Rabu, 22 April 2026

Pemerintah Buka Akses Penanganan Kanker Payudara, Penanganan Pasien Makin Presisi

Kanker payudara kini menjadi salah satu penyakit pemicu kematian di dunia dan juga di Indonesia

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Wahyu Aji
SURYA/HABIBUR ROHMAN  
KAMPANYE CEGAH KANKER PAYUDARA - Peserta menghias manekin dengan berbagai bahan alternatif di kegiatan kampanye peduli kanker payudara di Amphitheatre Mal Pakuwon City Surabaya, Sabtu (18/5/2024). Laporan Global Cancer Observatory tahun 2022 menyatakan, lebih dari 400.000 kasus kanker baru tercatat di Indonesia. 

Sementara itu, pasien dengan mutasi gen BRCA, inovasi melalui terapi target memberikan harapan baru dengan menghambat kemampuan sel kanker memperbaiki diri, sehingga pertumbuhannya dapat dihentikan secara alami.

Untuk tipe kanker payudara yang lebih agresif seperti triple-negative,penelitian yang tengah dikembangkan oleh AstraZeneca berfokus pada kombinasi pendekatan berbasis antibody- drug conjugate (ADC) dan imunoterapi, yang diharapkan dapat membuka harapan baru bagi pasien dengan pilihan pengobatan yang masih terbatas saat ini.

“Pendekatan berbasis sains menjadi fondasi bagi AstraZeneca dalam mengembangkan terapi yang efektif secara klinis dan memberikan nilai nyata bagi pasien."

"Inovasi ilmiah yang tepat sasaran adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang harapan bagi setiap pasien kanker,” kata Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia dikutip Selasa, 14 Oktober 2025.

Dia menambahkan, kemajuan sains dalam penanganan kanker payudara ini akan semakin bernilai jika diiringi dengan akses yang merata bagi seluruh pasien.

Melalui peran aktif pemerintah dalam regulasi, pembiayaan, dan kemitraan lintas sektor, Indonesia berada dalam posisi strategis untuk memastikan pasien kanker payudara dapat menikmati manfaat dari terapi inovatif terkini dan sejajar dengan perkembangan ilmu pengetahuan global.

Hal ini menjadi krusial mengingat kanker payudara adalah kanker yang paling sering diderita wanita di Indonesia dan tetap menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi.

Pihaknya mengapresiasi peran krusial BPOM sebagai regulator kunci di bawah kepemimpinan Profesor Taruna Ikrar, yang secara konsisten mendukung percepatan akses dan registrasi terapi inovatif bagi pasien kanker payudara di Indonesia.

"Terbitnya regulasi BPOM yang mempersingkat jalur reliance menjadi 90 Hari Kerja menjadi bukti komitmen kuat dalam menghadirkan solusi kesehatan yang lebih relevan dan memberikan harapan baru bagi pasien kanker payudara dan keluarganya,” ungkap Esra.

Baca juga: Nunung Penyintas Kanker Payudara, Sebut Ada Obat yang Diminum Seumur Hidup

Terobosan ilmiah dinilai menjadi langkah maju dalam bidang medis, dan memberikan harapan hidup pasien kanker payudara di Indonesia sekaligus mendorong sistem kesehatan yang lebih adil dan merata. (tribunnews/fin)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved