka panjang pada prestasi dan fungsi kognitif anak.

Untuk memenuhi kebutuhan zat besi secara optimal, dr. Melia menyarankan agar anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang mengandung zat besi heme dari sumber hewani seperti daging merah, hati ayam, telur, dan ikan, serta zat besi non-heme dari sumber nabati seperti bayam dan kacang-kacangan.

Jika diperlukan, asupan zat besi juga bisa dilengkapi melalui susu pertumbuhan yang difortifikasi dengan zat besi dan vitamin C guna membantu penyerapan zat besi lebih maksimal, sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Ia pun mengapresiasi langkah SGM Eksplor dan Alfamart yang menghadirkan Kalkulator Zat Besi di aplikasi Alfagift. Kalkulator ini menjadi alat bantu non-medis pertama di Indonesia yang dirancang untuk mengidentifikasi risiko kekurangan zat besi pada anak.

"Selain menjaga pola makan kaya zat besi, orang tua juga penting untuk melakukan deteksi dini risiko defisiensi secara berkala, termasuk berkonsultasi rutin dengan dokter spesialis anak," ujarnya.

Vice President General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto, menambahkan kalkulator ini dapat dimanfaatkan sebagai alat pemantauan awal sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan