Stunting di Indonesia
Edukasi Gizi oleh Bidan Jadi Langkah Nyata Tekan Angka Stunting di Daerah
peran bidan sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dengan ibu dan keluarga memiliki arti yang sangat strategis.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pencegahan stunting menjadi salah satu agenda prioritas nasional yang tak hanya membutuhkan intervensi medis, tetapi juga edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.
Dalam konteks ini, peran bidan sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dengan ibu dan keluarga memiliki arti yang sangat strategis.
Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Jawa Tengah, Dr Istirochah, S.SiT, Bd, M.Kes, menegaskan pentingnya peran bidan dalam membangun fondasi kesehatan anak sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) — periode yang meliputi masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
“Bidan memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai pendamping utama bagi ibu dan keluarga dalam setiap fase kehidupan anak. Melalui edukasi gizi yang tepat selama masa 1.000 HPK, bidan berperan besar memastikan anak tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing,” ujar Dr. Istirochah saat seminar bertajuk Optimalisasi Peran Bidan dalam 1.000 HPK: Mencegah Stunting dan Mendukung Perkembangan Otak Anak Menuju Indonesia Emas 2045 secara daring, Sabtu (18/10/2025).
Seminar dan pelatihan yang diinisiasi oleh IBI Jawa Tengah, ini bukan hanya menjadi ruang berbagi ilmu, tetapi juga wujud nyata kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem kesehatan ibu dan anak di Indonesia.
Dirinya menjelaskan, pada masa tersebut, pertumbuhan otak dan organ vital anak berkembang pesat, sehingga setiap kekurangan gizi dapat berakibat jangka panjang terhadap kemampuan kognitif dan fisik anak.
Oleh karena itu, bidan tidak hanya berfungsi sebagai pemberi layanan kesehatan, tetapi juga sebagai pendidik gizi dan agen perubahan di tengah masyarakat.
Istirochah menilai melalui kegiatan pelatihan dan seminar edukatif, para bidan dibekali pengetahuan ilmiah dan keterampilan komunikasi efektif untuk mengedukasi ibu hamil serta keluarga tentang pentingnya gizi seimbang dan stimulasi dini.
“Bidan berada di garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dengan pemahaman gizi yang kuat, mereka dapat berperan aktif menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan keluarga,” jelasnya.
Menurutnya, pelatihan semacam ini penting agar bidan dapat menyampaikan informasi gizi berbasis sains dengan cara yang mudah dipahami masyarakat, sekaligus memperkuat fungsi promotif dan preventif dalam sistem kesehatan nasional.
Dalam sesi ilmiah kegiatan tersebut, dr. Farid Agung Rahmadi, MsiMed, SpA, memaparkan pentingnya DHA (Docosahexaenoic Acid) sebagai nutrisi esensial bagi pertumbuhan otak dan sistem saraf anak.
DHA berperan dalam pembentukan struktur sel otak, meningkatkan transmisi sinyal saraf, serta berkontribusi terhadap fungsi kognitif dan daya belajar anak.
“Asupan DHA yang cukup sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan berdampak besar terhadap kecerdasan anak di masa depan,” jelas dr. Farid.
Ia menekankan bahwa edukasi gizi yang diberikan bidan kepada ibu hamil dapat menjadi intervensi kunci untuk memastikan kebutuhan nutrisi otak terpenuhi sejak dini.
Dengan demikian, risiko stunting maupun gangguan perkembangan kognitif dapat ditekan secara signifikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dr-Istirochah.jpg)